Iman yang Tak Terlihat: Menunggu dan Mengenali Kehadiran Allah
Iman yang Tak Terlihat: Menunggu dan Mengenali Kehadiran Allah
Hati bangsa Israel mulai berubah. Ketakutan
perlahan menggantikan keyakinan. Mereka tidak berkata bahwa Allah telah pergi,
tetapi mereka mulai bertanya-tanya: Di
mana Dia sekarang? Mereka datang kepada Harun, bukan untuk
menyangkal Allah, melainkan untuk menyamakannya.
“Buatlah bagi kami allah yang berjalan di depan kami,” kata mereka. Bukan allah
lain—tetapi allah yang bisa mereka lihat. Harun pun mengumpulkan emas,
meleburkan perhiasan yang dulu dipakai sebagai tanda pembebasan, dan
membentuknya menjadi anak lembu. Dari emas yang sama, lahirlah pengganti Allah.
Ketika patung itu berdiri, Harun berkata, “Inilah Allahmu, hai Israel.”
Di saat itulah tragedi rohani terjadi. Allah yang hidup disamakan dengan benda
mati. Allah yang berbicara dari api disederhanakan menjadi bentuk yang bisa
disentuh. Bukan karena Allah berhenti hadir, tetapi karena manusia berhenti
mengenali-Nya. Bangsa itu membutuhkan sosok visual. Mereka ingin iman yang bisa
dilihat, bukan iman yang harus dipercaya. Mereka rindu kepastian instan, bukan
relasi yang menuntut penantian.
Masalah terbesar mereka bukan emas, bukan
patung, melainkan iman. Mereka belum siap mempercayai Allah yang tak kelihatan.
Mereka lupa bahwa iman adalah kemampuan mengenali Allah justru ketika Dia tidak
dapat dilihat. Pergumulan mereka adalah kegagalan menyadari bahwa Allah tidak
pernah meninggalkan mereka—meski wujud-Nya tidak dapat disentuh. Bertahun-tahun
kemudian, Yesus akan berkata kepada murid-Nya: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”
Ucapan itu seolah menjadi jawaban atas tragedi di Sinai. Bahagia bukan mereka
yang memiliki bukti visual, melainkan mereka yang mengenal Allah dengan iman..
Keluaran 32:2-6 mengingatkan kita bahwa bahaya terbesar iman bukanlah ketika Allah tidak hadir, melainkan ketika kita berhenti mengenali kehadiran-Nya. Bangsa Israel jatuh bukan karena Allah meninggalkan mereka, tetapi karena mereka menuntut Allah untuk menjadi terlihat dan dapat dijelaskan. Hari ini, kita pun sering berada di persimpangan yang sama. Saat doa belum dijawab, saat Tuhan terasa diam, dan saat jalan hidup tampak kabur, godaan terbesar bukan untuk menyangkal Allah, melainkan untuk menggantikan-Nya dengan sesuatu yang lebih mudah dilihat dan dirasakan. Namun firman Tuhan menegaskan: iman tidak lahir dari apa yang mata lihat, melainkan dari pengenalan akan Allah yang setia. Berbahagialah kita, jika di tengah ketidakpastian, kita tetap memilih percaya. Berbahagialah kita, jika dalam penantian, kita tidak membentuk allah versi kita sendiri, tetapi tetap bersandar pada Allah yang hidup.
Saudara, apakah aku cenderung mengharapkan tanda visual untuk
menguatkan imanku, ataukah aku bisa mempercayai Allah meskipun Dia tidak selalu
tampak?
Biarlah Kiranya kita belajar menunggu tanpa menyamakan Allah, percaya tanpa
menuntut bukti visual, dan setia meski belum melihat. Sebab Allah tidak pernah
pergi—kitalah yang dipanggil untuk terus mengenali-Nya. (FS)

Komentar
Posting Komentar