Melihat Kemuliaan Tuhan di Tengah Kerapuhan

Rabu, 21 Januari 2026
Melihat Kemuliaan Tuhan di Tengah Kerapuhan

Bacaan Alkitab : Keluaran 33: 18-20



Dalam Keluaran 33, Musa berdiri di hadapan Tuhan bukan sebagai pemimpin yang kuat dan penuh percaya diri, melainkan sebagai seorang hamba yang sedang terluka dan terbeban. Bangsa Israel baru saja jatuh ke dalam dosa besar dengan menyembah anak lembu emas. Musa merasa gagal memimpin umat yang keras kepala, dan ia sadar bahwa tanpa kehadiran Tuhan, ia tidak sanggup melanjutkan perjalanan menuju tanah perjanjian. Di tengah krisis itu, Musa tidak meminta kekuasaan, strategi, atau tanda yang luar biasa, melainkan memohon, “Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku” (ay. 18). Permintaan ini bukan sekadar keinginan melihat Allah dengan mata jasmani, tetapi kerinduan untuk memperoleh kepastian bahwa Tuhan tetap menyertai dan berkenan berjalan bersama umat-Nya.

Jawaban Tuhan mengingatkan Musa—dan kita—bahwa Allah adalah kudus dan tidak dapat didekati sembarangan (ay. 19a, 20). Tidak ada manusia yang dapat melihat wajah Tuhan dan tetap hidup. Namun Tuhan tidak meninggalkan Musa. Ia menyatakan kemuliaan-Nya kepada Musa Tuhan memperkenankan Musa mengalami kehadiran-Nya dengan cara yang sanggup diterima manusia. Dari bagian ayat ini kita melihat bahwa Tuhan memberi kasih karunia kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengasihani siapa yang dikasihani-Nya. Ini mengajarkan bahwa pengalaman rohani Musa bukanlah hasil usaha atau kesalehan pribadi, melainkan anugerah Tuhan semata. Tuhan tidak terikat oleh tuntutan manusia. Ia bertindak menurut kehendak-Nya yang penuh kasih. Melalui Musa, Tuhan sedang menyatakan bahwa Ia tetap setia kepada umat-Nya.

Saudara, renungan ini mengajak kita bercermin pada hidup kita sendiri. Kita sering ingin tanda yang nyata agar yakin bahwa Tuhan bersama kita. Kita berharap Tuhan menjawab doa dengan cara yang mudah kita pahami. Namun, seperti Musa, kita diajar untuk percaya bahwa kehadiran Tuhan tidak selalu dinyatakan lewat pengalaman yang luar biasa, melainkan melalui kesetiaan-Nya yang tenang di tengah perjalanan hidup kita. Dalam Yesus Kristus, kita mengenal kemuliaan Allah yang dinyatakan melalui kasih yang rela berkorban. Kita dipanggil untuk melangkah maju bukan karena kita kuat atau layak, tetapi karena Tuhan yang penuh kasih setia berjalan bersama kita.

Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah kita menyadari bahwa kehadiran Tuhan dalam hidup saya adalah anugerah, bukan hasil usaha rohani saya? Mari renungkan sejenak dan dengan rendah hati memohon agar Roh Kudus menyingkapkan kesombongan kita. Dan, memohon pertolongan Roh Kudus agar semakin rendah hati di hadapan Allah. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan