Menjadi Milik Allah di Tengah Arus Dunia

Jumat, 30 Januari 2026
Menjadi Milik Allah di Tengah Arus Dunia
Bacaan Alkitab : Keluaran 34: 18-20

          Dalam bagian ayat 18-20, bangsa Israel yang hidup di tengah-tengah bangsa asing diingatkan untuk tetap hidup sesuai dengan identitas sejati mereka sebagai umat Allah. Allah menegaskan bahwa keberadaan mereka di lingkungan yang berbeda tidak boleh mengaburkan siapa mereka dan kepada siapa mereka menyembah. Ada dua cara utama untuk menunjukkan dan memelihara identitas tersebut yaitu : pertama, identitas umat Allah dinyatakan dengan senantiasa mengingat Allah sebagai Pencipta dan Penebus bahkan ketika hidup di tengah bangsa asing. Hal ini dapat dilakukan melalui perayaan hari raya roti tidak beragi yang mengingatkan Israel akan karya pembebasan Allah dari tanah Mesir (ay. 18). Dengan mengingat peristiwa pembebasan tersebut, Israel diajak untuk tidak sekadar menoleh ke masa lalu secara sentimental, melainkan menghadirkan kembali (re-actualization) kuasa penyelamatan Allah dalam realitas kehidupan mereka saat ini. Perayaan Roti Tidak Beragi menjadi simbol pemisahan diri dari ragi duniawi—yaitu pengaruh nilai-nilai asing yang dapat mengikis iman. Di tengah bangsa asing, identitas kita tidak ditentukan oleh asimilasi budaya, melainkan oleh kesetiaan pada narasi keselamatan yang telah Allah kerjakan.

          Kedua, identitas umat melalui penyerahan total atas hak milik dan masa depan kepada Allah sebagai Pemilik Kehidupan. Hal ini tampak dalam ketetapan mengenai persembahan anak sulung, baik dari manusia maupun ternak (ay. 19-20). Dalam tradisi kuno, "anak sulung" bukan sekadar urutan kelahiran, melainkan simbol dari kekuatan, keberlanjutan garis keturunan, dan tumpuan harapan masa depan sebuah keluarga. Dengan memerintahkan Israel untuk mempersembahkan atau menebus anak sulung mereka, Allah sedang menegaskan sebuah prinsip yang mendasar tentang hidup: bahwa seluruh kehidupan—termasuk apa yang paling berharga bagi kita—adalah bergantung pada Allah. Penyerahan ini bukanlah usaha untuk memperoleh keselamatan, melainkan respons iman dan syukur atas karya penebusan Allah.

          Saudara, prinsip yang sama berlaku bagi kita saat ini. Hidup dalam dunia yang tidak mengenal Allah menuntut kita untuk terus memelihara identitas sebagai anak-anak Allah. Identitas ini tidak terpelihara secara otomatis, melainkan melalui tindakan sehari-hari: dengan terus mengingat bahwa kita telah ditebus dengan harga yang mahal. Ingatan akan karya keselamatan Kristus akan mendorong kita untuk menyingkirkan pengaruh duniawi dalam pola pikir, gaya hidup, dan orientasi hidup, sehingga tidak menjadi serupa dengan dunia (Rm. 12:2). Selain itu, kita dipanggil untuk mempersembahkan yang terbaik kepada Allah sebagai pengakuan akan kedaulatan-Nya atas hidup kita. Ketika Tuhan menjadi prioritas utama, kita belajar menyerahkan masa depan, keluarga, dan pekerjaan ke dalam tangan-Nya. Dalam penyerahan total itulah, identitas kita sebagai milik kepunyaan Allah menjadi nyata dan bercahaya di tengah kegelapan dunia.

          Saudara, mari sejenak kita merenungkan firman yang baru saja kita dengar. Saudara di tengah kesibukan dan tekanan dunia saat ini pola duniawi apa (pola pikir, ambisi, atau kekhawatiran) yang paling sering membuat saya lupa akan status saya sebagai orang yang telah ditebus oleh Tuhan? Kiranya kita terus memelihara ingatan akan karya keselamatan Allah, sehingga hal itu mendorong kita untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya setiap hari, melalui tindakan, pikiran, dan seluruh keberadaan kita. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan