Sabtu, 14 Februari 2026
Memberi sebagai Respons Iman Bacaan Alkitab : Keluaran 35 : 2
Keluaran 35:23 bukan sekadar catatan
inventaris bahan bangunan. Ayat ini adalah potret teologis tentang bagaimana umat Allah merespons kehadiran dan panggilan-Nya. Setelah perjanjian
diperbarui, Tuhan memerintahkan pembangunan Kemah Suci—tempat Ia berkenan diam
di tengah umat. Frasa “setiap orang yang mempunyai” mengandung
makna penting: Allah tidak menuntut keseragaman, melainkan kesetiaan.Pemberian
umat tidak ditentukan oleh ukuran yang sama, tetapi oleh kepemilikan yang
nyata. Dalam perspektif teologis, ini menegaskan bahwa relasi dengan Allah
bukan dibangun di atas tuntutan yang memberatkan, melainkan di atas respons iman yang jujur terhadap anugerah.
Memberi, dalam konteks ini, bukanlah tindakan kompetitif. Tidak ada hierarki spiritual yang dibangun dari jenis atau nilai
persembahan. Seluruh umat bergerak dalam satu perjalanan perjanjian yang sama.
Persembahan menjadi partisipasi dalam karya Allah, bukan sarana untuk
meninggikan diri. Dengan demikian, memberi adalah ekspresi koinonia—persekutuan
umat dengan Allah dan sesama—bukan arena pembuktian kesalehan pribadi. Lebih
jauh, persembahan tidak diposisikan sebagai iuran keanggotaan umat perjanjian.
Status sebagai umat Allah telah diberikan oleh anugerah-Nya terlebih dahulu.
Persembahan justru muncul sebagai ruang teologis di mana iman diungkapkan. Apa
yang dibawa umat mencerminkan bagaimana mereka memahami Allah yang telah
membebaskan mereka dari perbudakan. Memberi menjadi respons syukur, bukan alat
transaksi. Secara teologis, Kemah Suci dibangun dari keberagaman pemberian
umat, sama seperti kehidupan iman dibentuk dari keberagaman pengalaman rohani.
Allah berdiam bukan di tengah keseragaman, melainkan di tengah ketaatan yang
lahir dari hati yang rela. Inilah paradoks iman: Allah tak terbatas memilih untuk melibatkan manusia
yang terbatas, agar umat belajar bahwa hidup bersama-Nya adalah perjalanan,
bukan pencapaian instan.
Keluaran 35:23 akhirnya mengarahkan kita pada
refleksi yang lebih dalam: bukan seberapa besar yang kita berikan, tetapi
sejauh mana pemberian itu merupakan respons iman terhadap Allah yang lebih
dahulu memberi diri-Nya. Di situlah tindakan “memberi” menemukan makna
sejatinya—sebagai tindakan teologis yang mengikat kehidupan umat dengan
kehadiran Allah yang kudus. Pada akhirnya, Keluaran 35:23 mengundang kita untuk
memeriksa bukan isi tangan kita, melainkan sikap hati kita. Allah tidak sedang
menghitung bahan, Ia sedang membentuk umat. Di hadapan Allah yang telah lebih
dahulu hadir, membebaskan, dan berjanji diam di tengah umat-Nya, memberi
menjadi bahasa iman—sebuah pengakuan diam-diam bahwa hidup ini sepenuhnya
bergantung pada anugerah.Dalam perjalanan imanku, apakah memberi telah menjadi partisipasi dalam karya Allah. atau masih kupahami sebagai transaksi spiritual? Ketika memberi lahir dari iman, persembahan tidak lagi
terasa berat, tidak juga menjadi ajang pembuktian. Ia menjadi langkah kecil
namun nyata dalam perjalanan panjang bersama Allah. Di sanalah iman dibentuk:
bukan melalui kompetisi rohani, tetapi melalui ketaatan sederhana yang
bersumber dari hati yang telah disentuh oleh kasih-Nya. (FS)
Komentar
Posting Komentar