Dari Lembu Emas ke Kemah Suci

Kamis 12 Februari 2026                 
Dari Lembu Emas ke Kemah Suci 
Bacaan Alkitab : Keluaran 35:10–20

Bangsa Israel memiliki sejarah yang penuh ironis. Di satu sisi, mereka adalah umat pilihan Tuhan yang dibebaskan dari perbudakan. Namun di sisi lain, mereka juga pernah memberontak kepada Allah yang membebaskan mereka dengan jatuh dalam dosa besar ketika membangun lembu emas dan menyembahnya. Peristiwa itu bukan hanya kesalahan kecil, tetapi bentuk pengkhianatan terhadap Allah yang telah menyelamatkan mereka. Mereka memilih membangun sesuatu yang najis, dan menggantikan kemuliaan Allah dengan buatan tangan manusia. Namun anugerah Tuhan tidak berhenti pada kegagalan.

Dalam Keluaran 35:10-20, kita melihat sebuah perubahan yang mengejutkan. Tuhan justru memanggil bangsa yang pernah jatuh itu untuk terlibat dalam pembangunan Kemah Suci. Mereka yang dahulu menggunakan emas untuk berhala, kini diundang menggunakan unsur yang sama (emas) untuk tempat kediaman Allah. Dari sini kita melihat betapa besar dan dalamnya anugerah Tuhan. Ia tidak hanya mengampuni, tetapi juga memulihkan dan mempercayakan kembali. Tuhan tidak memilih umat yang sempurna untuk melakukan pekerjaan-Nya. Ia memilih umat yang pernah gagal, tetapi mau bertobat dan kembali kepada-Nya. Panggilan untuk membangun Kemah Suci bukan hanya tentang mendirikan sebuah tempat ibadah, melainkan tentang membangun kembali hubungan yang rusak. Seolah-olah Tuhan sedang berkata kepada Israel, “Aku belum selesai dengan kamu.” Inilah inti anugerah: bukan sekadar diampuni, tetapi dipakai kembali. Bangsa Israel tidak disisihkan setelah dosa lembu emas. Mereka tidak dibuang, melainkan dilibatkan. Tuhan memberi mereka kesempatan baru untuk menebus masa lalu dengan ketaatan yang baru. Apa yang dulu digunakan untuk memberontak, kini dipakai untuk memuliakan Tuhan.

Renungan ini sangat relevan bagi kita. Kita juga sering gagal, jatuh dalam dosa, dan menyalahgunakan berkat Tuhan. Kita mungkin pernah membangun “lembu emas” dalam bentuk lain: ambisi, harta, atau ego. Namun Tuhan tidak berhenti mengasihi kita. Ia memanggil kita kembali, bukan untuk mengungkit masa lalu, tetapi untuk memberi masa depan yang baru. Ketika Tuhan mengundang kita terlibat dalam pekerjaan-Nya, itu adalah tanda anugerah, bukan karena kita layak, tetapi karena Dia setia. Dari lembu emas menuju Kemah Suci, dari kegagalan menuju pemulihan—itulah perjalanan anugerah. Tuhan sanggup mengubah kehancuran menjadi alat kemuliaan-Nya. Dan ketika kita merespons panggilan-Nya, hidup kita pun dipulihkan untuk tujuan yang lebih besar.

Saudara, ketika Tuhan memberi kesempatan baru, apakah kita merespons dengan ketaatan atau dengan keraguan? Ketika Tuhan memberi kesempatan baru, kita tidak lagi hidup dalam bayang-bayang kegagalan, tetapi melangkah dengan iman dan ketaatan. Sebab anugerah-Nya bukan hanya mengampuni masa lalu, melainkan memanggil kita untuk membangun sesuatu yang memuliakan Dia hari ini. (RT)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan