Melihat Allah dalam Batas Kasih Karunia

Kamis, 22 Januari 2026
Melihat Allah dalam Batas Kasih Karunia 
Bacaan Alkitab: Keluaran 33:21–23


Dalam Keluaran 33:21–23, Allah menjawab permohonan Musa dengan menjelaskan bagaimana dan sejauh mana Ia berkenan menyatakan diri-Nya. Allah menempatkan Musa di suatu “tempat dekat-Ku,” di atas gunung batu. Hal ini menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Allah selalu dimulai dari inisiatif Allah sendiri, bukan dari usaha manusia. Manusialah yang diundang untuk mendekat, bukan Allah yang dipaksa untuk menyatakan diri.

Ketika Allah menyatakan kemuliaan-Nya, Musa ditempatkan di celah gunung batu dan ditudungi oleh tangan Allah. Ini mengajarkan bahwa Allah yang menyatakan diri-Nya adalah Allah yang sama yang melindungi manusia dari kedahsyatan kemuliaan-Nya. Kemuliaan Allah bukan hanya indah, tetapi juga kudus dan dahsyat. Tanpa perlindungan dan kasih karunia Allah, manusia berdosa tidak sanggup melihat Allah dan tetap hidup. Allah menegaskan bahwa Musa hanya dapat melihat “belakang-Ku,” sedangkan wajah-Nya tidak dapat dilihat. Ungkapan ini menegaskan keterbatasan manusia dalam melihat dan memahami Allah secara penuh. Keterbatasan ini berakar pada perbedaan hakiki antara Sang Pencipta dan ciptaan-Nya. Allah adalah Maha Kudus, kekal, dan tak terbatas, sedangkan manusia dibatasi oleh ruang, waktu, akal budi, serta keberadaan sebagai mahluk yang berdosa. Oleh sebab itu, manusia tidak mungkin melihat Allah secara utuh dan penuh. Alkitab menegaskan bahwa Allah dapat dilihat sejauh Ia berkenan menyatakan diri-Nya. Sehingga, penglihatan kita akan Allah selalu bersifat dan bergantung pada penyataan-Nya—melalui firman, karya-Nya dalam sejarah, dan secara paling nyata melalui Yesus Kristus.

Dalam kehidupan iman, kita sering menginginkan kejelasan penuh dan jawaban tanpa misteri. Namun firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa hidup oleh iman berarti percaya kepada Allah yang menyatakan cukup bagi kita untuk melangkah, bukan segala sesuatu sekaligus. Melihat Allah melalui kesetiaan-Nya dalam keseharian hidup sudah cukup bagi manusia yang terbatas. Oleh karena itu, kita dipanggil untuk hidup dalam kerendahan hati dan kepercayaan. Kita tidak dipanggil untuk tetap percaya dan taat meskipun kita belum dapat memahami Allah secara utuh. Allah yang kita kenal sekarang masih diselimuti misteri. Suatu hari kelak, kita akan mengenal-Nya dengan lebih sempurna. Sementara itu, marilah kita setia berjalan bersama-Nya.

Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Apakah kita sudah sepenuhnya percaya kepada Allah yang belum dapat kita lihat sepenuhnya saat ini namun tetap setia pada perjanjian kepada umat-Nya? Mari berdoa dan meminta Roh Kudus untuk menolong kita dapat mempercayai Allah sepenuhnya meskipun belum dapat melihat-Nya secara penuh. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan