Firman yang Menjaga Arah Hidup

Jumat, 6 Februari 2026
Firman yang Menjaga Arah Hidup

Bacaan Alkitab : Keluaran 34:27


 

Di atas gunung Sinai, setelah kegagalan besar Israel dengan anak lembu emas, Tuhan tidak memilih diam. Ia justru berbicara kembali. Keluaran 34:27 mencatat perintah yang sederhana yang memiliki arti bermakna: “Tuliskanlah segala firman ini, sebab berdasarkan firman-firman inilah Aku mengikat perjanjian dengan engkau dan dengan Israel.” Firman itu tidak diucapkan untuk sekadar didengar, melainkan dituliskan—agar diingat, dijaga, dan ditaati. Bagi orang Yahudi, perjanjian bukan hanya perasaan religius, melainkan juga tuntutan hidup. Perjanjian berarti terikat, dan berada di bawah komitmen kesetiaan yang nyata kepada Tuhan. Karena itu ayat ini menekankan satu hal penting: perjanjian berdiri di atas apa yang Tuhan firmankan, bukan pada asumsi manusia, tradisi kosong, atau emosi sesaat. Apa yang tertulis itulah yang mengikat.

Menariknya, dari pihak Allah tidak ada keuntungan apa pun yang Ia peroleh dari perjanjian ini. Allah tidak bertambah mulia, tidak menjadi lebih kuat, dan tidak bergantung pada ketaatan manusia. Justru sebaliknya, perjanjian menjadi dasar kepastian bagi manusia—kepastian arah hidup, kepastian identitas, dan kepastian bahwa hidup tidak dijalani dalam kebingungan moral. Firman Tuhan memberi struktur bagi hidup yang rapuh dan mudah menyimpang. Karena itu, firman dalam perjanjian memiliki dua fungsi penting. Pertama, mengarahkan dan menata hidup kita  yang kita sadari—nilai, keputusan, dan relasi. Kedua, firman juga menata bagian hidup yang tidak kita sadari: motif tersembunyi, kebiasaan yang salah, dan arah yang keliru tanpa kita sadari. Inilah kuasa firman—bukan hanya mengoreksi yang tampak, tetapi membentuk yang tersembunyi.


Maka Keluaran 34:27 mengingatkan kita bahwa hidup beriman bukan sekadar percaya, tetapi hidup di bawah firman perjanjian. Firman itulah yang membentuk kita agar tetap setia, memberi kepastian di tengah ketidakpastian, dan membentuk hidup sesuai kehendak Allah—bukan demi keuntungan-Nya, melainkan demi keselamatan dan keutuhan hidup kita sendiri. Keluaran 34:27 menutup dengan sebuah kebenaran yang menenangkan sekaligus menantang: hidup yang terikat pada firman bukanlah hidup yang sempit, melainkan hidup yang pasti. Perjanjian Allah tidak dimaksudkan untuk menekan manusia, tetapi untuk menjaga agar manusia tidak tersesat dalam kebebasannya sendiri. Ketika firman dituliskan dan ditaati, di situlah hidup menemukan arah yang benar.


Maka penutup renungan ini mengajak kita kembali bertanya: apakah firman Tuhan masih menjadi dasar perjanjian hidup kita, atau hanya menjadi hiasan rohani? Firman yang sama yang pernah dituliskan di Sinai hari ini masih bekerja—mengarahkan langkah yang kita sadari dan menata bagian hidup yang belum kita pahami. Biarlah kiranya, di dalam ketaatan kepada firman itulah kita menemukan kepastian, bukan karena kita setia dengan sempurna, tetapi karena Allah setia memegang perjanjian-Nya. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan