Sabat : Ritme Allah Bagi Umat-Nya

Selasa, 10 Februari 2026
Sabat : Ritme Allah Bagi Umat-Nya 
Bacaan Alkitab : Keluaran 35 : 1 – 3

Setelah perjanjian diperbarui di Gunung Sinai, Musa mengumpulkan seluruh umat Israel untuk menyampaikan kembali firman Tuhan (Kel. 35:1). Menurut C.F Keil (ahli perjanjian lama), tindakan ini menegaskan bahwa perintah Allah—khususnya mengenai Sabat—bersifat mengikat bagi seluruh umat, bukan hanya bagi pemimpin. Penempatan perintah mengenai Sabat ditempatkan di awal instruksi menegaskan fungsi sabat sebagai hukum dasar perjanjian yang mengatur seluruh kehidupan Israel, bahkan sebelum pembangunan Kemah Suci dimulai.  Sabat bukan larangan terhadap kerja, melainkan penetapan Allah tentang ritme hidup manusia: enam hari bekerja dan satu hari dikuduskan sepenuhnya bagi Tuhan (Kel. 35:2). Ancaman hukuman atas pelanggaran sabat menunjukkan keseriusan hukum ini—melanggarnya berarti menolak otoritas Allah sebagai Pencipta dan Raja umat perjanjian. Sabat menjadi pengakuan praktis bahwa hidup Israel berada dalam pemeliharaan Allah, bukan di bawah produktivitas manusia. Larangan menyalakan api pada hari Sabat (Kel. 35:3) memberi suatu contoh konkret penghentian aktivitas sehari-hari.

Perintah tentang sabat berakar dalam sepuluh hukum Taurat (Kel. 20:8), yang menjadi puncak penghormatan kepada Allah. Sabat menjadi ciri khas rohani bangsa Israel yang membedakan dengan pola ibadah bangsa-bangsa lainnya. Sabat menegaskan bahwa inti penyembahan bukan kemegahan bangunan, melainkan penyerahan diri penuh kepada pemeliharaan Allah. Dalam terang perjanjian baru, Sabat digenapi di dalam Kristus. Yesus menawarkan kelegaan sejati, bagi yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28). Karena itu bagi orang Kristen, sabat bukan sekedar aturan hari tetapi menekankan ritme istirahat dan penyerahan diri – hidup yang berhenti dari kebergantungan pada produktivitas manusia dan bersandar penuh pada Kristus dalam seluruh aspek kehidupan.

Saudara, pembacaan firman Tuhan hari ini masih relevan dengan kehidupan rohani orang Kristen saat ini. Dalam kesibukan manusia modern baik dalam pekerjaan, sekolah, keluarga, pelayanan dalam segala bidang kehidupan. Sabat menjadi batas ilahi yang mengajar umat untuk taat, percaya, dan menghormati Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Pola 6 hari kerja dan 1 hari diserahkan sepenuhnya bagi Allah, menjadi suatu yang asing bagi masyarakat modern saat ini. Namun, melalui sabat orang Kristen diajarkan untuk mengingat keterbatasan manusia dalam mengingat Allah. Sehingga, diperlukan 1 hari untuk menghentikan semua produktivitas dan memfokuskan diri pada Allah. Sabat dapat dimanfaatkan untuk merenungkan kembali kebaikan-Nya, merayakan anugerah-Nya dalam ibadah serta menyatakan kasih kepada sesama melalui pelayanan yang dilakukan dalam komunitas rohani. Oleh karena itu, mari senantiasa mengevaluasi sikap hati kita di hadapan-Nya. Sebab tanpa sabat maka aktivitas kita dapat mengaburkan ritme hidup yang ditetapkan Allah bagi kita serta menjadikan kita lupa akan Allah. Mari dengan rendah hati, meminta pertolongan kepada Allah agar membimbing kita untuk hidup sesuai dengan ritme hidup yang telah Allah tetapkan bagi kita.

Saudara, mari sejenak kita merenungkan firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah kita telah sepenuhnya menghormati waktu yang ditetapkan Allah untuk istirahat dan memfokuskan diri kepada-Nya? Kiranya Allah menolong kita untuk hidup setia dalam ritme yang telah Ia tetapkan, sehingga melalui kelegaan di dalam Kristus, hidup kita memuliakan Dia. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan