Menutupi Dosa
Menutupi Dosa
Ayat-ayat
ini menggambarkan percakapan antara Musa dan Harun setelah bangsa Israel
berdosa kepada Allah dengan membuat patung anak lembu emas. Musa datang dengan
kemarahan besar dan rasa khawatir yang mendalam karena tahu bahwa dosa itu bisa
membawa hukuman berat bagi bangsa Israel. Sementara
itu, Harun tampak tidak menyadari betapa seriusnya dosa yang telah mereka
lakukan.
Harun
menunjukkan contoh kepemimpinan yang gagal. Ia lebih memilih mengikuti
keinginan banyak orang daripada menaati perintah Allah. Ia tidak memahami
tanggung jawab dan akibat dari dosa di hadapan Tuhan. Dalam percakapan itu,
Harun bahkan menyalahkan bangsa Israel atas perbuatannya sendiri. Ia berkata
bahwa bangsanya itu jahat dan memaksanya membuat patung lembu emas, seolah-olah
ia tidak punya pilihan lain. Lebih parah lagi, Harun mencoba menutupi
kesalahannya dengan kebohongan. Ia mengatakan bahwa patung lembu emas itu
terbentuk secara ajaib—bahwa setelah ia melempar emas ke dalam api, tiba-tiba
muncullah lembu emas itu. Ia berusaha membuat dosa tampak seperti mujizat,
seolah-olah Tuhan ikut campur tangan dalam perbuatan yang jahat itu.
Saudara,
peristiwa ini memberi pelajaran yang sangat berharga. Sikap seperti Harun
sering kali masih terjadi hingga sekarang. Banyak orang, ketika berbuat salah,
bukannya segera bertobat, malah mencari alasan untuk membenarkan diri. Kita
sering berkata, “Saya berdosa karena keadaan,” atau, “Saya terpaksa,”
bahkan menyalahkan orang lain atas dosa yang kita lakukan. Lebih buruk lagi,
ada yang mencoba menutupi dosa dengan kebohongan rohani—mengatakan bahwa Tuhan
memberkati atau menolong dalam hal yang sebenarnya dosa. Misalnya berkata,
“Puji Tuhan, karena berkat Tuhan saya bisa mendapatkan ini,” padahal yang
diperoleh adalah hal yang tidak benar.
Inilah
bentuk dosa yang sangat dalam—ketika manusia menipu dirinya sendiri dan
menyeret nama Allah ke dalam kebohongan. Karena itu, mari kita belajar dari
kesalahan Harun. Jangan menutupi dosa dengan alasan atau kebohongan. Segeralah
datang kepada Tuhan, akui kesalahan kita, dan mintalah ampun dengan hati yang
sungguh-sungguh. “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan
adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari
segala kejahatan.” — 1 Yohanes 1:9
Saudara, apakah saudara masih bersikap seperti Harun? Jika iya. Segeralah datang kepada Tuhan, akui kesalahan saudara, dan mintalah ampun dengan hati yang sungguh-sungguh. (TM)

Komentar
Posting Komentar