Kasih yang Tidak Berubah, Hidup yang Harus Berubah
Kasih yang Tidak Berubah, Hidup yang Harus Berubah
Saudara yang terkasih, Keluaran 32:14 sering dibaca secara keliru seolah-olah Allah berubah pikiran karena doa Musa. Pemahaman seperti ini berisiko merendahkan kemuliaan Allah. Alkitab dengan konsisten menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang tidak berubah—baik dalam natur, kehendak, maupun karakter-Nya. Ia tetap kudus, adil, dan penuh kasih, dari kekekalan sampai kekekalan. Ketika Alkitab menyatakan bahwa Tuhan “menyesal” atau “berbalik” dari rencana-Nya, hal itu bukanlah tanda ketidaksempurnaan Allah, melainkan bahasa manusia (anthropomorphic language) yang dipakai untuk menjelaskan tindakan Allah dalam relasi dengan manusia. Perubahan bukan terjadi pada diri Allah, melainkan pada cara manusia mengalami karya-Nya. Sejak semula, Allah adalah Allah yang mengasihi umat-Nya dan setia pada perjanjian-Nya. Karena itu, doa Musa tidak mengubah Allah, tetapi menyingkapkan siapa Allah itu sesungguhnya.
Pengampunan yang Allah berikan bukan hasil tekanan doa
manusia, tetapi perwujudan dari kasih Allah yang telah ada sejak semula. Justru
melalui pengampunan itu, Allah menyatakan ketidakberubahan-Nya. Ia tetap Allah
yang maha kasih, bahkan ketika umat-Nya gagal. Hukuman dan belas kasihan
bukanlah dua sisi yang saling bertentangan dalam diri Allah, melainkan satu
kesatuan dari kekudusan dan kasih-Nya. Ia menghukum dosa karena Ia kudus, dan
Ia mengampuni karena Ia setia pada kasih-Nya. Menariknya, Allah yang tidak
berubah itu membuka ruang dialog dengan Musa. Ia tidak menutup diri dalam
kemahakuasaan-Nya, tetapi dengan penuh kasih mengundang manusia untuk masuk
dalam percakapan dengan-Nya. Dialog ini bukan tanda kelemahan Allah, melainkan
bukti kerelaan-Nya untuk melibatkan manusia dalam rencana-Nya. Doa Musa menjadi
sarana yang Allah pakai untuk menyatakan kehendak-Nya yang penuh kasih dan
setia.
Saudara, dalam kehidupan masa kini, ketika kita berbuat
salah tetapi belum juga menerima hukuman dari Allah, kita perlu berhati-hati
menafsirkan keadaan itu. Penundaan hukuman bukanlah tanda bahwa Allah menutup
mata terhadap dosa, melainkan tanda bahwa kasih-Nya sedang memberi ruang
pertobatan. Itu adalah anugerah, bukan pembenaran. Allah yang tidak berubah
tetap membenci dosa, namun dalam kasih-Nya Ia menahan hukuman untuk memanggil
kita kembali kepada relasi yang benar dengan-Nya. Karena itu, anugerah tidak
pernah dimaksudkan untuk membuat kita terus hidup dalam kejahatan, melainkan
untuk membawa perubahan hidup. Kesabaran Allah adalah undangan untuk berbalik,
bukan alasan untuk bertahan dalam dosa. Setiap kesempatan yang Tuhan berikan
adalah panggilan untuk merespons kasih-Nya dengan pertobatan dan hidup yang
diperbarui.
Saudara ketika Allah belum menghukum kita atas kesalahan
kita, apakah kita melihatnya sebagai anugerah untuk bertobat atau kesempatan
untuk terus menunda perubahan? Kiranya kita memilih melihatnya sebagai anugerah
untuk bertobat, bukan alasan untuk menunda perubahan. (RT)

Komentar
Posting Komentar