Kemuliaan Allah dan Kerendahan Hati umat-Nya
Kemuliaan Allah dan Kerendahan Hati umat-Nya
Keluaran 34:8–9 mencatat respons pertama
manusia setelah Allah menyatakan nama dan karakter-Nya. Ayat ini dimulai dengan
tindakan yang sangat cepat dan spontan: “Lalu
Musa langsung berlutut ke tanah dan sujud menyembah.” Kata
“Langsung” menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Allah yang menyatakan diri-Nya
tidak pernah netral. Ketika kemuliaan Allah dinyatakan, manusia tidak bisa
tinggal diam—ia akan tersungkur atau menjauh. Musa memilih tersungkur. Sikap
Musa ini penting, karena ia bukan orang yang baru mengenal Tuhan. Ia telah
berkali-kali berjumpa dengan Allah, memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir,
dan berbicara dengan Allah secara langsung. Namun setiap kali Allah menyatakan
kemuliaan-Nya, respons Musa selalu sama: dengan kerendahan hati yang
semakin dalam. Hal ini menegaskan bahwa kedewasaan
rohani tidak membuat seseorang semakin tidak menghormati Tuhan, sebaliknya mereka semakin tunduk dengan rendah hati.
Perjumpaan sejati dengan Tuhan tidak pernah menghasilkan manusia yang sombong secara rohani. Sebaliknya, setiap perjumpaan dengan Allah yang hidup selalu melahirkan umat yang rendah hati. Itulah yang dapat kita lihat dalam Keluaran 34:8–9. Ketika TUHAN menyatakan diri-Nya kepada Musa—Allah yang penuh kasih setia namun kudus dan adil—respons Musa bukanlah rasa percaya diri rohani, melainkan sikap yang sangat dalam: ia segera bersujud dan menyembah. Musa tahu dengan sangat sadar bahwa ia tidak layak. Bahkan lebih dari itu, ia mengakui bahwa bangsa yang dipimpinnya adalah bangsa yang “tegar tengkuk.” Namun kesadaran akan ketidaklayakan ini bukanlah bentuk keputusasaan atau penolakan diri yang negatif. Ini adalah kerendahan hati yang lahir dari terang kemuliaan Allah. Ketika manusia benar-benar berjumpa dengan Tuhan, ia tidak sibuk membela dirinya, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain, dan tidak membangun klaim rohani apa pun. Ia berdiri telanjang di hadapan Allah yang kudus. Allah menyatakan kemuliaan-Nya bukan hanya melalui peristiwa-peristiwa yang spektakuler, tetapi juga melalui kejadian-kejadian yang menyakitkan. Anak lembu emas, penghancuran loh batu, teguran keras Allah—semua itu adalah bagian dari cara Allah menyatakan siapa Dia sebenarnya.
Saudara, apakah kita
sungguh menginginkan Tuhan berjalan di tengah hidup kita, meskipun itu berarti kita harus siap ditegur dan dibentuk
demi kekudusan? Bagi jemaat hari ini, firman ini menegur
sekaligus menghibur. Kita hidup di zaman yang mendorong kepercayaan diri
rohani, pencitraan pelayanan, dan klaim keberhasilan. Namun Keluaran 34:8–9
mengingatkan kita bahwa Allah
dimuliakan bukan lewat manusia yang merasa layak, tetapi lewat umat yang sadar
ketidaklayakannya dan berserah sepenuhnya. Kemuliaan Allah bersinar
paling terang ketika umat-Nya berjalan dalam kerendahan hati, taat di tengah
proses yang menyakitkan, dan percaya bahwa pertolongan Tuhan selalu datang
tepat pada waktunya. (FS)
Komentar
Posting Komentar