Belajar Sebagai Sarana Anugerah
Belajar Sebagai Sarana Anugerah
Dalam Keluaran 35:34–35 dicatat bahwa Allah bukan hanya memenuhi Bezaleel dan Aholiab dengan hikmat serta keahlian untuk bekerja, tetapi juga menaruh dalam diri mereka kemampuan untuk mengajar. C.F. Keil, ahli Perjanjian Lama- menegaskan bahwa penyebutan kemampuan mengajar ini bukanlah detail tambahan yang dicantumkan secara kebetulan. Sebaliknya, mengandung prinsip teologis yang penting. Allah menghendaki agar pekerjaan membangun kemah suci dilakukan dengan keteraturan, kesinambungan, dan kesetiaan pada kehendak-Nya. Karena itu, kemampuan mengajar diberikan kepada Bezaleel dan Aholiab supaya pekerjaan pembangunan Kemah Suci tidak bergantung pada satu atau dua orang saja. Mengajar, dalam konteks ini, bukan sekadar menyampaikan teknik atau pengetahuan tentang pembangunan kemah suci, melainkan mewariskan hikmat yang berasal dari Allah. Melalui pengajaran, hikmat ilahi diteruskan kepada umat, sehingga mereka dibentuk untuk bekerja bersama dalam tatanan yang benar. Dengan demikian, proses mengajar dan belajar menjadi sarana yang dipakai Allah untuk menjaga kemurnian ibadah dan memastikan bahwa pekerjaan-Nya dilakukan sesuai dengan perintah-Nya.
Saudara, melalui pembacaan Firman Tuhan ini kita dapat melihat bahwa kegiatan belajar -baik pengajar maupun pelajar- merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pertumbuhan iman. Bagi pengajar, pemberian Allah berupa kemampuan mengajar kepada Bezaleel dan Aholiab menegaskan bahwa mengajar adalah karunia yang khusus dan tidak diberikan kepada setiap orang. Dalam konteks pertumbuhan iman, karunia ini menjadi sarana bagi Allah untuk menyebarkan hikmat-Nya yang terkandung dalam firman-Nya kepada umat-Nya. Bagi pelajar, mereka dipanggil untuk merespons para pengajar dengan terlibat sungguh-sungguh dalam proses belajar. Ketika umat-Nya memahami kebenaran tentang kehendak Allah, pemahaman tersebut menolong mereka untuk mengaplikasikan kebenaran firman-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian mengajar dapat memperlengkapi umat dalam panggilan Allah bagi mereka, sedangkan belajar menjadi sarana anugerah untuk bertumbuh dalam panggilan Allah bagi kita.
Renungan ini mengingatkan bahwa pertumbuhan iman tidak dapat dilepaskan dari proses mengajar dan belajar yang setia kepada firman Allah. Setiap orang percaya dipanggil untuk menyadari perannya masing-masing di dalam tubuh Kristus. Ada yang diperlengkapi Allah dengan karunia mengajar, dan ada yang dipanggil untuk belajar dengan rendah hati dan ketaatan. Keduanya sama penting di hadapan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini mendorong umat Allah untuk menghargai proses pembelajaran iman-baik melalui pendalaman Alkitab, persekutuan, maupun bimbingan rohani. Pengajar dipanggil untuk setia menyampaikan kebenaran Firman Allah, bukan berdasarkan kehendak pribadi, melainkan sesuai dengan kehendak Allah. Sementara itu, para pelajar dipanggil untuk membuka hati, bersedia dibentuk, dan menerapkan kebenaran yang dipelajari dan sikap, perkataan, serta perbuatan sehari-hari. Dengan demikian, umat Allah bertumbuh bersama dalam iman dan memuliakan Allah melalui kehidupan yang tertata dan taat.
Saudara,
mari sejenak kita merenungkan firman yang baru saja kita dengar. Bagaimana
sikap kita terhadap proses belajar firman Tuhan—apakah kita menjalaninya dengan
kesungguhan dan kerendahan hati? Mari terlibat aktif dalam kelas-kelas
pengajaran yang disediakan gereja untuk belajar tentang iman Kristen dengan
sungguh-sungguh. Lalu, bertumbuhlah dalam panggilan-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar