Benang, Tangan, dan Panggilan Tuhan

Selasa, 17 Februari 2026
Benang, Tangan, dan Panggilan Tuhan
Bacaan Alkitab : Keluaran 35:25–26



Keluaran 35:25–26 menampilkan gambaran yang sering luput dari sorotan para penafsir  yaitu perempuan-perempuan yang memintal benang dengan tangan mereka dan membawanya sebagai persembahan bagi Tuhan. Alkitab tidak mengecilkan peran perempuan dalam  komunitas Israel secara keseluruhan, seolah-olah mereka hanya “bagian kecil” dari umat. Sebaliknya,  Justru teks ini menunjukkan bahwa Allah bekerja melalui peran-peran yang spesifik, kontekstual, dan sering kali tersembunyi—namun sangat penting. Dalam konteks ritual Timur Dekat Kuno, pekerjaan memintal dan menenun bukanlah aktivitas sepele. Itu adalah keterampilan bernilai tinggi, karena berkaitan langsung dengan simbol kekudusan, keindahan, dan ketertiban kosmis dalam ruang ibadah. Tabernakel bukan sekadar bangunan; ia adalah representasi kehadiran Allah. Maka benang ungu, kain halus, dan hasil tangan perempuan menjadi bagian dari liturgi—bukan di pinggir, melainkan di jantung ibadah umat.


Ayat 25 menekankan bahwa perempuan-perempuan itu adalah “yang bijaksana hatinya.” Ini bukan hanya soal teknik, tetapi kepekaan rohani. Keahlian mereka dipakai Tuhan bukan semata karena mereka mampu, tetapi karena hati mereka selaras dengan maksud-Nya. Dalam teks ini terlihat bahwa, keterampilan menjadi alat ilahi, ketika hati dekat dengan Tuhan. Kedekatan inilah syarat utama dipakai Allah—bukan popularitas, bukan posisi, melainkan kepekaan terhadap kehendak-Nya. Perempuan-perempuan dalam Keluaran 35 tidak merancang visi besar, tetapi mereka setia mengerjakan apa yang Tuhan percayakan. Dan dari tangan-tangan itulah, kemuliaan Tuhan dinyatakan. Benang dipintal perlahan, warna-warna disiapkan, dan setiap gerakan dilakukan dengan kesadaran bahwa apa yang dikerjakan bukan sekadar kain, melainkan bagian dari tempat Tuhan berdiam. Tidak ada yang membandingkan dirinya dengan yang lain. Setiap orang tahu apa yang ada di tangannya, dan itu cukup—karena Tuhan yang memintanya.


Saudara, apakah kita sibuk membandingkan peranku, atau sedang belajar mendengarkan apa yang Tuhan ingin kerjakan melalui tanganku hari ini? Di sanalah kita belajar bahwa Tuhan jarang bekerja lewat hal-hal yang mencolok. Ia hadir dalam kesetiaan, dalam kepekaan, dalam ketaatan yang tenang. Ketika manusia membawa apa yang bisa ia kerjakan, dan Tuhan menuntun ke mana itu harus dipakai, terjadilah kolaborasi yang indah: kehendak Allah bertemu dengan kerelaan manusia. Maka hari ini, mungkin kita tidak memintal benang, tetapi kita memintal hidup—melalui keputusan kecil, pekerjaan sederhana, dan kesetiaan yang sering tak terlihat. Namun jika semua itu dikerjakan dengan hati yang dekat kepada Tuhan, maka hidup kita pun menjadi bagian dari karya-Nya. Tidak besar di mata dunia, tetapi cukup—karena Tuhan yang memakainya. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan