Memberi yang Lahir dari Pengalaman dengan Tuhan

Jumat, 13 Februari 2026
Memberi yang Lahir dari Pengalaman dengan Tuhan
Bacaan Alkitab : Keluaran 35:21–22


Keluaran 35:21–22 mengajak kita melihat sebuah momen yang sederhana, namun sarat makna: umat Tuhan datang membawa persembahan dengan hati yang tergerak. Ayat ini tidak dimulai dengan daftar jumlah, tidak pula menekankan nilai persembahan, melainkan menyoroti respons hati umat setelah mendengar perintah Tuhan. Alkitab mencatat bahwa yang datang adalah setiap orang yang tergerak hatinya dan setiap orang yang terdorong jiwanya—sebuah gambaran bahwa memberi lahir dari kedalaman batin, bukan dari tekanan luar. Bagian ini muncul setelah bangsa Israel mengalami perjalanan rohani yang tidak mudah: pembebasan dari Mesir, kegagalan karena anak lembu emas, dan pemulihan relasi dengan Tuhan. Dalam konteks itu, memberi bukan sekadar tindakan religius, tetapi respons terhadap pengalaman nyata bersama Allah yang setia dan penuh anugerah. Melalui ayat ini, kita diajak untuk tidak terburu-buru melihat persembahan sebagai kewajiban ibadah semata. Keluaran 35:21–22 justru menolong kita memahami bahwa persembahan adalah ekspresi relasicara umat menyatakan siapa Tuhan bagi mereka. Dari sinilah renungan ini mengajak kita menggali lebih dalam: bukan seberapa banyak yang kita beri, tetapi apa yang menggerakkan hati kita untuk memberi.

Tuhan tidak sedang kekurangan apa pun. Dia tidak membutuhkan emas, perak, atau persembahan umat-Nya. Justru sebaliknya, Tuhan menyediakan manusia untuk memberi, karena memberi adalah ruang di mana umat mengekspresikan pengalaman mereka bersama Tuhan. Persembahan dalam bagian ini bukan sekadar soal “mendukung ibadah” atau “membangun tempat ibadah.” Persembahan menjadi bahasa hati—cara umat berkata, “Tuhan, kami mengenal-Mu, kami bersyukur, dan kami mau terlibat dalam karya-Mu.” Tuhan memberi ruang bagi umat untuk mengekspresikan relasi itu, bukan menekannya. Menariknya, Alkitab tidak menyoroti jumlah persembahan, melainkan sikap hati yang rela. Perintah Tuhan membuka kesempatan, tetapi respons umat lahir dari pengalaman pribadi mereka dengan Allah. Di sinilah kita belajar bahwa persembahan sejati tidak dimulai dari kewajiban, melainkan dari pengenalan akan Tuhan.

Saudara, apakah memberi masih kita pahami sebagai rutinitas rohani, ataukah sebagai ekspresi relasi? Keluaran 35:21–22 membawa kita pada satu kesadaran penting: Tuhan tidak pernah memaksa umat-Nya untuk memberi. Perintah itu ada, tetapi responsnya lahir dari hati yang telah mengalami Tuhan. Bangsa Israel tidak memberi karena takut, juga bukan karena ingin dilihat rohani, melainkan karena mereka telah berjalan bersama Allah—melihat kuasa-Nya, merasakan pemeliharaan-Nya, dan hidup dalam anugerah-Nya. Kiranya kita belajar memberi bukan karena dorongan dari luar, melainkan karena hati kita telah disentuh oleh kasih Tuhan. Sebab ketika relasi dengan Allah menjadi pusat, memberi tidak lagi terasa berat—melainkan menjadi ungkapan syukur yang tulus dan sukacita yang mendalam. (FS)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan