Iman Yang Berdiri Berseberangan Dengan Dunia

Selasa, 13 Januari 2026
Iman Yang Berdiri Berseberangan Dengan Dunia 
Bacaan Alkitab : Keluaran 32:25-29

Kisah dalam Keluaran 32:25–29 membawa kita pada satu momen krusial dalam sejarah umat Allah: saat iman tidak lagi bisa disembunyikan di balik simbol, tetapi harus dinyatakan lewat keberpihakan yang tegas. Setelah dosa anak lembu emas, Musa berdiri di pintu perkemahan dan berseru, “Siapa di pihak TUHAN, datanglah kepadaku!” (Kel. 32:26). Seruan ini bukan sekadar ajakan emosional, melainkan pemisahan rohani yang tajam. Di hadapan dosa yang telah dinormalisasi, Tuhan tidak menawarkan jalan tengah. Ayat ini menyingkapkan prinsip mendasar iman Alkitabiah: kesetiaan kepada Allah selalu menuntut sikap yang jelas. Orang Lewi yang datang kepada Musa tidak hanya menyatakan iman dengan kata-kata, tetapi dengan ketaatan yang mahal dan berisiko. Tindakan mereka menunjukkan bahwa kekudusan Allah tidak bisa dipelihara melalui toleransi terhadap dosa, melainkan melalui ketaatan yang rela kehilangan penerimaan manusia.

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa iman sejati selalu bersifat konfrontatif—bukan terhadap manusia, tetapi terhadap dosa dan sistem yang menentang Allah. Tidak ada iman yang netral, dan tidak ada ketaatan tanpa konsekuensi. Pertanyaannya bukan apakah kita beragama? tetapi di pihak siapa kita berdiri ketika kebenaran dan kompromi saling berhadapan. Di zaman sekarang, pedang yang menggambarkan integritas dan kesetiaan terhadap Tuhan tidak lagi di tangan orang Lewi, tetapi ada di tangan kita. Integritas adalah bentuk penghakiman terhadap  dunia masa kini. Ketika kita jujur di tengah budaya manipulatif, kita sedang menghakimi. Ketika kita setia di tengah generasi yang merayakan ketidaksetiaan, kita sedang menghakimi. Ketika kita menolak kompromi, maka dunia merasa ditelanjangi.

Konsistensi dalam ketaatan kepada Tuhan tidak pernah netral. Ketaatan yang mutlak akan selalu dimusuhi oleh sekitar kita. Bukan karena kita menyerang, tetapi karena keberadaan kita menolak untuk ikut arus. Dalam posisi defensif—hanya dengan tetap hidup benar—kita sudah dianggap ancaman. Namun ada saatnya kesetiaan menuntut sikap ofensif. Bukan memusuhi orang, tetapi memusuhi apa yang tidak disukai Allah. Mengikut Tuhan berarti siap kehilangan penerimaan dunia. Tetapi di situlah kekudusan Allah diwujudkan. Allah tidak memakai mayoritas yang nyaman, tetapi minoritas yang konsisten. Seperti orang Lewi, kita dipanggil bukan untuk menyenangkan dunia, melainkan untuk menjaga hadirat Allah tetap kudus di tengah zaman yang rusak. Sebab kekudusan Allah selalu punya harga—dan harganya sering bernama penolakan. Namun lebih baik dimusuhi dunia daripada kehilangan perkenanan Tuhan.

Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk menyesuaikan diri dengan dunia, melainkan untuk berdiri sebagai tanda perlawanan terhadap dosa. Ketika kita memilih setia, dunia mungkin memusuhi kita. Namun justru melalui hidup yang berintegritas dan konsisten, Allah sedang mewujudkan kekudusan-Nya.

Saudara, apakah hidup kita benar-benar berbeda, atau hanya terlihat rohani tetapi tetap serupa dengan dunia? Biarlah kiranya kita tidak serupa dengan dunia dan menjaga kekudusan hidup kita .Meski harus kehilangan penerimaan dunia, kita memilih tetap setia—sebab perkenanan Allah jauh lebih berharga daripada persetujuan manusia. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan