Kasih Karunia yang Tidak Berkompromi
Kasih Karunia yang Tidak Berkompromi
Bacaan Alkitab : Keluaran 34:12-14
Setelah kejatuhan
Israel dalam dosa penyembahan anak lembu emas, pembaruan perjanjian dalam
Keluaran 34 sering dibaca sebagai tanda kelembutan Allah. Namun pembacaan
seperti ini berisiko menumpulkan pesan utama teks. Allah memang memperbaharui perjanjian-Nya, tetapi Ia melakukannya tanpa
melunakkan tuntutan kekudusan-Nya. Pembaruan perjanjian bukanlah bentuk
toleransi terhadap dosa, melainkan penegasan
ulang otoritas Allah yang mutlak atas umat-Nya. Dalam Keluaran 34:12–14.
Ia memberi peringatan yang jelas: jangan membuat perjanjian dengan
bangsa-bangsa lain, jangan menyembah allah lain, dan jangan mencampuradukkan
ibadah. Bahasa yang dipakai bukan bahasa tawar-menawar, melainkan bahasa perintah yang tidak bisa
dinegosiasikan. Pembaruan perjanjian ini memperlihatkan sebuah kebenaran
penting: kasih karunia Allah tidak
membuat Dia menjadi permisif. Allah tetap tegas terhadap dosa, tidak
berkompromi terhadap penyembahan berhala, dan tidak menurunkan standar
kesetiaan. Ketegasan ini bukanlah ketiadaan kasih, melainkan kesetiaan Allah pada kekudusan-Nya sendiri.
Allah tidak berubah hanya karena umat-Nya gagal.
Penegasan ini
mencapai klimaksnya pada ayat 14: “Sebab TUHAN, yang nama-Nya cemburu, adalah
Allah yang cemburu.” Di sini Allah bukan hanya menyatakan sifat-Nya, tetapi menyatakan identitas-Nya. Nama
“Cemburu” menunjukkan bahwa Allah secara aktif menolak sikap ketidaksetiaan
dalam hubungan perjanjian. Ini bukan kecemburuan yang egois atau emosional,
melainkan kecemburuan yang kudus,
eksklusif, dan menuntut loyalitas total. Allah tidak memberi opsi untuk
berbagi hati. Ia tidak berkata, “Sembahlah Aku lebih banyak,” tetapi, “Jangan
menyembah allah lain.” Ini adalah bahasa kedaulatan. Allah yang benar tidak bersaing—Ia memerintah. Maka kecemburuan
Allah adalah ekspresi kasih yang tidak berkompromi: Ia lebih memilih
mengguncang kenyamanan umat-Nya daripada membiarkan mereka hidup dalam
kebinasaan.
Dengan demikian,
pembaruan perjanjian ini tidak menampilkan Allah yang lebih lunak setelah dosa
besar Israel, melainkan Allah yang semakin
memperjelas batas kekudusan-Nya secara mutlak. Kasih karunia tidak
menghapus ketegasan Allah terhadap dosa; justru kasih karunia itulah yang
memberi kesempatan untuk kembali hidup di bawah pemerintahan kekudusan-Nya.
Saudara di masa kini, banyak orang menginginkan Allah yang mengampuni tetapi tidak menuntut, Allah yang mengasihi tetapi tidak menegur. Namun Allah kita tidak seperti itu. Allah yang memperbaharui perjanjian adalah Allah yang tegas, kudus, dan tidak bisa dinegosiasikan dalam hal kesetiaan. Jika hari ini Firman Tuhan terasa menekan, menegur, bahkan mengguncang kenyamanan kita, itu bukan tanda Allah menjauh. Itu tanda bahwa Ia masih memerintah atas hidup kita. Allah yang tidak pernah menegur adalah Allah yang membiarkan. Tetapi Allah yang menegur dengan tegas adalah Allah yang masih mengklaim kita sebagai milik-Nya dan memberi kita kesempatan untuk berubah.
Saudara,
apakah kita melihat teguran Tuhan sebagai ancaman atau
sebagai bukti kasih-Nya kepada kita? Saudara percayalah bahwa di balik setiap
teguran Tuhan, selalu ada kasih yang ingin memulihkan. Yang perlu kita tanyakan
bukan seberapa keras Tuhan menegur, tetapi seberapa siap kita taat. (RT)

Komentar
Posting Komentar