Sukacita yang Berakar pada Allah

Sabtu, 3 Januari 2025 
Sukacita yang Berakar pada Allah 
Bacaan Alkitab : Mzm. 37 : 1-4

          Saudara selamat memasuki tahun baru 2026 ini. Pada awal tahun ini, kita diajak untuk kembali merenungkan Firman Tuhan dari Mzm. 37: 1-4. Mazmur ini merupakan mazmur yang ditulis oleh Daud, yang menolong umat Tuhan memandang kehidupan dengan  bijaksana, khususnya ketika menghadapi kenyataan bahwa orang fasik sering tampak berhasil dan hidup dalam kelimpahan.  Daud membuka mazmur ini dengan sebuah perintah yang tegas “janganlah geram terhadap orang jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang.” (ay. 1). Perintah ini muncul dari realitas hidup yang sering menimbulkan pertanyaan, khususnya  ketika kita melihat orang-orang tidak hidup benar namun tampak berhasil dan berbahagia. Namun, Daud segera mengingatkan bahwa keberhasilan orang fasik bersifat sementara, seperti rumput yang segera layu dan seperti tumbuhan hijau yang cepat menjadi kering. Dengan perspektif ini, umat Tuhan diajak untuk tidak menilai hidup hanya dari apa yang tampak sesaat.

          Selanjutnya Daud menegaskan sikap hidup yang seharusnya di miliki oleh orang percaya melalui beberapa perintah yang saling berkaitan. pertama, percaya: menyerahkan semua urusan kepada Tuhan. Kedua, berbuat baik : hidup dalam integritas tanpa terpengaruh keadaan sekitar. Ketiga, diam di negeri dan berlakulah setia. Teolog bernama Derek Kidner melihat ini sebagai panggilan untuk keamanan, kesetiaan, dan hidup bertanggung jawab, bukan melarikan diri dari realitas. Orang percaya dipanggil untuk tetap setia di tempat dan kondisi di mana Allah menempatkannya. Sikap hidup ini akan membawa umat Tuhan pada satu hasil yang mendalam yaitu sukacita sejati (ay.4). Sukacita yang dimaksud di sini bukanlah kegembiraan sesaat karena keadaan yang menyenangkan tetapi kondisi batin yang tenang dan bersukacita sebagai buah dari relasi yang benar dengan Allah. Ketika seseorang bersukacita di dalam Tuhan, keinginannya pun diselaraskan dengan kehendak Allah. Oleh karena inilah hidupnya akan diberkati : secara rohani dan materi.
          Saudara, hubungan antara larangan untuk tidak menjadi iri hati (ay.1) dan panggilan untuk bersukacita dalam Tuhan (ay. 4). Iri hati seringkali muncul karena rasa kepemilikan yang keliru, yaitu ketika seseorang menganggap harta, pasangan, prestasi, atau status sebagai sumber kebahagiaan utama. Akibatnya, ketika melihat orang lain memiliki lebih banyak atau lebih berhasil, hati menjadi gusar dan gelisah. Sukacita/kebahagiaan sejati lahir dari relasi yang hidup dengan Allah. Relasi yang hangat menumbuhkan ketenangan, rasa aman, dan kegembiraan batin, sekalipun keadaan hidup tidak sebaik orang lain. Dengan dasar ini, orang percaya tetap mampu bersukacita dan tidak terguncang ketika melihat keberhasilan orang lain.
            Saudara, pembacaan firman Tuhan pada awal tahun baru ini mengajarkan untuk kita tidak menganggap kesalahan/dosa -dalam konteks ini yaitu iri hati- sebagai penghalang untuk melangkah di masa depan. Masa lalu sebenarnya bukan sesuatu untuk disangkal atau dilupakan, melainkan direfleksikan. Kita dapat memperlakukan masa lalu seperti kaca spion yang akan menolong kita untuk melihat ke belakang agar dapat melangkah dengan lebih bijaksana ke depan. Ingatlah bahwa dosa dan kegagalan masa lalu bukanlah identitas kita melainkan  sarana anugerah Allah untuk membentuk kita menjadi semakin serupa dengan Kristus melalui proses evaluasi serta pertobatan terus menerus. Dengan demikian, memasuki tahun 2026 ini mari kita memelihara relasi yang benar dengan Allah sebagai sumber sukacita sejati. Dengan percaya kepada Tuhan, berbuat baik, hidup setia, kita diajar untuk tidak dikuasai oleh iri hati, melainkan berjalan dengan hati yang tenang, penuh pengharapan, dan bersukacita dalam Dia. 

            Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, sudahkan kita menggunakan masa lalu sebagai sarana anugerah untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus? Kiranya pertolongan Roh Kudus akan menolong kita menemukan dan melaksanakan hal-hal yang akan kita ubah di tahun 2026. Sehingga, sukacita Allah senantiasa mengalir dalam hati kita di tahun 2026. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan