Dari Tuhan, Kembali kepada Tuhan
Dari Tuhan, Kembali kepada Tuhan
Ketika bangsa
Israel keluar dari Mesir, mereka tidak keluar dengan tangan kosong. Alkitab
mencatat bahwa Tuhan menggerakkan hati orang Mesir sehingga mereka memberikan
perhiasan emas, perak, dan berbagai barang berharga kepada bangsa Israel.
Secara lahiriah, semua itu tampak berasal dari Mesir. Namun secara rohani,
sumber sejatinya adalah Tuhan sendiri. Ia yang memberi berkat, Ia yang membuka
jalan, dan Ia yang memelihara umat-Nya. Dengan kata lain, sejak awal perjalanan
mereka, Tuhan sudah menunjukkan bahwa Ia adalah sumber segala sesuatu yang
mereka miliki. Dalam Keluaran 35:4-9, Musa mengundang umat Israel untuk membawa
persembahan bagi pembangunan Kemah Suci. Tuhan menetapkan emas, perak, kain,
kayu akasia, minyak, dan rempah-rempah sebagai persembahan.
Yang menarik,
Tuhan tidak menetapkan sesuatu yang sebelumnya tidak Ia sediakan. Ia tidak
menuntut dari umat yang kosong, melainkan dari umat yang sudah lebih dulu
diberkati. Apa yang diminta Tuhan pada akhirnya adalah apa yang memang berasal
dari tangan-Nya sendiri. Memang, tidak semua bahan itu berasal dari Mesir. Ada
kayu akasia yang ditemukan di padang gurun, ada minyak dan rempah-rempah yang
diperoleh saat perjalanan mereka. Namun semua itu tetap berada dalam satu
kebenaran: Tuhanlah yang memelihara mereka sepanjang jalan. Tuhan yang sama
yang membuka pintu di Mesir, juga yang menjaga mereka di padang gurun. Karena
itu, tidak ada satu pun yang bisa kita sebut sebagai milik kita sepenuhnya.
Kita hanyalah pengelola dari apa yang Tuhan percayakan. Memberi kepada Tuhan
bukanlah kehilangan, melainkan pengakuan. Ketika bangsa Israel membawa
persembahan mereka, mereka sedang berkata, “Tuhan, semua ini berasal dari-Mu.”
Persembahan bukan sekadar kewajiban, tetapi respons iman dan syukur. Melalui
memberi, umat diajar untuk tidak melekat pada berkat, melainkan pada Sang
Pemberi berkat.
Renungan ini
mengingatkan kita bahwa setiap hal dalam hidup kita—pekerjaan, penghasilan,
talenta, waktu, dan kesempatan—semuanya adalah anugerah. Jika semua berasal
dari Tuhan, maka sudah selayaknya kita juga mengembalikannya bagi
kemuliaan-Nya. Ketika kita memberi, kita sedang melangkah masuk ke dalam
kehendak-Nya dan mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya. Apa yang
berasal dari Tuhan, layak kembali kepada Tuhan.
Saudara,
apakah kita sungguh percaya bahwa semua yang kita miliki—harta, waktu,
kemampuan, dan kesempatan—berasal dari Tuhan? Jika semua yang kita miliki
berasal dari Tuhan, maka memberi bukan kehilangan, melainkan ungkapan iman dan
syukur. Apa yang dari Tuhan, layak kembali kepada Tuhan. (RT)

Komentar
Posting Komentar