Ketika Berkat Menjadi Teguran
Ketika Berkat Menjadi Teguran
Ketika bangsa Israel mendengar firman Tuhan yang keras—bahwa
Allah tidak akan berjalan di tengah-tengah mereka karena ketegaran tengkuk
mereka—respons mereka sangat berbeda dari sebelumnya. Alkitab mencatat bahwa
mereka berkabung, tidak ada seorang pun yang mengenakan perhiasannya. Teguran
Tuhan membuka mata mereka. Untuk pertama kalinya setelah pemberontakan anak
lembu emas, bangsa itu menyadari bahwa masalah terbesar mereka bukan sekadar
kehilangan arah, melainkan kehilangan kehadiran Tuhan sendiri.
Perhiasan yang mereka lepaskan bukan benda netral. Perhiasan
itu awalnya adalah pemberian Tuhan. Ketika mereka keluar dari Mesir, Tuhan
sendiri yang menggerakkan hati orang Mesir untuk memberikan emas dan perhiasan
kepada mereka. Berkat itu diberikan sebagai tanda pemeliharaan dan penyertaan
Allah. Namun ironisnya, perhiasan yang Tuhan berikan justru dipakai untuk
melawan Tuhan—dibentuk menjadi anak lembu emas dan dijadikan sarana penyembahan
palsu. Bangsa israel menggunakan berkat-berkat Allah sebagai alat untuk
memberontak terhadap Allah.
Karena itu, ketika Tuhan menegur mereka, respons yang muncul
bukan sekadar rasa takut, melainkan kesadaran. Mereka melepaskan perhiasan
bukan hanya karena Tuhan secara eksplisit memerintahkan mereka melepasakan
perhiasan mereka, tetapi karena mereka sadar bahwa apa yang dahulu mereka
banggakan telah menjadi bukti ketidaksetiaan mereka. Melepaskan perhiasan
adalah pengakuan diam-diam: “Kami telah menyalahgunakan apa yang Engkau
berikan.” Kesedihan mereka bukan hanya karena hukuman, tetapi karena kesadaran
bahwa berkat Tuhan telah mereka pakai untuk merusak relasi dengan Pemberi
berkat itu sendiri.
Peristiwa ini sangat relevan bagi kehidupan orang percaya
masa kini. Banyak orang menikmati berkat Tuhan—waktu, kemampuan, harta,
jabatan, kecerdasan, bahkan pelayanan—tetapi tanpa sadar menggunakan semua itu
untuk hidup jauh dari Tuhan. Berkat yang seharusnya membawa kita semakin
bersyukur justru menjadi alasan untuk mandiri, sombong, dan tidak taat. Kita
menerima dari Tuhan, tetapi hidup seolah-olah Tuhan tidak lagi penting. Keluaran
33:4–6 mengingatkan kita bahwa pertobatan sejati dimulai dari kesadaran akan
penyalahgunaan berkat. Bangsa Israel tidak langsung memperbaiki masa depan
mereka, tetapi mereka mengambil satu langkah penting: mereka berhenti
memamerkan apa yang pernah mereka salahgunakan.
Saudara, kadang Tuhan tidak langsung mengambil berkat itu dari kita. Sebaliknya, Ia menegur dan memberi kesempatan agar kita dapat sadar. Seperti bangsa Israel, Tuhan rindu kita belajar melepaskan—bukan karena berkat itu jahat, tetapi karena hati kita perlu dipulihkan. Sebab yang Tuhan inginkan bukan perhiasan kita, melainkan ketaatan dan kerendahan hati kita di hadapan-Nya.
Saudara, adakah berkat Tuhan dalam hidup kita yang justru
sedang kita pakai untuk melawan Tuhan? Kiranya melalui renungan ini kita
diingatkan bahwa berkat
terbesar dalam hidup kita bukanlah apa yang kita miliki, melainkan siapa yang
menyertai kita. Sebab tanpa kehadiran Tuhan, semua
berkat kehilangan maknanya; tetapi dengan Tuhan, bahkan dalam keterbatasan
sekalipun, hidup kita dipulihkan dan diarahkan kembali kepada ketaatan yang
sejati. Amin. (RT)

Komentar
Posting Komentar