Memberi yang Lahir dari Pengalaman dengan Tuhan
Memberi yang Lahir dari Pengalaman dengan Tuhan
Bacaan Alkitab : Keluaran 35:21–22
Keluaran 35:21–22 mengajak kita melihat
sebuah momen yang sederhana, namun sarat makna: umat Tuhan datang membawa persembahan dengan hati yang
tergerak. Ayat ini tidak dimulai dengan daftar jumlah, tidak pula menekankan
nilai persembahan, melainkan menyoroti respons hati umat setelah mendengar perintah Tuhan. Alkitab mencatat bahwa yang
datang adalah setiap orang yang tergerak hatinya dan setiap orang yang terdorong jiwanya—sebuah
gambaran bahwa memberi lahir dari kedalaman batin, bukan dari tekanan luar. Bagian
ini muncul setelah bangsa Israel mengalami perjalanan rohani yang tidak mudah:
pembebasan dari Mesir, kegagalan karena anak lembu emas, dan pemulihan relasi
dengan Tuhan. Dalam konteks itu, memberi bukan sekadar tindakan religius,
tetapi respons terhadap pengalaman nyata bersama Allah yang setia dan penuh
anugerah. Melalui ayat ini, kita diajak untuk tidak terburu-buru melihat
persembahan sebagai kewajiban ibadah semata. Keluaran 35:21–22 justru menolong
kita memahami bahwa persembahan adalah ekspresi relasi—cara umat menyatakan siapa Tuhan bagi mereka. Dari sinilah
renungan ini mengajak kita menggali lebih dalam: bukan seberapa banyak yang
kita beri, tetapi apa yang menggerakkan hati kita untuk memberi.
Tuhan tidak sedang kekurangan apa pun.
Dia tidak membutuhkan emas, perak, atau persembahan umat-Nya. Justru
sebaliknya, Tuhan menyediakan manusia
untuk memberi, karena memberi adalah ruang di mana umat mengekspresikan
pengalaman mereka bersama Tuhan. Persembahan dalam bagian ini bukan sekadar
soal “mendukung ibadah” atau “membangun tempat ibadah.” Persembahan menjadi bahasa hati—cara umat berkata, “Tuhan, kami mengenal-Mu, kami bersyukur,
dan kami mau terlibat dalam karya-Mu.” Tuhan memberi ruang bagi umat
untuk mengekspresikan relasi itu, bukan menekannya. Menariknya, Alkitab tidak
menyoroti jumlah persembahan, melainkan sikap
hati yang rela. Perintah Tuhan membuka kesempatan, tetapi respons umat
lahir dari pengalaman pribadi mereka dengan Allah. Di sinilah kita belajar
bahwa persembahan sejati tidak dimulai dari kewajiban, melainkan dari
pengenalan akan Tuhan.
Saudara, apakah memberi masih kita pahami sebagai
rutinitas rohani, ataukah sebagai ekspresi relasi?
Keluaran 35:21–22 membawa
kita pada satu kesadaran penting: Tuhan tidak pernah memaksa umat-Nya untuk
memberi. Perintah itu ada, tetapi responsnya lahir dari hati yang telah
mengalami Tuhan. Bangsa Israel tidak memberi karena takut, juga bukan karena
ingin dilihat rohani, melainkan karena mereka telah berjalan bersama
Allah—melihat kuasa-Nya, merasakan pemeliharaan-Nya, dan hidup dalam
anugerah-Nya. Kiranya
kita belajar memberi bukan karena dorongan dari luar, melainkan karena hati
kita telah disentuh oleh kasih Tuhan. Sebab ketika relasi dengan Allah menjadi
pusat, memberi tidak lagi terasa berat—melainkan menjadi ungkapan syukur yang
tulus dan sukacita yang mendalam. (FS)

Komentar
Posting Komentar