Kasih yang Tidak Berubah, Hidup yang Harus Berubah

Jumat, 9 Januari 2026
Kasih yang Tidak Berubah, Hidup yang Harus Berubah 
Bacaan Alkitab : Keluaran 32:14

Saudara yang terkasih, Keluaran 32:14 sering dibaca secara keliru seolah-olah Allah berubah pikiran karena doa Musa. Pemahaman seperti ini berisiko merendahkan kemuliaan Allah. Alkitab dengan konsisten menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang tidak berubah—baik dalam natur, kehendak, maupun karakter-Nya. Ia tetap kudus, adil, dan penuh kasih, dari kekekalan sampai kekekalan. Ketika Alkitab menyatakan bahwa Tuhan “menyesal” atau “berbalik” dari rencana-Nya, hal itu bukanlah tanda ketidaksempurnaan Allah, melainkan bahasa manusia (anthropomorphic language) yang dipakai untuk menjelaskan tindakan Allah dalam relasi dengan manusia. Perubahan bukan terjadi pada diri Allah, melainkan pada cara manusia mengalami karya-Nya. Sejak semula, Allah adalah Allah yang mengasihi umat-Nya dan setia pada perjanjian-Nya. Karena itu, doa Musa tidak mengubah Allah, tetapi menyingkapkan siapa Allah itu sesungguhnya.

Pengampunan yang Allah berikan bukan hasil tekanan doa manusia, tetapi perwujudan dari kasih Allah yang telah ada sejak semula. Justru melalui pengampunan itu, Allah menyatakan ketidakberubahan-Nya. Ia tetap Allah yang maha kasih, bahkan ketika umat-Nya gagal. Hukuman dan belas kasihan bukanlah dua sisi yang saling bertentangan dalam diri Allah, melainkan satu kesatuan dari kekudusan dan kasih-Nya. Ia menghukum dosa karena Ia kudus, dan Ia mengampuni karena Ia setia pada kasih-Nya. Menariknya, Allah yang tidak berubah itu membuka ruang dialog dengan Musa. Ia tidak menutup diri dalam kemahakuasaan-Nya, tetapi dengan penuh kasih mengundang manusia untuk masuk dalam percakapan dengan-Nya. Dialog ini bukan tanda kelemahan Allah, melainkan bukti kerelaan-Nya untuk melibatkan manusia dalam rencana-Nya. Doa Musa menjadi sarana yang Allah pakai untuk menyatakan kehendak-Nya yang penuh kasih dan setia.

Saudara, dalam kehidupan masa kini, ketika kita berbuat salah tetapi belum juga menerima hukuman dari Allah, kita perlu berhati-hati menafsirkan keadaan itu. Penundaan hukuman bukanlah tanda bahwa Allah menutup mata terhadap dosa, melainkan tanda bahwa kasih-Nya sedang memberi ruang pertobatan. Itu adalah anugerah, bukan pembenaran. Allah yang tidak berubah tetap membenci dosa, namun dalam kasih-Nya Ia menahan hukuman untuk memanggil kita kembali kepada relasi yang benar dengan-Nya. Karena itu, anugerah tidak pernah dimaksudkan untuk membuat kita terus hidup dalam kejahatan, melainkan untuk membawa perubahan hidup. Kesabaran Allah adalah undangan untuk berbalik, bukan alasan untuk bertahan dalam dosa. Setiap kesempatan yang Tuhan berikan adalah panggilan untuk merespons kasih-Nya dengan pertobatan dan hidup yang diperbarui.

Saudara ketika Allah belum menghukum kita atas kesalahan kita, apakah kita melihatnya sebagai anugerah untuk bertobat atau kesempatan untuk terus menunda perubahan? Kiranya kita memilih melihatnya sebagai anugerah untuk bertobat, bukan alasan untuk menunda perubahan. (RT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan