Firman yang Menjaga Arah Hidup
Firman yang Menjaga Arah Hidup
Bacaan Alkitab : Keluaran 34:27
Di atas
gunung Sinai, setelah kegagalan besar Israel dengan anak lembu emas, Tuhan
tidak memilih diam. Ia justru berbicara kembali. Keluaran 34:27 mencatat
perintah yang sederhana yang memiliki arti bermakna: “Tuliskanlah
segala firman ini, sebab berdasarkan firman-firman inilah Aku mengikat
perjanjian dengan engkau dan dengan Israel.” Firman itu tidak diucapkan
untuk sekadar didengar, melainkan dituliskan—agar diingat, dijaga, dan ditaati.
Bagi orang Yahudi, perjanjian
bukan hanya perasaan religius, melainkan juga tuntutan hidup.
Perjanjian berarti terikat, dan berada di bawah komitmen kesetiaan yang nyata
kepada Tuhan. Karena itu ayat ini menekankan satu hal penting: perjanjian berdiri di atas apa
yang Tuhan firmankan, bukan pada
asumsi manusia, tradisi kosong, atau emosi sesaat. Apa yang tertulis itulah
yang mengikat.
Menariknya,
dari pihak Allah tidak
ada keuntungan apa pun yang Ia peroleh dari perjanjian ini. Allah
tidak bertambah mulia, tidak menjadi lebih kuat, dan tidak bergantung pada
ketaatan manusia. Justru sebaliknya, perjanjian menjadi dasar kepastian bagi manusia—kepastian
arah hidup, kepastian identitas, dan kepastian bahwa hidup tidak dijalani dalam
kebingungan moral. Firman Tuhan memberi struktur bagi hidup yang rapuh dan
mudah menyimpang. Karena itu, firman dalam perjanjian memiliki dua fungsi penting. Pertama,
mengarahkan dan menata
hidup kita yang kita
sadari—nilai, keputusan, dan relasi. Kedua, firman juga menata bagian hidup yang tidak
kita sadari: motif tersembunyi, kebiasaan yang salah, dan arah yang
keliru tanpa kita sadari. Inilah kuasa firman—bukan hanya mengoreksi yang
tampak, tetapi membentuk yang tersembunyi.
Maka
Keluaran 34:27 mengingatkan kita bahwa hidup beriman bukan sekadar percaya,
tetapi hidup di bawah firman
perjanjian. Firman
itulah yang membentuk kita agar tetap setia, memberi kepastian di tengah
ketidakpastian, dan membentuk hidup sesuai kehendak Allah—bukan demi
keuntungan-Nya, melainkan demi keselamatan dan keutuhan hidup kita sendiri. Keluaran
34:27 menutup dengan sebuah kebenaran yang menenangkan sekaligus menantang:
hidup yang terikat pada firman bukanlah hidup yang sempit, melainkan hidup yang
pasti. Perjanjian Allah tidak dimaksudkan untuk menekan manusia, tetapi untuk
menjaga agar manusia tidak tersesat dalam kebebasannya sendiri. Ketika firman
dituliskan dan ditaati, di situlah hidup menemukan arah yang benar.
Maka penutup renungan ini mengajak kita kembali bertanya: apakah firman Tuhan masih menjadi dasar perjanjian hidup kita, atau hanya menjadi hiasan rohani? Firman yang sama yang pernah dituliskan di Sinai hari ini masih bekerja—mengarahkan langkah yang kita sadari dan menata bagian hidup yang belum kita pahami. Biarlah kiranya, di dalam ketaatan kepada firman itulah kita menemukan kepastian, bukan karena kita setia dengan sempurna, tetapi karena Allah setia memegang perjanjian-Nya. (FS)

Komentar
Posting Komentar