Diberkati Tanpa Hadirat
Diberkati Tanpa Hadirat
Perikop
tentang “Tuhan mengutus malaikat-Nya” dalam Keluaran 33:1–3 terjadi setelah
peristiwa dosa besar bangsa Israel, yaitu pembuatan patung lembu emas (Kel.
32). Akibat ketidaktaatan tersebut, murka Tuhan menyala atas Israel dan Ia
menjatuhkan hukuman kepada mereka. Namun demikian, Tuhan tetap memerintahkan
Musa untuk membawa bangsa Israel melanjutkan perjalanan menuju tanah
perjanjian, sebagai penggenapan janji-Nya kepada Abraham dan keturunannya (Kej.
12:1–2). Tuhan berjanji akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depan mereka
untuk menghalau bangsa-bangsa musuh, sehingga Israel dapat masuk ke negeri yang
berlimpah susu dan madu. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang sangat signifikan
dalam penyertaan Tuhan kali ini. Sebagai konsekuensi dari dosa mereka, Tuhan
menyatakan bahwa Ia sendiri tidak akan berjalan di tengah-tengah bangsa itu,
melainkan hanya mengutus malaikat-Nya. Hukuman utama yang Israel terima
bukanlah dicabutnya janji atau berkat, melainkan ditariknya kehadiran
relasional Tuhan dari tengah-tengah mereka. Dengan kata
lain, Israel tetap menikmati pemeliharaan dan perlindungan dari Tuhan, tetapi tanpa keintiman persekutuan
dengan-Nya.
Ayat 1–3 ini dengan jelas menunjukkan
perbedaan antara pemeliharaan
Allah dan relasi umat dengan Allah.
Allah tetap setia pada perjanjian-Nya dan tidak membatalkan janji berkat-Nya
kepada Abraham. Inilah yang dalam teologi disebut sebagai kesetiaan Allah pada
perjanjian dan juga mencerminkan prinsip anugerah Allah yang tidak bergantung
sepenuhnya pada ketaatan manusia. Namun demikian, Israel harus menanggung
hukuman yang sangat berat, yaitu ketiadaan hadirat Tuhan di tengah kehidupan
mereka. Mereka dapat menikmati kemenangan atas musuh, dan perlindungan ilahi,
tetapi tanpa kehadiran Allah yang menyertai secara intim.
Keadaan ini juga sering terjadi dalam
konteks kehidupan umat Tuhan masa kini. Sering kali kita menganggap bahwa
kehidupan yang dekat dengan Tuhan pasti ditandai oleh berkat jasmani yang
melimpah, seperti kekayaan, kesuksesan, dan kesehatan. Namun kisah ini justru
menantang pemahaman tersebut. Kehidupan yang tampak diberkati secara lahiriah
tidak selalu mencerminkan kualitas relasi seseorang dengan Tuhan. Tuhan Yesus juga
mengajarkan bahwa Bapa di surga “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan
orang yang baik” (Mat. 5:45). Hal ini menunjukkan bahwa Allah dalam
kemurahan-Nya memberikan apa yang disebut sebagai anugerah umum (common grace) kepada semua orang,. tanpa membedakan kedekatan rohani mereka dengan-Nya. Oleh
sebab itu, seseorang dapat menikmati berkat-berkat Allah tanpa hidup dalam
relasi yang intim dan taat kepada Tuhan.
Dengan demikian, berkat jasmani—seperti
kekayaan, kesuksesan, dan kesehatan—tidak dapat dijadikan ukuran utama kualitas
relasi kita dengan Tuhan. Berkat-berkat tersebut merupakan wujud kemurahan
Allah yang bersifat umum. Kehidupan iman yang sejati justru diukur dari
kerinduan akan hadirat Tuhan, ketaatan kepada kehendak-Nya, dan kesetiaan dalam
persekutuan dengan-Nya. Sebab bagi umat Tuhan, kehadiran Allah jauh lebih
berharga daripada segala berkat yang dapat dinikmati tanpa Dia.
Saudara, mari sejenak kita merenungkan
Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah selama ini kita lebih sering
mengukur kedekatan kita dengan Tuhan dari berkat yang saya terima, atau dari
ketaatan dan persekutuan dengan-Nya? Mari evaluasi sikap batin kita di hadapan-Nya
dengan jujur dan izinkan Roh Kudus semakin memurnikan kasih kita kepada Tuhan.
(TH)

Komentar
Posting Komentar