Masih Dipakai oleh Tuhan

Rabu 18 Februari 2026
Masih Dipakai oleh Tuhan

Bacaan Alkitab : Keluaran 35:27–28



Setelah peristiwa tragis anak lembu emas, bangsa Israel berada dalam keadaan rohani yang rusak. Mereka telah gagal memelihara kekudusan, dan para pemimpin pun tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab atas kejatuhan itu. Di tengah konteks inilah, Keluaran 35:27–28 menjadi sangat bermakna. Ayat ini mencatat bahwa para pemimpin membawa permata dan bahan-bahan berharga untuk keperluan pakaian imam dan ibadah di Kemah Suci.Para pemimpin ini bukanlah orang biasa. Sejak keluar dari Mesir, mereka telah dipilih sebagai kepala suku dan pemegang otoritas atas umat (bdk. Kel. 18:21–26). Mereka adalah pengelola sumber daya dan penentu arah komunitas. Segala kekayaan yang mereka miliki sejatinya bukan milik pribadi, melainkan titipan Tuhan untuk dikelola demi kemuliaan-Nya. Karena itu, kegagalan rohani bangsa Israel dalam penyembahan anak lembu emas tidak bisa dilepaskan dari kegagalan kepemimpinan. Mereka seharusnya mengarahkan umat kepada Allah, namun membiarkan emas dipakai untuk penyembahan yang palsu.

Yang menarik, emas dan permata yang dahulu dipakai sebagai sarana pemberontakan kini dipersembahkan kembali sebagai sarana penyembahan yang benar. Dengan kata lain, Allah tidak hanya memulihkan orangnya, tetapi juga menebus makna dari apa yang pernah disalahgunakan. Apa yang dulu menjadi simbol dosa kini dipakai sebagai simbol penyerahan. Ini menunjukkan bahwa pertobatan sejati tidak sekadar mengubah perilaku, tetapi juga mengarahkan ulang seluruh hidup—termasuk harta, posisi, dan pengaruh—kembali kepada tujuan semula, yaitu memuliakan Allah. Secara manusia, para pemimpin ini sebenarnya tidak layak lagi dipercaya. Namun, yang mengagumkan adalah bahwa Allah tidak menyingkirkan mereka. Ia tetap mengundang mereka untuk terlibat kembali dalam pembangunan Kemah Suci, dengan mempersembahkan permata untuk baju efod dan tutup dada imam, serta minyak dan rempah untuk pelayanan yang kudus. Ini menunjukkan bahwa anugerah Tuhan tidak berhenti pada pengampunan, tetapi bergerak menuju pemulihan dan pengutusan kembali.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa kepemimpinan membawa tanggung jawab rohani yang besar. Kesalahan pemimpin berdampak luas, tetapi anugerah Tuhan selalu membuka pintu pemulihan. Pertobatan tidak berhenti pada penyesalan, melainkan diwujudkan dalam ketaatan dan penyerahan yang nyata. Kiranya kita belajar dari para pemimpin Israel: tidak ada dosa yang lebih besar dari kasih setia Tuhan. Anugerah-Nya memanggil kita bukan hanya untuk diampuni, tetapi untuk dipulihkan dan kembali melayani dengan hati yang baru.

Saudara, dalam posisi apa kita memimpin orang lain (keluarga, pelayanan, pekerjaan), dan bagaimana kehidupan rohani kita memengaruhi mereka? Dalam posisi apa pun kita memimpin, kehidupan rohani kita selalu memengaruhi orang lain. Karena itu, marilah kita membiarkan Tuhan terus memperbarui hidup kita, supaya melalui kita orang lain dituntun semakin dekat kepada-Nya. (RT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan