Kompromi Kecil, Kejatuhan Besar
Kompromi Kecil, Kejatuhan Besar
Dalam Keluaran 34:15–17, Allah memperingatkan Israel dengan sangat serius agar mereka tidak mengikat perjanjian dengan penduduk negeri Kanaan. Peringatan ini bukan semata-mata soal hubungan sosial atau politik, melainkan soal kesetiaan rohani. Allah tahu bahwa kejatuhan umat-Nya jarang terjadi secara tiba-tiba; kejatuhan hampir selalu dimulai dari kompromi kecil yang dibiarkan. Allah tidak berkata, “Jangan langsung menyembah berhala,” tetapi justru menyoroti prosesnya: mengikat perjanjian → makan dari persembahan mereka → akhirnya menyembah ilah mereka. Ini menunjukkan bahwa dosa tidak bekerja secara instan, tetapi bertahap, halus, dan sering kali tampak tidak berbahaya. Yang berbahaya bukan hanya dosa besar, melainkan toleransi terhadap dosa kecil yang terus dinormalisasi.
Masalah utama manusia bukanlah besarnya dosa, melainkan sikap terhadap dosa. Ketika seseorang berkata, “Ini hanya dosa kecil,” sesungguhnya ia sedang menurunkan standar kekudusan Allah menjadi standar kenyamanannya sendiri. Dalam perspektif Alkitab, dosa kecil bukan soal jumlah atau skala, melainkan soal arah hati. Dosa kecil adalah dosa yang kita biarkan, kita maklumi, dan kita jadikan bagian dari hidup tanpa pertobatan. Berhala dalam konteks kita hari ini mungkin bukan patung atau mezbah, tetapi bisa berupa: kebiasaan kecil yang tidak kudus, relasi yang menggerus iman, toleransi terhadap kebohongan kecil, pornografi yang dianggap “sekadar hiburan”, atau ambisi yang perlahan menggantikan Tuhan sebagai pusat hidup. Semua ini jarang dimulai sebagai pemberontakan besar, tetapi sebagai kompromi kecil yang tidak segera ditolak. Secara rohani, dosa bekerja seperti racun dosis rendah: tidak langsung mematikan, tetapi perlahan merusak. Hati menjadi tumpul, nurani melemah, dan kepekaan terhadap suara Tuhan memudar. Pada titik tertentu, seseorang tidak lagi jatuh karena tergoda, tetapi karena sudah terbiasa hidup dalam kompromi.
Saudara, apakah ada dosa yang kita sebut kecil, tetapi sebenarnya sedang membentuk arah hidup kita? Dan apakah ada kebiasaan yang kita normalisasikan, padahal perlahan menjauhkan kita dari Tuhan? Allah tidak memanggil kita untuk sekadar menjauhi dosa besar, tetapi untuk hidup dalam kekudusan yang konsisten, bahkan dalam hal-hal yang kelihatannya sepele. Karena dalam iman Kristen, yang kecil tidak pernah netral: ia sedang membentuk kita menuju kesetiaan yang lebih dalam, atau menuju kejatuhan yang lebih jauh. (RT)

Komentar
Posting Komentar