Dari Lembu Emas ke Kemah Suci
Dari Lembu Emas ke Kemah Suci
Bangsa Israel
memiliki sejarah yang penuh ironis. Di satu sisi, mereka adalah umat pilihan
Tuhan yang dibebaskan dari perbudakan. Namun di sisi lain, mereka juga pernah memberontak kepada Allah yang
membebaskan mereka dengan jatuh dalam
dosa besar ketika membangun lembu emas dan menyembahnya. Peristiwa itu bukan
hanya kesalahan kecil, tetapi bentuk pengkhianatan terhadap Allah yang telah
menyelamatkan mereka. Mereka memilih membangun sesuatu yang najis, dan
menggantikan kemuliaan Allah dengan buatan tangan manusia. Namun anugerah Tuhan
tidak berhenti pada kegagalan.
Dalam
Keluaran 35:10-20, kita melihat sebuah perubahan yang mengejutkan. Tuhan justru
memanggil bangsa yang pernah jatuh itu untuk terlibat dalam pembangunan Kemah
Suci. Mereka yang dahulu menggunakan emas untuk berhala, kini diundang
menggunakan unsur yang sama (emas) untuk tempat kediaman Allah. Dari sini kita
melihat betapa besar dan dalamnya anugerah Tuhan. Ia tidak hanya mengampuni,
tetapi juga memulihkan dan mempercayakan kembali. Tuhan tidak memilih umat yang
sempurna untuk melakukan pekerjaan-Nya. Ia memilih umat yang pernah gagal,
tetapi mau bertobat dan kembali kepada-Nya. Panggilan untuk membangun Kemah
Suci bukan hanya tentang mendirikan sebuah tempat ibadah, melainkan tentang
membangun kembali hubungan yang rusak. Seolah-olah Tuhan sedang berkata kepada
Israel, “Aku belum selesai dengan kamu.” Inilah inti anugerah: bukan sekadar
diampuni, tetapi dipakai kembali. Bangsa Israel tidak disisihkan setelah dosa
lembu emas. Mereka tidak dibuang, melainkan dilibatkan. Tuhan memberi mereka
kesempatan baru untuk menebus masa lalu dengan ketaatan yang baru. Apa yang
dulu digunakan untuk memberontak, kini dipakai untuk memuliakan Tuhan.
Renungan ini
sangat relevan bagi kita. Kita juga sering gagal, jatuh dalam dosa, dan
menyalahgunakan berkat Tuhan. Kita mungkin pernah membangun “lembu emas” dalam
bentuk lain: ambisi, harta, atau ego. Namun Tuhan tidak berhenti mengasihi
kita. Ia memanggil kita kembali, bukan untuk mengungkit masa lalu, tetapi untuk
memberi masa depan yang baru. Ketika Tuhan mengundang kita terlibat dalam
pekerjaan-Nya, itu adalah tanda anugerah, bukan karena kita layak, tetapi
karena Dia setia. Dari lembu emas menuju Kemah Suci, dari kegagalan menuju
pemulihan—itulah perjalanan anugerah. Tuhan sanggup mengubah kehancuran menjadi
alat kemuliaan-Nya. Dan ketika kita merespons panggilan-Nya, hidup kita pun
dipulihkan untuk tujuan yang lebih besar.
Saudara,
ketika Tuhan memberi kesempatan baru, apakah kita merespons dengan ketaatan
atau dengan keraguan? Ketika Tuhan memberi kesempatan baru, kita tidak lagi
hidup dalam bayang-bayang kegagalan, tetapi melangkah dengan iman dan ketaatan.
Sebab anugerah-Nya bukan hanya mengampuni masa lalu, melainkan memanggil kita
untuk membangun sesuatu yang memuliakan Dia hari ini. (RT)

Komentar
Posting Komentar