Benang, Tangan, dan Panggilan Tuhan
Benang, Tangan, dan Panggilan Tuhan
Bacaan Alkitab : Keluaran 35:25–26
Keluaran
35:25–26 menampilkan gambaran yang sering luput dari sorotan para penafsir yaitu perempuan-perempuan yang memintal
benang dengan tangan mereka dan membawanya sebagai persembahan bagi Tuhan.
Alkitab tidak mengecilkan peran perempuan dalam
komunitas Israel secara keseluruhan, seolah-olah mereka hanya “bagian
kecil” dari umat. Sebaliknya, Justru
teks ini menunjukkan bahwa Allah bekerja melalui peran-peran yang spesifik,
kontekstual, dan sering kali tersembunyi—namun sangat penting. Dalam konteks ritual Timur Dekat Kuno,
pekerjaan memintal dan menenun bukanlah aktivitas sepele. Itu adalah
keterampilan bernilai tinggi, karena berkaitan langsung dengan simbol
kekudusan, keindahan, dan ketertiban kosmis dalam ruang ibadah. Tabernakel
bukan sekadar bangunan; ia adalah representasi kehadiran Allah. Maka benang
ungu, kain halus, dan hasil tangan perempuan menjadi bagian dari liturgi—bukan
di pinggir, melainkan di jantung ibadah umat.
Ayat 25
menekankan bahwa perempuan-perempuan itu adalah “yang bijaksana hatinya.” Ini
bukan hanya soal teknik, tetapi kepekaan rohani. Keahlian mereka dipakai Tuhan bukan semata karena mereka mampu,
tetapi karena hati mereka selaras dengan maksud-Nya. Dalam teks ini terlihat
bahwa, keterampilan menjadi alat ilahi, ketika hati dekat dengan Tuhan.
Kedekatan inilah syarat utama dipakai Allah—bukan popularitas, bukan posisi,
melainkan kepekaan terhadap kehendak-Nya. Perempuan-perempuan dalam Keluaran 35
tidak merancang visi besar, tetapi mereka setia mengerjakan apa yang Tuhan
percayakan. Dan dari tangan-tangan itulah, kemuliaan Tuhan dinyatakan. Benang dipintal perlahan, warna-warna
disiapkan, dan setiap gerakan dilakukan dengan kesadaran bahwa apa yang
dikerjakan bukan sekadar kain, melainkan bagian dari tempat Tuhan berdiam.
Tidak ada yang membandingkan dirinya dengan yang lain. Setiap orang tahu apa
yang ada di tangannya, dan itu cukup—karena Tuhan yang memintanya.
Saudara, apakah kita sibuk membandingkan peranku, atau sedang belajar
mendengarkan apa yang Tuhan ingin kerjakan melalui tanganku hari ini? Di sanalah kita belajar bahwa Tuhan jarang
bekerja lewat hal-hal yang mencolok. Ia hadir dalam kesetiaan, dalam kepekaan,
dalam ketaatan yang tenang. Ketika manusia membawa apa yang bisa ia kerjakan,
dan Tuhan menuntun ke mana itu harus dipakai, terjadilah kolaborasi yang indah:
kehendak Allah bertemu dengan kerelaan manusia. Maka hari ini, mungkin kita
tidak memintal benang, tetapi kita memintal hidup—melalui keputusan kecil,
pekerjaan sederhana, dan kesetiaan yang sering tak terlihat. Namun jika semua
itu dikerjakan dengan hati yang dekat kepada Tuhan, maka hidup kita pun menjadi
bagian dari karya-Nya. Tidak besar di mata dunia, tetapi cukup—karena Tuhan
yang memakainya. (FS)

Komentar
Posting Komentar