Melihat Allah dalam Batas Kasih Karunia
Melihat Allah dalam Batas Kasih Karunia
Dalam Keluaran
33:21–23, Allah menjawab permohonan Musa dengan menjelaskan bagaimana dan
sejauh mana Ia berkenan menyatakan diri-Nya. Allah menempatkan Musa di suatu
“tempat dekat-Ku,” di atas gunung batu. Hal ini menunjukkan bahwa perjumpaan
dengan Allah selalu dimulai dari inisiatif Allah sendiri, bukan dari usaha
manusia. Manusialah yang diundang untuk mendekat, bukan Allah yang dipaksa
untuk menyatakan diri.
Ketika Allah
menyatakan kemuliaan-Nya, Musa ditempatkan di celah gunung batu dan ditudungi
oleh tangan Allah. Ini mengajarkan bahwa Allah yang menyatakan diri-Nya adalah
Allah yang sama yang melindungi manusia dari kedahsyatan kemuliaan-Nya.
Kemuliaan Allah bukan hanya indah, tetapi juga kudus dan dahsyat. Tanpa
perlindungan dan kasih karunia Allah, manusia berdosa tidak sanggup melihat
Allah dan tetap hidup. Allah menegaskan bahwa Musa hanya dapat melihat
“belakang-Ku,” sedangkan wajah-Nya tidak dapat dilihat. Ungkapan ini menegaskan
keterbatasan manusia dalam melihat dan memahami Allah secara penuh. Keterbatasan
ini berakar pada perbedaan hakiki antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Allah
adalah Maha Kudus, kekal, dan tak terbatas, sedangkan manusia dibatasi oleh
ruang, waktu, akal budi, serta keberadaan sebagai mahluk yang berdosa. Oleh
sebab itu, manusia tidak mungkin melihat Allah secara utuh dan penuh. Alkitab
menegaskan bahwa Allah dapat dilihat sejauh Ia berkenan menyatakan diri-Nya.
Sehingga, penglihatan kita akan Allah selalu bersifat dan bergantung pada
penyataan-Nya—melalui firman, karya-Nya dalam sejarah, dan secara paling nyata
melalui Yesus Kristus.
Dalam
kehidupan iman, kita sering menginginkan kejelasan penuh dan jawaban tanpa
misteri. Namun firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa hidup oleh iman berarti
percaya kepada Allah yang menyatakan cukup bagi kita untuk melangkah, bukan
segala sesuatu sekaligus. Melihat Allah melalui kesetiaan-Nya dalam keseharian
hidup sudah cukup bagi manusia yang terbatas. Oleh karena itu, kita dipanggil
untuk hidup dalam kerendahan hati dan kepercayaan. Kita tidak dipanggil untuk
tetap percaya dan taat meskipun kita belum dapat memahami Allah secara utuh.
Allah yang kita kenal sekarang masih diselimuti misteri. Suatu hari kelak, kita
akan mengenal-Nya dengan lebih sempurna. Sementara itu, marilah kita setia
berjalan bersama-Nya.
Saudara,
mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Apakah kita
sudah sepenuhnya percaya kepada Allah yang belum dapat kita lihat sepenuhnya
saat ini namun tetap setia pada perjanjian kepada umat-Nya? Mari berdoa dan
meminta Roh Kudus untuk menolong kita dapat mempercayai Allah sepenuhnya
meskipun belum dapat melihat-Nya secara penuh. (TH)

Komentar
Posting Komentar