Tuhan yang Tidak Menyerah pada Umat-Nya

Jumat, 23 Januari 2026
Tuhan yang Tidak Menyerah pada Umat-Nya 
Bacaan Alkitab : Keluaran 34:1–4

Keluaran 34:1–4 membawa kita pada sebuah momen yang sangat menentukan dalam hubungan antara Tuhan dan bangsa Israel. Ini bukanlah kisah tentang keberhasilan manusia, melainkan tentang kesetiaan Tuhan di tengah kegagalan umat-Nya. Setelah bangsa Israel menyembah anak lembu emas dan melanggar perjanjian Tuhan, Musa marah dan menghancurkan loh batu itu, menunjukkan bahwa dosa umat telah merusak hubungan perjanjian dengan Allah. Namun yang mengejutkan, Tuhan tidak mengakhiri cerita itu dengan penghukuman semata. Tuhan justru memulihkan. Ia memerintahkan Musa untuk memahat dua loh batu yang baru. Tindakan ini menunjukkan bahwa ketika Tuhan membuat perjanjian, selalu ada pemulihan. Tuhan adalah Allah yang berinisiatif memulihkan, bahkan ketika manusia tidak layak untuk dipulihkan.

Loh batu yang baru ini bukan sekadar pengganti loh yang lama. Loh itu adalah tanda nyata bahwa Tuhan masih mau menjalin hubungan dengan umat-Nya. Tuhan masih mau menuliskan firman-Nya, masih mau berbicara, dan masih mau hadir di tengah bangsa yang telah mengecewakan-Nya. Ini memperlihatkan hati Tuhan yang penuh kasih setia—Tuhan yang tidak menyerah meskipun umat-Nya sering tidak setia. Menarik untuk diperhatikan bahwa Tuhan meminta Musa sendiri yang memahat loh batu tersebut dan datang kepada-Nya pada pagi hari. Ini mengajarkan bahwa pemulihan tidak terjadi tanpa respons dari manusia. Ada bagian yang harus kita kerjakan: kerendahan hati untuk mengakui dosa, kesiapan untuk taat, dan keberanian untuk kembali mendekat kepada Tuhan. Tuhan memulihkan, tetapi manusia diajak untuk terlibat dalam proses pemulihan itu.

Bagi jemaat hari ini, firman ini sangat relevan. Sering kali kita jatuh dalam kesalahan yang sama: lebih mencintai berkat Tuhan daripada Tuhan sendiri, lebih mengandalkan hal-hal duniawi daripada membangun relasi yang benar dengan-Nya. Firman ini mengingatkan bahwa Allah memang panjang sabar dan membuka jalan pertobatan, tetapi kesabaran-Nya bukan izin untuk terus hidup dalam pemberontakan. Ada saatnya Tuhan memanggil manusia untuk segera bertobat, sebab pintu anugerah tidak terbuka selamanya. Karena itu, respons yang benar bukan menunda, melainkan datang dengan hati yang remuk, taat, dan takut akan Tuhan selagi Ia masih berkenan ditemui. Ia tidak langsung membuang kita, melainkan memanggil kita untuk datang kembali kepada-Nya. Keluaran 34:1–4 mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah Allah perjanjian yang setia. Di dalam setiap kesempatan kedua yang Tuhan berikan, ada undangan untuk hidup lebih dekat, lebih taat, dan lebih sungguh-sungguh mengasihi-Nya.

Saudara yang terkasih, Keluaran 34:1–4 menutup satu kebenaran yang sangat indah: Tuhan tidak pernah berhenti memanggil umat-Nya untuk kembali. Sekalipun perjanjian pernah dilanggar dan hubungan pernah rusak, kasih Tuhan tidak pernah berakhir. Tuhan adalah Allah yang memberi kesempatan baru dan memulihkan yang hancur. Saudara, apakah kita rindu untuk membangun kembali hubungan kita dengan Tuhan? Biarlah kita belajar untuk tidak hanya mencari berkat Tuhan, tetapi membangun kembali hubungan dengan Tuhan itu sendiri. Datanglah kepada-Nya dengan hati yang rendah dan taat, sebab Tuhan yang setia akan selalu menyambut setiap orang yang mau kembali. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan