Kemuliaan Allah dan Kerendahan Hati umat-Nya

Senin, 26 Januari 2026
Kemuliaan Allah dan Kerendahan Hati umat-Nya
Bacaan Alkitab : Keluaran 34:8-9


Keluaran 34:8–9 mencatat respons pertama manusia setelah Allah menyatakan nama dan karakter-Nya. Ayat ini dimulai dengan tindakan yang sangat cepat dan spontan: Lalu Musa langsung berlutut ke tanah dan sujud menyembah. Kata “Langsung” menunjukkan bahwa perjumpaan dengan Allah yang menyatakan diri-Nya tidak pernah netral. Ketika kemuliaan Allah dinyatakan, manusia tidak bisa tinggal diam—ia akan tersungkur atau menjauh. Musa memilih tersungkur. Sikap Musa ini penting, karena ia bukan orang yang baru mengenal Tuhan. Ia telah berkali-kali berjumpa dengan Allah, memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, dan berbicara dengan Allah secara langsung. Namun setiap kali Allah menyatakan kemuliaan-Nya, respons Musa selalu sama: dengan kerendahan hati yang semakin dalam. Hal ini menegaskan bahwa kedewasaan rohani tidak membuat seseorang semakin tidak menghormati Tuhan, sebaliknya  mereka semakin tunduk dengan rendah hati.

Perjumpaan sejati dengan Tuhan tidak pernah menghasilkan manusia yang sombong secara rohani. Sebaliknya, setiap perjumpaan dengan Allah yang hidup selalu melahirkan umat yang rendah hati. Itulah yang dapat kita lihat dalam Keluaran 34:8–9. Ketika TUHAN menyatakan diri-Nya kepada Musa—Allah yang penuh kasih setia namun kudus dan adil—respons Musa bukanlah rasa percaya diri rohani, melainkan sikap yang sangat dalam: ia segera bersujud dan menyembah. Musa tahu dengan sangat sadar bahwa ia tidak layak. Bahkan lebih dari itu, ia mengakui bahwa bangsa yang dipimpinnya adalah bangsa yang “tegar tengkuk.” Namun kesadaran akan ketidaklayakan ini bukanlah bentuk keputusasaan atau penolakan diri yang negatif. Ini adalah kerendahan hati yang lahir dari terang kemuliaan Allah. Ketika manusia benar-benar berjumpa dengan Tuhan, ia tidak sibuk membela dirinya, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain, dan tidak membangun klaim rohani apa pun. Ia berdiri telanjang di hadapan Allah yang kudus. Allah menyatakan kemuliaan-Nya bukan hanya melalui peristiwa-peristiwa yang spektakuler, tetapi juga melalui kejadian-kejadian yang menyakitkan. Anak lembu emas, penghancuran loh batu, teguran keras Allah—semua itu adalah bagian dari cara Allah menyatakan siapa Dia sebenarnya.

Saudara, apakah kita sungguh menginginkan Tuhan berjalan di tengah hidup kita, meskipun itu berarti kita harus siap ditegur dan dibentuk demi kekudusan? Bagi jemaat hari ini, firman ini menegur sekaligus menghibur. Kita hidup di zaman yang mendorong kepercayaan diri rohani, pencitraan pelayanan, dan klaim keberhasilan. Namun Keluaran 34:8–9 mengingatkan kita bahwa Allah dimuliakan bukan lewat manusia yang merasa layak, tetapi lewat umat yang sadar ketidaklayakannya dan berserah sepenuhnya. Kemuliaan Allah bersinar paling terang ketika umat-Nya berjalan dalam kerendahan hati, taat di tengah proses yang menyakitkan, dan percaya bahwa pertolongan Tuhan selalu datang tepat pada waktunya. (FS)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan