Ketika Berkat Menjadi Teguran

Jumat 16 Januari 2026            
Ketika Berkat Menjadi Teguran 
Bacaan Alkitab : Keluaran 33:4–6

Ketika bangsa Israel mendengar firman Tuhan yang keras—bahwa Allah tidak akan berjalan di tengah-tengah mereka karena ketegaran tengkuk mereka—respons mereka sangat berbeda dari sebelumnya. Alkitab mencatat bahwa mereka berkabung, tidak ada seorang pun yang mengenakan perhiasannya. Teguran Tuhan membuka mata mereka. Untuk pertama kalinya setelah pemberontakan anak lembu emas, bangsa itu menyadari bahwa masalah terbesar mereka bukan sekadar kehilangan arah, melainkan kehilangan kehadiran Tuhan sendiri.

Perhiasan yang mereka lepaskan bukan benda netral. Perhiasan itu awalnya adalah pemberian Tuhan. Ketika mereka keluar dari Mesir, Tuhan sendiri yang menggerakkan hati orang Mesir untuk memberikan emas dan perhiasan kepada mereka. Berkat itu diberikan sebagai tanda pemeliharaan dan penyertaan Allah. Namun ironisnya, perhiasan yang Tuhan berikan justru dipakai untuk melawan Tuhan—dibentuk menjadi anak lembu emas dan dijadikan sarana penyembahan palsu. Bangsa israel menggunakan berkat-berkat Allah sebagai alat untuk memberontak terhadap Allah.

Karena itu, ketika Tuhan menegur mereka, respons yang muncul bukan sekadar rasa takut, melainkan kesadaran. Mereka melepaskan perhiasan bukan hanya karena Tuhan secara eksplisit memerintahkan mereka melepasakan perhiasan mereka, tetapi karena mereka sadar bahwa apa yang dahulu mereka banggakan telah menjadi bukti ketidaksetiaan mereka. Melepaskan perhiasan adalah pengakuan diam-diam: “Kami telah menyalahgunakan apa yang Engkau berikan.” Kesedihan mereka bukan hanya karena hukuman, tetapi karena kesadaran bahwa berkat Tuhan telah mereka pakai untuk merusak relasi dengan Pemberi berkat itu sendiri.

Peristiwa ini sangat relevan bagi kehidupan orang percaya masa kini. Banyak orang menikmati berkat Tuhan—waktu, kemampuan, harta, jabatan, kecerdasan, bahkan pelayanan—tetapi tanpa sadar menggunakan semua itu untuk hidup jauh dari Tuhan. Berkat yang seharusnya membawa kita semakin bersyukur justru menjadi alasan untuk mandiri, sombong, dan tidak taat. Kita menerima dari Tuhan, tetapi hidup seolah-olah Tuhan tidak lagi penting. Keluaran 33:4–6 mengingatkan kita bahwa pertobatan sejati dimulai dari kesadaran akan penyalahgunaan berkat. Bangsa Israel tidak langsung memperbaiki masa depan mereka, tetapi mereka mengambil satu langkah penting: mereka berhenti memamerkan apa yang pernah mereka salahgunakan.

Saudara, kadang Tuhan tidak langsung mengambil berkat itu dari kita. Sebaliknya, Ia menegur dan memberi kesempatan agar kita dapat sadar. Seperti bangsa Israel, Tuhan rindu kita belajar melepaskan—bukan karena berkat itu jahat, tetapi karena hati kita perlu dipulihkan. Sebab yang Tuhan inginkan bukan perhiasan kita, melainkan ketaatan dan kerendahan hati kita di hadapan-Nya.

Saudara, adakah berkat Tuhan dalam hidup kita yang justru sedang kita pakai untuk melawan Tuhan? Kiranya melalui renungan ini kita diingatkan bahwa berkat terbesar dalam hidup kita bukanlah apa yang kita miliki, melainkan siapa yang menyertai kita. Sebab tanpa kehadiran Tuhan, semua berkat kehilangan maknanya; tetapi dengan Tuhan, bahkan dalam keterbatasan sekalipun, hidup kita dipulihkan dan diarahkan kembali kepada ketaatan yang sejati. Amin. (RT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan