Karena Kasih Bukan Terpaksa

Senin, 23 Februari 2026
Karena Kasih Bukan Terpaksa 
Bacaan Alkitab : Keluaran 36:1–3

Bangsa Israel memiliki latar belakang hidup yang sangat berat. Selama ratusan tahun mereka hidup sebagai budak di Mesir. Mereka dipaksa membangun kota-kota perbendaharaan bagi Firaun dengan kerja paksa yang kejam dan tanpa belas kasihan. Mereka tidak bekerja karena kehendak sendiri, melainkan karena tekanan, ancaman, dan rasa takut. Kehidupan mereka dibentuk oleh sistem yang memaksa, sehingga ketaatan bukanlah pilihan, tetapi keterpaksaan. Namun setelah Allah membebaskan mereka dengan tangan yang kuat, pola hidup itu mulai diubah. Dalam Keluaran 36:1-3, kita melihat pemandangan yang sangat berbeda. Bangsa yang dahulu bekerja karena cambuk kini datang dengan sukarela membawa persembahan bagi pembangunan Kemah Suci. Setiap pagi mereka datang menyerahkan apa yang mereka miliki, sampai persembahan itu lebih dari cukup. Tidak ada paksaan, tidak ada ancaman, tidak ada hukuman. Yang ada hanyalah hati yang tergerak oleh kasih dan rasa syukur kepada Allah yang telah membebaskan mereka.

Perbedaan ini sangat penting. Dahulu mereka membangun bagi penguasa yang menindas, sekarang mereka membangun bagi Allah yang menyelamatkan. Dahulu mereka bekerja karena takut mati, sekarang mereka bekerja karena telah menerima hidup. Perubahan ini menunjukkan bahwa karya keselamatan Allah bukan hanya membebaskan secara fisik, tetapi juga mengubahkan cara manusia merespons perintah-Nya. Allah tidak menginginkan umat yang taat karena terpaksa, tetapi karena mengasihi-Nya. Prinsip ini juga berlaku dalam kehidupan orang percaya. Ketika Kristus membebaskan kita dari perbudakan dosa, cara kita memandang firman pun seharusnya berubah. Firman Tuhan bukan lagi beban yang menekan, tetapi menjadi undangan untuk hidup dalam kebenaran. Ketaatan sejati tidak lahir dari rasa takut akan hukuman, melainkan dari hati yang telah disentuh oleh kasih Allah.

Saudara, sering kali kita masih melakukan firman dengan motivasi yang salah: karena takut dihukum, takut dipandang rohani, atau takut gagal di hadapan orang lain. Namun Tuhan menghendaki agar kita menaati-Nya karena kita mengasihi-Nya. Kasih yang sejati akan mendorong kita untuk hidup seturut firman-Nya dengan sukacita.

Saudara, apakah kita hidup dalam pola Mesir yang penuh keterpaksaan, atau dalam kebebasan Kristus yang penuh kasih? Kiranya hidup kita menjadi bukti bahwa kita melakukan firman bukan karena terpaksa, melainkan karena kita telah dimerdekakan dan mengasihi Dia. (RT)

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan