Persembahan : Bukan Ritual, Melainkan Kasih

Kamis, 5 Februari 2026
Persembahan : Bukan Ritual, Melainkan Kasih 
Bacaan Alkitab : Keluaran 34 : 26

          Dalam Keluaran 34:26, Allah memerintahkan Musa agar bangsa Israel membawa buah sulung dari tanah mereka sebagai persembahan kepada-Nya  (ayat 26a) yaitu persembahan dari hasil pertama panen mereka. Perintah ini bukan sekedar soal ritual, melainkan sikap hati umat Tuhan. Buah sulung bukan hanya buah yang pertama kali dipanen tetapi yang terbaik dari hasil tanah, yang dengan sengaja dipersembahkan kepada TUHAN. Melalui persembahan ini, Allah mengajar umat-Nya untuk  mengakui bahwa segala sesuatu yang mereka miliki berasal Tuhan. Dengan memberikan yang pertama dan terbaik, bangsa Israel menyatakan iman bahwa hidup mereka ada dalam pemeliharaan Allah. Persembahan sulung menjadi ungkapan syukur, bukan karena mereka berkelimpahan semata, tetapi karena mereka percaya kepada Allah yang setia mencukupi.

Pada ayat 26b, Allah juga memberikan larangan untuk tidak memasak anak kambing dalam susu induknya, suatu praktik yang lazim dilakukan oleh bangsa-bangsa asing ketika mempersembahkan korban kepada dewa-dewa mereka. Praktik ini dilakukan sebagai tindakan magis untuk memanggil dewa kesuburan, dengan harapan hasil panen mereka terjamin. Melalui larangan ini, Allah menegaskan bahwa bangsa Israel tidak perlu mencari jaminan berkat melalui ritual magis. Meskipun mereka memberikan buah sulung, mereka tidak perlu takut akan kekurangan. Allah sendirilah yang menjadi jaminan pemeliharaan hidup mereka, bukan ritual, bukan praktik kafir, melainkan kesetiaan Allah kepada umat-Nya. Selain itu, tindakan mempersembahkan ini menjadikan bangsa asing mengerti bahwa Allah yang disembah Israel berbeda dengan yang mereka sembah.

Saudara, persembahan merupakan tindakan memberi atas dasar kasih dan ungkapan syukur kepada Allah. Persembahan bukanlah usaha untuk memanipulasi Allah, seolah-olah dengan memberi persembahan Allah wajib memberkati. Persembahan juga bukan transaksi –“aku memberi supaya engkau memberi” – dan bukan pula lahir dari ketakutan, seperti praktik ibadah bangsa-bangsa lain yang mempersembahkan korban karena menganggap dewa-dewa mudah murka. Kita perlu mengingat bahwa sumber berkat dalam kehidupan kita adalah Allah saja dan bukan teman, orang tua, atasan, dll. Hal ini bukan tentang berapa banyak persembahan yang kita beri tetapi tentang kesadaran bahwa Allah adalah Sang Sumber sejati. Dengan demikian, persembahan yang kita berikan kepada Allah perlu dimaknai dengan cara yang berbeda sebab persembahan lahir dari iman akan pemeliharaan Allah, ketaatan kepada perintah-Nya serta kasih kepada Allah. Oleh karena itu, mari kembali mengevaluasi sikap hati kita di hadapan Allah terutama saat memberi persembahan baik harta, waktu, tenaga dan keterampilan yang kita miliki. Jika masih ada hati yang mengharapkan balasan atau merasa berat karena menganggap bahwa persembahan adalah “beban” dalam hidup kita. Maka, mari berdoa dan mintalah Roh kudus semakin memurnikan kasih kita kepada Allah.

Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, bagaimana sikap hati kita saat mempersembahkan waktu, harta dan keterampilan bagi Allah? Jika belum sepenuh hati, maka mari datang kepada Allah dan mintalah agar Ia semakin menumbuhkan kasih kepada-Nya lebih lagi. Agar seluruh persembahan kita semakin berkenan dan menjadi dupa yang harum di hadapan-Nya. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan