Melihat Kemuliaan Tuhan di Tengah Kerapuhan
Melihat Kemuliaan Tuhan di Tengah Kerapuhan
Bacaan Alkitab : Keluaran 33: 18-20
Dalam
Keluaran 33, Musa berdiri di hadapan Tuhan bukan sebagai pemimpin yang kuat dan
penuh percaya diri, melainkan sebagai seorang hamba yang sedang terluka dan
terbeban. Bangsa Israel baru saja jatuh ke dalam dosa besar dengan menyembah
anak lembu emas. Musa merasa gagal memimpin umat yang keras kepala, dan ia
sadar bahwa tanpa kehadiran Tuhan, ia tidak sanggup melanjutkan perjalanan
menuju tanah perjanjian. Di tengah krisis itu, Musa tidak meminta kekuasaan,
strategi, atau tanda yang luar biasa, melainkan memohon, “Perlihatkanlah
kiranya kemuliaan-Mu kepadaku” (ay. 18). Permintaan ini bukan sekadar keinginan
melihat Allah dengan mata jasmani, tetapi kerinduan untuk memperoleh kepastian
bahwa Tuhan tetap menyertai dan berkenan berjalan bersama umat-Nya.
Jawaban
Tuhan mengingatkan Musa—dan kita—bahwa Allah adalah kudus dan tidak dapat
didekati sembarangan (ay. 19a, 20). Tidak ada manusia yang dapat melihat wajah
Tuhan dan tetap hidup. Namun Tuhan tidak meninggalkan Musa. Ia menyatakan
kemuliaan-Nya kepada Musa Tuhan memperkenankan Musa mengalami kehadiran-Nya
dengan cara yang sanggup diterima manusia. Dari bagian ayat ini kita melihat
bahwa Tuhan memberi kasih karunia kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan
mengasihani siapa yang dikasihani-Nya. Ini mengajarkan bahwa pengalaman rohani
Musa bukanlah hasil usaha atau kesalehan pribadi, melainkan anugerah Tuhan
semata. Tuhan tidak terikat oleh tuntutan manusia. Ia bertindak menurut
kehendak-Nya yang penuh kasih. Melalui Musa, Tuhan sedang menyatakan bahwa Ia
tetap setia kepada umat-Nya.
Saudara,
renungan ini mengajak kita bercermin pada hidup kita sendiri. Kita sering ingin
tanda yang nyata agar yakin bahwa Tuhan bersama kita. Kita berharap Tuhan
menjawab doa dengan cara yang mudah kita pahami. Namun, seperti Musa, kita
diajar untuk percaya bahwa kehadiran Tuhan tidak selalu dinyatakan lewat
pengalaman yang luar biasa, melainkan melalui kesetiaan-Nya yang tenang di
tengah perjalanan hidup kita. Dalam Yesus Kristus, kita mengenal kemuliaan
Allah yang dinyatakan melalui kasih yang rela berkorban. Kita dipanggil untuk
melangkah maju bukan karena kita kuat atau layak, tetapi karena Tuhan yang
penuh kasih setia berjalan bersama kita.
Saudara,
mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah
kita menyadari bahwa kehadiran Tuhan dalam hidup saya adalah anugerah, bukan
hasil usaha rohani saya? Mari renungkan sejenak dan dengan rendah hati memohon
agar Roh Kudus menyingkapkan kesombongan kita. Dan, memohon pertolongan Roh
Kudus agar semakin rendah hati di hadapan Allah. (TH)

Komentar
Posting Komentar