Kreativitas yang Berakar pada Firman
Kreativitas yang Berakar pada Firman
Ketika Musa turun dari gunung Sinai, ia
membawa dua loh batu—firman Allah yang tertulis oleh jari-Nya sendiri. Namun
yang ia temui di bawah gunung adalah pemandangan yang mengejutkan: umat Allah
sedang menari, bernyanyi, dan merayakan sebuah ibadah yang penuh ekspresi,
tetapi kosong dari ketaatan. Anak lembu emas berdiri sebagai pusat perayaan
mereka. Ada musik, ada tarian, ada antusiasme, tetapi tidak ada firman Tuhan.
Di sinilah tragedi ibadah Israel bermula. Ibadah dalam Keluaran 32 bukanlah
ibadah tanpa kreativitas. Justru sebaliknya, mereka sangat kreatif—mereka
membentuk patung, menciptakan perayaan, menyusun ritual, dan membangkitkan
emosi kolektif. Masalahnya bukan pada kreativitas, melainkan pada arah dan
fondasinya. Kreativitas mereka tidak lahir dari firman Allah, tetapi dari
keinginan manusia. Ketika kreativitas dilepaskan dari firman, ibadah berubah
menjadi penyembahan yang menyesatkan.
Teks ini berbicara sangat relevan dengan konteks gereja masa kini. Di satu sisi, ada gereja yang sangat menekankan kreativitas—musik, visual, tata panggung, dan pengalaman ibadah yang menarik. Di sisi lain, ada gereja yang sangat berhati-hati bahkan cenderung menolak segala bentuk kreativitas. Keluaran 32 menolong kita melihat bahwa persoalannya bukan memilih antara kreativitas atau firman, melainkan memastikan bahwa kreativitas selalu tunduk dan diarahkan oleh firman. Manusia memang memiliki kekaguman terhadap kreativitas. Tuhan sendiri adalah Sang Pencipta yang kreatif. Namun kreativitas bukan tujuan akhir ibadah. Ketika umat Israel lebih terpukau pada apa yang bisa mereka buat daripada apa yang Allah firmankan, mereka kehilangan pusat ibadah yang sejati. Musa memecahkan loh batu bukan sekadar sebagai luapan emosi, tetapi sebagai tanda bahwa firman Allah tidak dapat disandingkan dengan penyembahan yang menyimpang. Bahaya terbesar ibadah yang terlalu menekankan hiburan adalah ketika firman menjadi pelengkap, bukan pusat. Ibadah yang “lebih menghibur” belum tentu lebih memuliakan Tuhan. Emosi yang dibangkitkan tanpa kebenaran dapat membuat umat merasa dekat dengan Allah, padahal sedang menjauh dari kehendak-Nya. Ibadah sejati bukan pertama-tama tentang seberapa kita menikmati Tuhan, tetapi seberapa kita tunduk kepada-Nya.
Keluaran 32:15–20 mengingatkan kita
bahwa ibadah sejati menuntut keselarasan antara ekspresi dan ketaatan, antara
kreativitas dan kebenaran. Kreativitas yang sejati dalam ibadah bukanlah yang
paling menarik perhatian manusia, tetapi yang paling setia menyatakan
nilai-nilai firman Tuhan. Ketika firman menjadi pusat, kreativitas menjadi alat
yang indah. Tetapi ketika firman disingkirkan, kreativitas dapat berubah
menjadi berhala baru.
Saudara, gunakanlah kreativitas untuk
memuliakan Tuhan, bukan memuaskan selera. Kreativitas dalam ibadah bukan
tentang tampil menarik atau relevan secara budaya semata, melainkan tentang
menyatakan nilai-nilai firman Tuhan dengan cara yang dapat dipahami dan
dihidupi. Kita dipanggil bukan hanya menjadi penikmat ibadah, tetapi juga penjaga
kemurnian ibadah.
Saudara, apakah kreativitas dalam
ibadah membantu kita semakin memahami Firman Tuhan, atau justru mengalihkan
perhatian kita dari Firman Tuhan? Kiranya setiap bentuk kreativitas
dalam ibadah tidak berhenti pada kekaguman manusia, tetapi menuntun hati kita
semakin tunduk kepada Firman dan memuliakan Allah yang sejati. (RT)

Komentar
Posting Komentar