Iman Yang Berdiri Berseberangan Dengan Dunia
Iman Yang Berdiri Berseberangan Dengan Dunia
Kisah dalam Keluaran 32:25–29 membawa kita pada satu
momen krusial dalam sejarah umat Allah: saat iman tidak lagi bisa disembunyikan
di balik simbol, tetapi harus dinyatakan lewat keberpihakan yang tegas. Setelah
dosa anak lembu emas, Musa berdiri di pintu perkemahan dan berseru, “Siapa di
pihak TUHAN, datanglah kepadaku!” (Kel. 32:26). Seruan ini bukan sekadar ajakan
emosional, melainkan pemisahan rohani yang tajam. Di hadapan dosa yang telah
dinormalisasi, Tuhan tidak menawarkan jalan tengah. Ayat ini menyingkapkan
prinsip mendasar iman Alkitabiah: kesetiaan kepada Allah selalu menuntut sikap
yang jelas. Orang Lewi yang datang kepada Musa tidak hanya menyatakan iman
dengan kata-kata, tetapi dengan ketaatan yang mahal dan berisiko. Tindakan
mereka menunjukkan bahwa kekudusan Allah tidak bisa dipelihara melalui
toleransi terhadap dosa, melainkan melalui ketaatan yang rela kehilangan
penerimaan manusia.
Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa iman sejati selalu
bersifat konfrontatif—bukan terhadap manusia, tetapi terhadap dosa dan sistem
yang menentang Allah. Tidak ada iman yang netral, dan tidak ada ketaatan tanpa
konsekuensi. Pertanyaannya bukan apakah kita beragama? tetapi di pihak siapa
kita berdiri ketika kebenaran dan kompromi saling berhadapan. Di zaman
sekarang, pedang yang menggambarkan integritas dan kesetiaan terhadap Tuhan
tidak lagi di tangan orang Lewi, tetapi ada di tangan kita. Integritas adalah
bentuk penghakiman terhadap dunia masa
kini. Ketika kita jujur di tengah budaya manipulatif, kita sedang menghakimi.
Ketika kita setia di tengah generasi yang merayakan ketidaksetiaan, kita sedang
menghakimi. Ketika kita menolak kompromi, maka dunia merasa ditelanjangi.
Konsistensi dalam ketaatan kepada Tuhan tidak pernah
netral. Ketaatan yang mutlak akan selalu dimusuhi oleh sekitar kita. Bukan
karena kita menyerang, tetapi karena keberadaan kita menolak untuk ikut arus.
Dalam posisi defensif—hanya
dengan tetap hidup benar—kita sudah dianggap ancaman. Namun ada saatnya
kesetiaan menuntut sikap ofensif.
Bukan memusuhi orang, tetapi memusuhi apa yang tidak disukai Allah. Mengikut
Tuhan berarti siap kehilangan penerimaan dunia. Tetapi di situlah kekudusan
Allah diwujudkan. Allah tidak memakai mayoritas yang nyaman, tetapi minoritas
yang konsisten. Seperti orang Lewi, kita dipanggil bukan untuk menyenangkan
dunia, melainkan untuk menjaga hadirat Allah tetap kudus di tengah zaman yang
rusak. Sebab kekudusan Allah selalu
punya harga—dan harganya sering bernama penolakan. Namun lebih baik
dimusuhi dunia daripada kehilangan perkenanan Tuhan.
Saudara, apakah hidup kita
benar-benar berbeda, atau hanya terlihat rohani tetapi tetap serupa dengan
dunia? Biarlah kiranya kita tidak serupa dengan dunia dan
menjaga kekudusan hidup kita .Meski harus kehilangan penerimaan dunia, kita
memilih tetap setia—sebab perkenanan Allah jauh lebih berharga daripada
persetujuan manusia. (FS)

Komentar
Posting Komentar