Identitas yang Ditandai oleh Penyertaan Tuhan

Selasa, 20 Januari 2026           
Identitas yang Ditandai oleh Penyertaan Tuhan
Bacaan Alkitab : Keluaran 33:15–17

Saudara yang terkasih, setelah kejatuhan besar bangsa Israel dalam dosa anak lembu emas, hubungan mereka dengan Tuhan berada dalam keadaan yang rapuh. Tuhan memang tetap berjanji membawa mereka ke tanah perjanjian, tetapi tanpa kepastian bahwa Ia sendiri akan berjalan bersama mereka. Di tengah situasi inilah Musa menyatakan sebuah pengakuan iman yang sangat mendalam: “jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” Bagi Musa, tujuan perjalanan bukanlah hal utama. Tanah perjanjian, keberhasilan, dan masa depan tidak berarti apa-apa jika Tuhan tidak hadir di tengah umat-Nya. Musa menyadari bahwa tanpa penyertaan Tuhan, Israel akan kehilangan identitas mereka sebagai umat pilihan. Mereka tidak berbeda dengan bangsa-bangsa lain jika Tuhan tidak berjalan bersama mereka.

Saudara, Musa kemudian menegaskan bahwa penyertaan Tuhan adalah satu-satunya tanda yang membedakan Israel dari bangsa-bangsa lain. Bukan kekuatan militer, bukan sistem ibadah, bukan pula sejarah rohani mereka, melainkan kehadiran Tuhan yang nyata. Identitas Israel bukan dibangun di atas kemampuan atau ketaatan sempurna, tetapi di atas anugerah Tuhan yang mau tinggal dan menyertai umat-Nya. Permohonan Musa ini juga menunjukkan kerendahan hati yang lahir dari kesadaran akan kegagalan umat. Setelah berdosa, Israel tidak pantas menuntut apa pun. Namun Musa tidak meminta berkat baru, strategi baru, atau perlindungan tambahan. Ia hanya memohon satu hal yang paling esensial: hadirat Tuhan. Dari sinilah kita belajar bahwa pemulihan sejati selalu dimulai dari kembalinya ke hadirat Allah. Jawaban Tuhan dalam ayat 17 menegaskan bahwa penyertaan-Nya adalah wujud kasih karunia. Tuhan menyatakan bahwa Ia mengenal Musa dan berkenan kepadanya. Ini menegaskan bahwa identitas umat Allah selalu berakar pada relasi, bukan pada prestasi. Penyertaan Tuhan bukan hasil usaha manusia, tetapi pemberian anugerah Allah yang setia pada perjanjian-Nya.

Saudara yang terkasih, renungan ini juga sangat relevan bagi kehidupan orang percaya di masa kini. Renungan ini mengingatkan kita bahwa, identitas orang percaya bukan ditentukan oleh aktivitas rohani, pelayanan, atau pencapaian hidup. Semua itu bisa ada, tetapi tanpa kesadaran akan hadirat Tuhan, kita kehilangan arah. Penyertaan Tuhanlah yang memberi makna, membedakan hidup kita, dan menegaskan bahwa kita adalah milik-Nya. Sebab, hidup orang percaya hanya berarti jika Tuhan berjalan bersama kita.

Saudara, hal apa yang sering kita jadikan sebagai identitas diri selain penyertaan Tuhan? Pelayanan, jabatan, kemampuan, atau pengalaman rohani tertentu? Kiranya renungan ini membawa kita kembali pada sumber identitas yang sejati, sehingga kita belajar melepaskan apa pun yang selama ini kita banggakan, dan dengan rendah hati menjadikan penyertaan Tuhan sebagai satu-satunya dasar hidup dan pelayanan kita. (RT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan