Identitas yang Ditandai oleh Penyertaan Tuhan
Identitas yang Ditandai oleh Penyertaan Tuhan
Bacaan Alkitab : Keluaran 33:15–17
Saudara yang terkasih, setelah kejatuhan besar bangsa Israel
dalam dosa anak lembu emas, hubungan mereka dengan Tuhan berada dalam keadaan
yang rapuh. Tuhan memang tetap berjanji membawa mereka ke tanah perjanjian,
tetapi tanpa kepastian bahwa Ia sendiri akan berjalan bersama mereka. Di tengah
situasi inilah Musa menyatakan sebuah pengakuan iman yang sangat mendalam: “jika
Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari
sini.” Bagi Musa, tujuan perjalanan bukanlah hal utama. Tanah perjanjian,
keberhasilan, dan masa depan tidak berarti apa-apa jika Tuhan tidak hadir di
tengah umat-Nya. Musa menyadari bahwa tanpa penyertaan Tuhan, Israel akan
kehilangan identitas mereka sebagai umat pilihan. Mereka tidak berbeda dengan
bangsa-bangsa lain jika Tuhan tidak berjalan bersama mereka.
Saudara, Musa kemudian menegaskan bahwa penyertaan Tuhan
adalah satu-satunya tanda yang membedakan Israel dari bangsa-bangsa lain. Bukan
kekuatan militer, bukan sistem ibadah, bukan pula sejarah rohani mereka,
melainkan kehadiran Tuhan yang nyata. Identitas Israel bukan dibangun di atas
kemampuan atau ketaatan sempurna, tetapi di atas anugerah Tuhan yang mau
tinggal dan menyertai umat-Nya. Permohonan Musa ini juga menunjukkan kerendahan
hati yang lahir dari kesadaran akan kegagalan umat. Setelah berdosa, Israel
tidak pantas menuntut apa pun. Namun Musa tidak meminta berkat baru, strategi
baru, atau perlindungan tambahan. Ia hanya memohon satu hal yang paling
esensial: hadirat Tuhan. Dari sinilah kita belajar bahwa pemulihan sejati
selalu dimulai dari kembalinya ke hadirat Allah. Jawaban Tuhan dalam ayat 17
menegaskan bahwa penyertaan-Nya adalah wujud kasih karunia. Tuhan menyatakan
bahwa Ia mengenal Musa dan berkenan kepadanya. Ini menegaskan bahwa identitas
umat Allah selalu berakar pada relasi, bukan pada prestasi. Penyertaan Tuhan
bukan hasil usaha manusia, tetapi pemberian anugerah Allah yang setia pada
perjanjian-Nya.
Saudara yang terkasih, renungan ini juga sangat relevan bagi
kehidupan orang percaya di masa kini. Renungan ini mengingatkan kita bahwa,
identitas orang percaya bukan ditentukan oleh aktivitas rohani, pelayanan, atau
pencapaian hidup. Semua itu bisa ada, tetapi tanpa kesadaran akan hadirat
Tuhan, kita kehilangan arah. Penyertaan Tuhanlah yang memberi makna, membedakan
hidup kita, dan menegaskan bahwa kita adalah milik-Nya. Sebab, hidup orang
percaya hanya berarti jika Tuhan berjalan bersama kita.
Saudara, hal apa yang sering kita jadikan sebagai identitas
diri selain penyertaan Tuhan? Pelayanan, jabatan, kemampuan, atau pengalaman
rohani tertentu? Kiranya renungan ini membawa kita kembali pada sumber
identitas yang sejati, sehingga kita belajar melepaskan apa pun yang selama ini
kita banggakan, dan dengan rendah hati menjadikan penyertaan Tuhan sebagai
satu-satunya dasar hidup dan pelayanan kita. (RT)

Komentar
Posting Komentar