Perjumpaan yang Mengubahkan
Perjumpaan yang Mengubahkan
Saudara yang terkasih, dalam Keluaran 34:28-31 mengisahkan
tentang Musa kembali naik ke gunung untuk bertemu dengan Allah. Ia tinggal
empat puluh hari empat puluh malam, tidak makan dan tidak minum, dan di sana ia
berbicara langsung dengan Tuhan. Ketika Musa turun dari gunung, Alkitab
mencatat sesuatu yang tidak biasa: kulit wajahnya bercahaya, karena ia
telah berbicara dengan TUHAN. Menariknya, Musa sendiri tidak menyadari
perubahan itu. Ia tidak berusaha membuat wajahnya bercahaya, dan ia juga tidak
berniat untuk menampilkan dirinya secara istimewa. Perubahan itu terjadi secara
alami sebagai akibat dari perjumpaannya dengan Allah. Ini menunjukkan kepada
kita sebuah kebenaran rohani yang sangat penting: perjumpaan sejati dengan
Tuhan selalu menghasilkan perubahan, meskipun kita tidak selalu menyadarinya.
Cahaya di wajah Musa bukan sekadar fenomena fisik, tetapi
melambangkan perubahan batin. Musa bukan hanya menerima hukum Tuhan, tetapi
mengalami hadirat-Nya. Dari hadirat itulah lahir transformasi. Alkitab
mengajarkan bahwa mengenal Allah tidak pernah berhenti pada pengetahuan, tetapi
selalu berujung pada pembaruan hidup. Seseorang bisa memiliki banyak informasi
rohani, rajin ibadah, bahkan aktif melayani, tetapi tanpa perjumpaan dengan
Tuhan, hidupnya bisa tetap sama. Kemudian, orang-orang Israel segera melihat
bahwa ada sesuatu yang berbeda pada Musa. Mereka bahkan merasa takut mendekat.
Hal ini juga menunjukkan bahwa perubahan sejati tidak perlu diumumkan atau
dipamerkan. Perubahan yang lahir dari hadirat Allah akan terlihat dengan
sendirinya melalui sikap, cara bicara, cara berpikir, dan cara memperlakukan
sesama.
Renungan ini sangat relevan bagi kita hari ini. Di tengah
kesibukan pelayanan, rutinitas ibadah, dan limpahnya bahan rohani, kita perlu
bertanya dengan jujur: apakah semua itu sungguh membawa kita pada perjumpaan
dengan Tuhan? Ataukah kita hanya menjalankan aktivitas keagamaan tanpa
transformasi? Tanda utama seseorang yang benar-benar mengenal Allah bukanlah
pengalaman spektakuler, melainkan perubahan karakter yang konsisten. Ketika
seseorang berjumpa dengan Tuhan, ia akan semakin rendah hati, lebih mengasihi,
lebih sabar, dan lebih peka terhadap kehendak Allah. Musa turun dari gunung
dengan wajah bercahaya. Kita mungkin tidak memiliki cahaya di wajah, tetapi
dunia seharusnya melihat cahaya Kristus melalui hidup kita. Sebab perjumpaan
yang sejati dengan Tuhan tidak hanya mengubah pengalaman rohani, tetapi mengubah
seluruh cara kita hidup.
Saudara, perubahan apa yang paling nyata dalam
hidup saya sejak saya mengenal Tuhan? Apakah ada pertumbuhan dalam kasih,
kesabaran, kerendahan hati, dan ketaatan? Kiranya setiap perjumpaan kita dengan
Tuhan tidak berhenti di altar, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Biarlah dunia melihat bukan sekadar wajah yang bercahaya, melainkan hidup yang
sungguh diubahkan oleh kasih dan kebenaran-Nya. (RT)

Komentar
Posting Komentar