Ketaatan : Respons Sejati atas Firman
Ketaatan : Respons Sejati atas Firman
Saudara-saudara yang terkasih, Keluaran 32:7–10 membawa kita pada bagian penting dalam kisah anak lembu emas. Pada bagian ini, narasi beralih dari gambaran kekacauan yang terjadi di tengah bangsa Israel kepada hukuman Allah karena sikap umat-Nya. Allah menyampaikan kepada Musa bahwa bangsa Israel telah menyimpang dari jalan yang diperintahkan-Nya. Allah memerintahkan Musa untuk turun dari Gunung Sinai dan melihat sendiri apa yang sedang dilakukan bangsa itu: mereka membuat patung anak lembu emas sebagai representasi visual dari Allah yang mereka sembah. Ironisnya, peristiwa ini terjadi tidak lama setelah Allah memberikan hukum Taurat-Nya, termasuk larangan tegas untuk tidak membuat dan menyembah berhala (Kel. 20:4–5).
Allah sebelumnya telah mengantisipasi kecenderungan bangsa Israel untuk membuat patung sebagai representasi Allah. Cara antisipasi yang Allah lakukan adalah dengan memberikan larangan yang sangat jelas, “Jangan membuat bagimu berhala yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas… janganlah sujud menyembahnya atau beribadah kepadanya” (Kel. 20:4). Larangan ini bukan hanya disertai perintah, tetapi juga pernyataan tentang karakter Allah sebagai Allah yang cemburu. Kecemburuan Allah bukanlah emosi manusiawi yang egois, melainkan ekspresi kasih sebagaimana tertulis dalam perjanjian-Nya. Allah menuntut kesetiaan penuh karena Ia tahu bahwa penyembahan yang salah akan menghancurkan umat-Nya. Bangsa Israel tidak meninggalkan Allah yang membawa mereka keluar dari Mesir. Mereka tetap menyembah Allah, tetapi dengan cara yang salah. Mereka memvisualisasikan Allah dalam bentuk patung. Inilah pelanggaran terbesar mereka yaitu menyembah Allah dengan cara yang salah.
Israel jatuh ke dalam dosa anak lembu emas setelah menerima hukum Taurat secara langsung dari Allah. Karena itu, ketidaktaatan mereka menjadi sangat serius. Firman yang sudah diterima tetapi tidak ditaati justru menjadi dasar penghakiman Allah. Hal ini menjadi peringatan penting bagi jemaat masa kini. Setelah mendengar firman Tuhan, sikap-sikap negatif yang dapat muncul antara lain: mengabaikan firman yang sudah dipahami, menganggap ringan dosa yang jelas dilarang Tuhan, menunda-nunda pertobatan serta membiasakan kompromi dengan dosa. Sikap-sikap ini perlahan-lahan dapat menumpulkan kepekaan rohani, membuat hati tidak lagi peka terhadap bimbingan Roh Kudus melalui firman Tuhan. Sebaliknya respons yang dikehendaki Allah setelah mendengar firman-Nya adalah : ketaatan yang nyata, kerendahan hati untuk menerima teguran, pertobatan sejati, serta kesediaan menerapkan prinsip firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Saudara, keluaran 32: 7-10 mengingatkan kita bahwa iman yang benar menuntut pembaruan cara berpikir dan ketaatan hidup. Allah memanggil umat-Nya bukan hanya untuk mengenal firman, tetapi untuk hidup sesuai dengan firman itu. Ketidaktaatan setelah menerima firman adalah tanda ketegaran hati yang serius di hadapan Allah. Karena itu, marilah kita senantiasa memohon pertolongan Roh Kudus agar hati kita dilembutkan, iman kita dimurnikan, dan hidup kita semakin selaras dengan kehendak Tuhan.
Saudara,
mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara,
langkah nyata apa yang sudah saudara ambil hari ini untuk merespons firman
Tuhan dengan ketaatan yang nyata? Mari mulai untuk mengambil langkah nyata
untuk menjadikan firman Tuhan bukan sekedar pengetahuan saja tetapi sarana
anugerah untuk membentuk kita serupa gambaran-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar