Masih Dipakai oleh Tuhan
Masih Dipakai oleh Tuhan
Bacaan Alkitab : Keluaran 35:27–28
Setelah
peristiwa tragis anak lembu emas, bangsa Israel berada dalam keadaan rohani
yang rusak. Mereka telah gagal memelihara kekudusan, dan para pemimpin pun
tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab atas kejatuhan itu. Di tengah
konteks inilah, Keluaran 35:27–28 menjadi sangat bermakna. Ayat ini mencatat
bahwa para pemimpin membawa permata dan bahan-bahan berharga untuk keperluan
pakaian imam dan ibadah di Kemah Suci.Para pemimpin ini bukanlah orang biasa.
Sejak keluar dari Mesir, mereka telah dipilih sebagai kepala suku dan pemegang
otoritas atas umat (bdk. Kel. 18:21–26). Mereka adalah pengelola sumber daya
dan penentu arah komunitas. Segala kekayaan yang mereka miliki sejatinya bukan
milik pribadi, melainkan titipan Tuhan untuk dikelola demi kemuliaan-Nya.
Karena itu, kegagalan rohani bangsa Israel dalam penyembahan anak lembu emas
tidak bisa dilepaskan dari kegagalan kepemimpinan. Mereka seharusnya
mengarahkan umat kepada Allah, namun membiarkan emas dipakai untuk penyembahan
yang palsu.
Yang
menarik, emas dan permata yang dahulu dipakai sebagai sarana pemberontakan kini
dipersembahkan kembali sebagai sarana penyembahan yang benar. Dengan kata lain,
Allah tidak hanya memulihkan orangnya, tetapi juga menebus makna dari apa yang
pernah disalahgunakan. Apa yang dulu menjadi simbol dosa kini dipakai sebagai
simbol penyerahan. Ini menunjukkan bahwa pertobatan sejati tidak sekadar
mengubah perilaku, tetapi juga mengarahkan ulang seluruh hidup—termasuk harta,
posisi, dan pengaruh—kembali kepada tujuan semula, yaitu memuliakan Allah. Secara
manusia, para pemimpin ini sebenarnya tidak layak lagi dipercaya. Namun, yang
mengagumkan adalah bahwa Allah tidak menyingkirkan mereka. Ia tetap mengundang
mereka untuk terlibat kembali dalam pembangunan Kemah Suci, dengan
mempersembahkan permata untuk baju efod dan tutup dada imam, serta minyak dan
rempah untuk pelayanan yang kudus. Ini menunjukkan bahwa anugerah Tuhan tidak
berhenti pada pengampunan, tetapi bergerak menuju pemulihan dan pengutusan
kembali.
Renungan
ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan membawa tanggung jawab rohani yang
besar. Kesalahan pemimpin berdampak luas, tetapi anugerah Tuhan selalu membuka
pintu pemulihan. Pertobatan tidak berhenti pada penyesalan, melainkan
diwujudkan dalam ketaatan dan penyerahan yang nyata. Kiranya kita belajar dari
para pemimpin Israel: tidak ada dosa yang lebih besar dari kasih setia Tuhan.
Anugerah-Nya memanggil kita bukan hanya untuk diampuni, tetapi untuk dipulihkan
dan kembali melayani dengan hati yang baru.
Saudara,
dalam posisi apa kita
memimpin orang lain
(keluarga, pelayanan, pekerjaan), dan bagaimana kehidupan rohani kita
memengaruhi mereka? Dalam posisi apa pun kita memimpin, kehidupan rohani kita
selalu memengaruhi orang lain. Karena itu, marilah kita membiarkan Tuhan terus
memperbarui hidup kita, supaya melalui kita orang lain dituntun semakin dekat
kepada-Nya. (RT)

Komentar
Posting Komentar