Dari Tuhan, Kembali kepada Tuhan

Rabu 11 Februari 2026                  
Dari Tuhan, Kembali kepada Tuhan 
Bacaan Alkitab : Keluaran 35:4–9

Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, mereka tidak keluar dengan tangan kosong. Alkitab mencatat bahwa Tuhan menggerakkan hati orang Mesir sehingga mereka memberikan perhiasan emas, perak, dan berbagai barang berharga kepada bangsa Israel. Secara lahiriah, semua itu tampak berasal dari Mesir. Namun secara rohani, sumber sejatinya adalah Tuhan sendiri. Ia yang memberi berkat, Ia yang membuka jalan, dan Ia yang memelihara umat-Nya. Dengan kata lain, sejak awal perjalanan mereka, Tuhan sudah menunjukkan bahwa Ia adalah sumber segala sesuatu yang mereka miliki. Dalam Keluaran 35:4-9, Musa mengundang umat Israel untuk membawa persembahan bagi pembangunan Kemah Suci. Tuhan menetapkan emas, perak, kain, kayu akasia, minyak, dan rempah-rempah sebagai persembahan.

Yang menarik, Tuhan tidak menetapkan sesuatu yang sebelumnya tidak Ia sediakan. Ia tidak menuntut dari umat yang kosong, melainkan dari umat yang sudah lebih dulu diberkati. Apa yang diminta Tuhan pada akhirnya adalah apa yang memang berasal dari tangan-Nya sendiri. Memang, tidak semua bahan itu berasal dari Mesir. Ada kayu akasia yang ditemukan di padang gurun, ada minyak dan rempah-rempah yang diperoleh saat perjalanan mereka. Namun semua itu tetap berada dalam satu kebenaran: Tuhanlah yang memelihara mereka sepanjang jalan. Tuhan yang sama yang membuka pintu di Mesir, juga yang menjaga mereka di padang gurun. Karena itu, tidak ada satu pun yang bisa kita sebut sebagai milik kita sepenuhnya. Kita hanyalah pengelola dari apa yang Tuhan percayakan. Memberi kepada Tuhan bukanlah kehilangan, melainkan pengakuan. Ketika bangsa Israel membawa persembahan mereka, mereka sedang berkata, “Tuhan, semua ini berasal dari-Mu.” Persembahan bukan sekadar kewajiban, tetapi respons iman dan syukur. Melalui memberi, umat diajar untuk tidak melekat pada berkat, melainkan pada Sang Pemberi berkat.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa setiap hal dalam hidup kita—pekerjaan, penghasilan, talenta, waktu, dan kesempatan—semuanya adalah anugerah. Jika semua berasal dari Tuhan, maka sudah selayaknya kita juga mengembalikannya bagi kemuliaan-Nya. Ketika kita memberi, kita sedang melangkah masuk ke dalam kehendak-Nya dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Apa yang berasal dari Tuhan, layak kembali kepada Tuhan.

Saudara, apakah kita sungguh percaya bahwa semua yang kita miliki—harta, waktu, kemampuan, dan kesempatan—berasal dari Tuhan? Jika semua yang kita miliki berasal dari Tuhan, maka memberi bukan kehilangan, melainkan ungkapan iman dan syukur. Apa yang dari Tuhan, layak kembali kepada Tuhan. (RT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan