Rencana Allah Tak Bergantung pada Kita
Rencana Allah Tak Bergantung pada Kita
Saudara yang terkasih, Bangsa Israel baru saja jatuh dalam
pemberontakan besar melalui peristiwa anak lembu emas. Dosa itu serius,
terbuka, dan dilakukan secara kolektif. Namun yang mengejutkan bukan hanya
besarnya dosa tersebut, melainkan kenyataan bahwa rencana Allah tidak runtuh
karenanya. Di sinilah kita melihat dua kebenaran berjalan bersamaan: Allah
tidak membatalkan rencana-Nya, tetapi Ia juga tidak mengabaikan dosa umat-Nya.
Karena
itu, bangsa Israel tetap harus menanggung hukuman Tuhan. Generasi yang keluar
dari Mesir—yang menyaksikan mujizat demi mujizat—akhirnya tidak diizinkan masuk
ke Tanah Kanaan. Pemberontakan demi pemberontakan, termasuk dosa anak lembu
emas, menyingkapkan hati yang keras dan tidak setia. Allah setia pada
firman-Nya: dosa selalu membawa konsekuensi, dan hukuman itu nyata. Namun
kegagalan satu generasi tidak pernah berarti kegagalan rencana Allah. Tanah
Kanaan tetap diduduki dan janji Allah tetap digenapi. Yang berubah hanyalah
siapa yang diizinkan terlibat di dalamnya. Allah melanjutkan rencana-Nya,
meskipun manusia tersingkir oleh ketidaktaatan mereka sendiri.
Dalam Keluaran 32:30–35, Musa tampil sebagai perantara dan
bahkan bersedia namanya dihapus demi bangsanya. Namun, Tuhan menjawab dengan
tegas, “Siapa yang berdosa kepada-Ku, dialah yang akan Kuhapuskan dari
kitab-Ku.” Jawaban ini menegaskan bahwa Allah tidak bergantung pada satu tokoh,
satu generasi, atau satu komunitas untuk menggenapkan rencana-Nya. Musa
dipakai, tetapi bukan penentu. Israel dipilih, tetapi bukan tak tergantikan.
Allah menghukum dosa mereka, namun tidak membatalkan perjanjian-Nya.
Perikop ini memperlihatkan satu paradoks penting:
pemberontakan manusia itu serius dan membawa hukuman, tetapi tidak pernah cukup
kuat untuk menggagalkan rencana Allah. Allah tidak kehilangan arah karena dosa
umat-Nya. Sejarah keselamatan terus bergerak maju. Jika satu generasi gagal,
generasi lain akan dipakai. Teks ini juga meruntuhkan rasa penting diri kita.
Dalam bentangan sejarah Allah yang panjang, kita ini kecil dan sementara.
Kehadiran kita tidak menentukan keberhasilan rencana Tuhan, dan ketidakhadiran
kita tidak menggagalkannya. Dengan atau tanpa kita, kehendak Tuhan tetap
terjadi. Pertanyaannya bukan apakah rencana Tuhan bergantung pada kita,
melainkan apakah kita mau terlibat di dalamnya.
Bangsa Israel akhirnya melihat janji Allah digenapi, tetapi
dari kejauhan. Mereka keluar dari Mesir, namun tidak menikmati Tanah Kanaan.
Mereka bukan penentu rencana Allah, tetapi kehilangan hak istimewa untuk
terlibat penuh di dalamnya. Jika hari ini Tuhan masih melibatkan kita dalam
pekerjaan-Nya, itu bukan karena kita penting bagi-Nya, melainkan karena
anugerah yang diberikan kepada kita. Terlibat dalam rencana Allah bukanlah hak,
melainkan anugerah yang patut disyukuri dan dijalani dengan kerendahan hati.
Saudara, apakah
kita pernah merasa bahwa keberhasilan pekerjaan Tuhan bergantung pada diri
kita, peran kita, atau komunitas kita? Kiranya Firman Tuhan ini mengingatkan
bahwa, terlibat dalam rencana-Nya bukanlah hak, melainkan anugerah—karena itu
marilah kita menjalaninya dengan kerendahan hati dan ketaatan. (RT)

Komentar
Posting Komentar