Persembahan : Bukan Ritual, Melainkan Kasih
Persembahan : Bukan Ritual, Melainkan Kasih
Dalam Keluaran 34:26, Allah memerintahkan Musa agar bangsa
Israel membawa buah sulung dari tanah mereka sebagai persembahan kepada-Nya (ayat 26a) yaitu persembahan dari hasil
pertama panen mereka. Perintah ini bukan
sekedar soal ritual, melainkan sikap hati umat Tuhan. Buah sulung bukan hanya
buah yang pertama kali dipanen tetapi yang terbaik dari hasil tanah, yang
dengan sengaja dipersembahkan kepada TUHAN. Melalui persembahan ini, Allah
mengajar umat-Nya untuk mengakui bahwa
segala sesuatu yang mereka miliki berasal Tuhan. Dengan memberikan yang pertama
dan terbaik, bangsa Israel menyatakan iman bahwa hidup mereka ada dalam
pemeliharaan Allah. Persembahan sulung menjadi ungkapan syukur, bukan karena
mereka berkelimpahan semata, tetapi karena mereka percaya kepada Allah yang
setia mencukupi.
Pada ayat
26b, Allah juga memberikan larangan untuk tidak memasak anak kambing dalam susu
induknya, suatu praktik yang lazim dilakukan oleh bangsa-bangsa asing ketika
mempersembahkan korban kepada dewa-dewa mereka. Praktik ini dilakukan sebagai
tindakan magis untuk memanggil dewa kesuburan, dengan harapan hasil panen
mereka terjamin. Melalui larangan ini, Allah menegaskan bahwa bangsa Israel
tidak perlu mencari jaminan berkat melalui ritual magis. Meskipun mereka
memberikan buah sulung, mereka tidak perlu takut akan kekurangan. Allah
sendirilah yang menjadi jaminan pemeliharaan hidup mereka, bukan ritual, bukan
praktik kafir, melainkan kesetiaan Allah kepada umat-Nya. Selain itu, tindakan
mempersembahkan ini menjadikan bangsa asing mengerti bahwa Allah yang disembah
Israel berbeda dengan yang mereka sembah.
Saudara,
persembahan merupakan tindakan memberi atas dasar kasih dan ungkapan syukur
kepada Allah. Persembahan bukanlah usaha untuk memanipulasi Allah, seolah-olah
dengan memberi persembahan Allah wajib memberkati. Persembahan juga bukan
transaksi –“aku memberi supaya engkau memberi” – dan bukan pula lahir dari
ketakutan, seperti praktik ibadah bangsa-bangsa lain yang mempersembahkan
korban karena menganggap dewa-dewa mudah murka. Kita perlu mengingat bahwa
sumber berkat dalam kehidupan kita adalah Allah saja dan bukan teman, orang
tua, atasan, dll. Hal ini bukan tentang berapa banyak persembahan yang kita
beri tetapi tentang kesadaran bahwa Allah adalah Sang Sumber sejati. Dengan
demikian, persembahan yang kita berikan kepada Allah perlu dimaknai dengan cara
yang berbeda sebab persembahan lahir dari iman akan pemeliharaan Allah,
ketaatan kepada perintah-Nya serta kasih kepada Allah. Oleh karena itu, mari
kembali mengevaluasi sikap hati kita di hadapan Allah terutama saat memberi
persembahan baik harta, waktu, tenaga dan keterampilan yang kita miliki. Jika
masih ada hati yang mengharapkan balasan atau merasa berat karena menganggap
bahwa persembahan adalah “beban” dalam hidup kita. Maka, mari berdoa dan
mintalah Roh kudus semakin memurnikan kasih kita kepada Allah.
Saudara,
mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara,
bagaimana sikap hati kita saat mempersembahkan waktu, harta dan keterampilan
bagi Allah? Jika belum sepenuh hati, maka mari datang kepada Allah dan mintalah
agar Ia semakin menumbuhkan kasih kepada-Nya lebih lagi. Agar seluruh
persembahan kita semakin berkenan dan menjadi dupa yang harum di hadapan-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar