Sabat : Ritme Allah Bagi Umat-Nya
Sabat : Ritme Allah Bagi Umat-Nya
Setelah
perjanjian diperbarui di Gunung Sinai, Musa mengumpulkan seluruh umat Israel
untuk menyampaikan kembali firman Tuhan (Kel. 35:1). Menurut C.F Keil (ahli
perjanjian lama), tindakan ini menegaskan bahwa perintah Allah—khususnya
mengenai Sabat—bersifat mengikat bagi seluruh umat, bukan hanya bagi pemimpin.
Penempatan perintah mengenai Sabat ditempatkan di awal instruksi menegaskan
fungsi sabat sebagai hukum dasar perjanjian yang mengatur seluruh kehidupan
Israel, bahkan sebelum pembangunan Kemah Suci dimulai. Sabat bukan larangan terhadap kerja, melainkan
penetapan Allah tentang ritme hidup manusia:
enam hari bekerja dan satu hari dikuduskan sepenuhnya bagi Tuhan (Kel. 35:2).
Ancaman hukuman atas pelanggaran sabat menunjukkan keseriusan hukum
ini—melanggarnya berarti menolak otoritas Allah sebagai Pencipta dan Raja umat
perjanjian. Sabat menjadi pengakuan praktis bahwa hidup Israel berada dalam
pemeliharaan Allah, bukan di bawah produktivitas manusia. Larangan menyalakan
api pada hari Sabat (Kel. 35:3) memberi suatu contoh konkret penghentian
aktivitas sehari-hari.
Perintah tentang
sabat berakar dalam sepuluh hukum Taurat (Kel. 20:8), yang menjadi puncak
penghormatan kepada Allah. Sabat menjadi ciri khas rohani bangsa Israel yang membedakan dengan pola ibadah
bangsa-bangsa lainnya. Sabat menegaskan bahwa inti penyembahan bukan kemegahan
bangunan, melainkan penyerahan diri penuh kepada pemeliharaan Allah. Dalam terang
perjanjian baru, Sabat digenapi di dalam Kristus. Yesus menawarkan kelegaan
sejati, bagi yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28). Karena itu bagi orang Kristen,
sabat bukan sekedar aturan hari tetapi menekankan ritme istirahat dan
penyerahan diri – hidup yang berhenti dari kebergantungan pada produktivitas
manusia dan bersandar penuh pada Kristus dalam seluruh aspek kehidupan.
Saudara,
pembacaan firman Tuhan hari ini masih relevan dengan kehidupan rohani orang
Kristen saat ini. Dalam kesibukan manusia modern baik dalam pekerjaan, sekolah,
keluarga, pelayanan dalam segala bidang kehidupan. Sabat menjadi batas ilahi
yang mengajar umat untuk taat, percaya, dan menghormati Allah dalam seluruh
aspek kehidupan. Pola 6 hari kerja dan 1 hari diserahkan sepenuhnya bagi Allah,
menjadi suatu yang asing bagi masyarakat modern saat ini. Namun, melalui sabat orang
Kristen diajarkan untuk mengingat keterbatasan manusia dalam mengingat Allah.
Sehingga, diperlukan 1 hari untuk menghentikan semua produktivitas dan
memfokuskan diri pada Allah. Sabat dapat dimanfaatkan untuk merenungkan kembali
kebaikan-Nya, merayakan anugerah-Nya dalam ibadah serta menyatakan kasih kepada
sesama melalui pelayanan yang dilakukan dalam komunitas rohani. Oleh karena
itu, mari senantiasa mengevaluasi sikap hati kita di hadapan-Nya. Sebab tanpa
sabat maka aktivitas kita dapat mengaburkan ritme hidup yang ditetapkan Allah bagi
kita serta menjadikan kita lupa akan Allah. Mari dengan rendah hati, meminta
pertolongan kepada Allah agar membimbing kita untuk hidup sesuai dengan ritme
hidup yang telah Allah tetapkan bagi kita.
Saudara,
mari sejenak kita merenungkan firman yang baru saja kita dengar. Saudara,
apakah kita telah sepenuhnya menghormati waktu yang ditetapkan Allah untuk
istirahat dan memfokuskan diri kepada-Nya? Kiranya Allah menolong kita untuk
hidup setia dalam ritme yang telah Ia tetapkan, sehingga melalui kelegaan di
dalam Kristus, hidup kita memuliakan Dia. (TH)

Komentar
Posting Komentar