Diberkati Tanpa Hadirat

Kamis, 15 Januari 2026
Diberkati Tanpa Hadirat
Bacaan Alkitab : Keluaran 33: 1-3

Perikop tentang “Tuhan mengutus malaikat-Nya” dalam Keluaran 33:1–3 terjadi setelah peristiwa dosa besar bangsa Israel, yaitu pembuatan patung lembu emas (Kel. 32). Akibat ketidaktaatan tersebut, murka Tuhan menyala atas Israel dan Ia menjatuhkan hukuman kepada mereka. Namun demikian, Tuhan tetap memerintahkan Musa untuk membawa bangsa Israel melanjutkan perjalanan menuju tanah perjanjian, sebagai penggenapan janji-Nya kepada Abraham dan keturunannya (Kej. 12:1–2). Tuhan berjanji akan mengutus malaikat-Nya berjalan di depan mereka untuk menghalau bangsa-bangsa musuh, sehingga Israel dapat masuk ke negeri yang berlimpah susu dan madu. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang sangat signifikan dalam penyertaan Tuhan kali ini. Sebagai konsekuensi dari dosa mereka, Tuhan menyatakan bahwa Ia sendiri tidak akan berjalan di tengah-tengah bangsa itu, melainkan hanya mengutus malaikat-Nya. Hukuman utama yang Israel terima bukanlah dicabutnya janji atau berkat, melainkan ditariknya kehadiran relasional Tuhan dari tengah-tengah mereka. Dengan kata lain, Israel tetap menikmati pemeliharaan dan perlindungan  dari Tuhan, tetapi tanpa keintiman persekutuan dengan-Nya.


Ayat 1–3 ini dengan jelas menunjukkan perbedaan antara pemeliharaan Allah dan relasi umat dengan Allah. Allah tetap setia pada perjanjian-Nya dan tidak membatalkan janji berkat-Nya kepada Abraham. Inilah yang dalam teologi disebut sebagai kesetiaan Allah pada perjanjian dan juga mencerminkan prinsip anugerah Allah yang tidak bergantung sepenuhnya pada ketaatan manusia. Namun demikian, Israel harus menanggung hukuman yang sangat berat, yaitu ketiadaan hadirat Tuhan di tengah kehidupan mereka. Mereka dapat menikmati kemenangan atas musuh, dan perlindungan ilahi, tetapi tanpa kehadiran Allah yang menyertai secara intim.


Keadaan ini juga sering terjadi dalam konteks kehidupan umat Tuhan masa kini. Sering kali kita menganggap bahwa kehidupan yang dekat dengan Tuhan pasti ditandai oleh berkat jasmani yang melimpah, seperti kekayaan, kesuksesan, dan kesehatan. Namun kisah ini justru menantang pemahaman tersebut. Kehidupan yang tampak diberkati secara lahiriah tidak selalu mencerminkan kualitas relasi seseorang dengan Tuhan. Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa Bapa di surga “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik” (Mat. 5:45). Hal ini menunjukkan bahwa Allah dalam kemurahan-Nya memberikan apa yang disebut sebagai anugerah umum (common grace) kepada semua orang,. tanpa membedakan kedekatan rohani mereka dengan-Nya. Oleh sebab itu, seseorang dapat menikmati berkat-berkat Allah tanpa hidup dalam relasi yang intim dan taat kepada Tuhan.


Dengan demikian, berkat jasmani—seperti kekayaan, kesuksesan, dan kesehatan—tidak dapat dijadikan ukuran utama kualitas relasi kita dengan Tuhan. Berkat-berkat tersebut merupakan wujud kemurahan Allah yang bersifat umum. Kehidupan iman yang sejati justru diukur dari kerinduan akan hadirat Tuhan, ketaatan kepada kehendak-Nya, dan kesetiaan dalam persekutuan dengan-Nya. Sebab bagi umat Tuhan, kehadiran Allah jauh lebih berharga daripada segala berkat yang dapat dinikmati tanpa Dia.


Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah selama ini kita lebih sering mengukur kedekatan kita dengan Tuhan dari berkat yang saya terima, atau dari ketaatan dan persekutuan dengan-Nya? Mari evaluasi sikap batin kita di hadapan-Nya dengan jujur dan izinkan Roh Kudus semakin memurnikan kasih kita kepada Tuhan. (TH)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan