Penantian Bukan Tanda Ketidakhadiran Tuhan

Senin, 5 Januari 2026
Penantian Bukan Tanda Ketidakhadiran Tuhan
Bacaan Alkitab : Keluaran 32:1


            Keluaran 32:1 membuka kisah kejatuhan Israel bukan dengan dosa yang mencolok, melainkan dengan sebuah kalimat yang tampak sederhana: “Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa lambat turun dari gunung itu …” Tafsiran para penafsir menegaskan bahwa masalah utama ayat ini bukan keterlambatan Musa, melainkan ketidaksabaran umat dalam menunggu Allah. Waktu Tuhan dinilai dengan ukuran manusia, dan penantian yang seharusnya menjadi latihan iman berubah menjadi krisis kepercayaan. Menurut para penafsir, Musa bukan sekadar pemimpin yang absen, tetapi perantara yang sedang berada di hadirat Allah. Maka menunggu Musa berarti menunggu Allah sendiri. Ketika Israel gagal menunggu, mereka tidak hanya kehilangan arah, tetapi juga kehilangan pengenalan yang benar akan Allah yang baru saja menyatakan kasih dan kuasa-Nya melalui pembebasan dari Mesir dan pemberian hukum di Sinai.

            Dalam penantian itu, Israel kehilangan satu hal penting: pengenalan akan Allah yang mahakasih. Allah yang membebaskan mereka dari Mesir bukan Allah yang mudah meninggalkan umat-Nya. Ia bukan Allah yang berubah karena waktu berlalu. Namun ketika kasih Allah tidak lagi diingat, menunggu terasa berbahaya. Maka penantian tidak lagi dipandang sebagai bentuk iman, melainkan sebagai ancaman yang harus segera diatasi. Bangsa Israel ingin kepastian yang bisa dilihat, disentuh, dan dikendalikan. Padahal menunggu adalah salah satu cara paling dalam untuk berkata, “Tuhan, Engkau layak dipercaya, bahkan ketika aku belum melihat apa pun.” Menunggu adalah pengakuan bahwa Allah bekerja menurut waktu-Nya, bukan menurut kecemasan kita.

            Keluaran 32:1 mengingatkan kita bahwa kegagalan menunggu hampir selalu berujung pada pengganti Tuhan. Lembu emas tidak muncul begitu saja; ia lahir dari hati yang tidak lagi yakin akan kasih Allah. Ketika kita lupa bahwa Allah itu mahakasih, kita mulai mencari penopang lain—jalan pintas, solusi instan, atau bentuk “keamanan” buatan sendiri. Namun Alkitab secara konsisten menyatakan bahwa Allah yang kita tunggu adalah Allah yang setia dan penuh kasih. Ia tidak diam untuk mengabaikan, tetapi untuk membentuk. Dalam penantian, Allah sedang mengajar umat-Nya untuk mengenal Dia lebih dalam—bukan hanya kuasa-Nya, tetapi karakter-Nya. Dan pengenalan inilah yang membuat kita mampu bertahan, bukan dengan gelisah, melainkan dengan hormat. 

            Saudara, apakah kita melihat penantian sebagai kehilangan waktu, atau sebagai kesempatan untuk memuliakan Allah? Sebab ketika kita memilih menunggu Tuhan dengan setia, kita sedang menyembah-Nya dengan cara yang paling sunyi namun paling jujur. Karena itu, ketika kita berada dalam masa menunggu jawaban yang belum datang, arah yang belum jelas, atau doa yang terasa belum dijawab ingatlah bahwa Allah tidak pernah berhenti mengasihi. Penantian bukan ruang kosong tanpa kehadiran-Nya, melainkan tempat di mana iman diuji dan hormat kepada Allah dinyatakan. Mari kita belajar menunggu bukan dengan gelisah, tetapi dengan percaya. Bukan dengan menciptakan pengganti Tuhan, tetapi dengan bersandar pada karakter-Nya. Sebab Allah yang mahakasih tidak pernah terlambat, dan waktu-Nya selalu bekerja demi kebaikan umat-Nya. (FS)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan