Tuhan yang Tidak Menyerah pada Umat-Nya
Tuhan yang Tidak Menyerah pada Umat-Nya
Keluaran
34:1–4 membawa kita pada sebuah momen yang sangat menentukan dalam hubungan
antara Tuhan dan bangsa Israel. Ini bukanlah kisah tentang keberhasilan
manusia, melainkan tentang kesetiaan
Tuhan di tengah kegagalan umat-Nya. Setelah
bangsa Israel menyembah anak lembu emas dan melanggar perjanjian Tuhan, Musa marah dan
menghancurkan loh batu itu, menunjukkan bahwa dosa umat telah merusak hubungan perjanjian
dengan Allah. Namun yang mengejutkan, Tuhan tidak mengakhiri cerita itu
dengan penghukuman semata. Tuhan justru memulihkan. Ia memerintahkan Musa untuk
memahat dua loh batu yang baru. Tindakan ini menunjukkan bahwa ketika Tuhan membuat perjanjian, selalu ada
pemulihan. Tuhan adalah Allah yang berinisiatif memulihkan, bahkan
ketika manusia tidak layak untuk dipulihkan.
Loh
batu yang baru ini bukan sekadar pengganti loh yang lama. Loh itu adalah tanda
nyata bahwa Tuhan masih mau menjalin
hubungan dengan umat-Nya. Tuhan masih mau menuliskan firman-Nya, masih
mau berbicara, dan masih mau hadir di tengah bangsa yang telah
mengecewakan-Nya. Ini memperlihatkan hati Tuhan yang penuh kasih setia—Tuhan
yang tidak menyerah meskipun umat-Nya sering tidak setia. Menarik untuk
diperhatikan bahwa Tuhan meminta Musa sendiri yang memahat loh batu tersebut
dan datang kepada-Nya pada pagi hari. Ini mengajarkan bahwa pemulihan tidak
terjadi tanpa respons dari manusia. Ada bagian yang harus kita kerjakan:
kerendahan hati untuk mengakui dosa, kesiapan untuk taat, dan keberanian untuk
kembali mendekat kepada Tuhan. Tuhan memulihkan, tetapi manusia diajak untuk
terlibat dalam proses pemulihan itu.
Bagi jemaat hari ini, firman ini sangat relevan. Sering kali kita jatuh dalam kesalahan
yang sama: lebih mencintai berkat Tuhan daripada Tuhan sendiri, lebih
mengandalkan hal-hal duniawi daripada membangun relasi yang benar dengan-Nya. Firman ini mengingatkan
bahwa Allah memang panjang sabar dan membuka jalan pertobatan,
tetapi kesabaran-Nya bukan izin untuk terus hidup dalam pemberontakan.
Ada saatnya Tuhan memanggil manusia untuk segera bertobat, sebab pintu anugerah tidak
terbuka selamanya. Karena itu, respons yang benar bukan
menunda, melainkan datang dengan hati yang remuk, taat, dan takut akan Tuhan selagi Ia
masih berkenan ditemui.
Ia tidak langsung membuang kita,
melainkan memanggil kita untuk datang kembali kepada-Nya. Keluaran 34:1–4
mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah
Allah perjanjian yang setia. Di dalam setiap kesempatan kedua yang Tuhan
berikan, ada undangan untuk hidup lebih dekat, lebih taat, dan lebih
sungguh-sungguh mengasihi-Nya.
Saudara yang terkasih, Keluaran 34:1–4
menutup satu kebenaran yang sangat indah: Tuhan tidak pernah berhenti memanggil
umat-Nya untuk kembali. Sekalipun perjanjian pernah
dilanggar dan hubungan pernah rusak, kasih Tuhan tidak pernah berakhir. Tuhan
adalah Allah yang memberi kesempatan baru dan memulihkan yang hancur. Saudara, apakah kita rindu untuk membangun kembali hubungan
kita dengan Tuhan? Biarlah
kita belajar untuk tidak hanya mencari berkat Tuhan, tetapi membangun kembali
hubungan dengan Tuhan itu sendiri. Datanglah kepada-Nya dengan hati yang rendah
dan taat, sebab Tuhan yang setia akan selalu menyambut setiap orang yang mau
kembali. (FS)

Komentar
Posting Komentar