Bertahan dalam Hadirat di Tengah Kekeringan
Bertahan dalam Hadirat di Tengah Kekeringan
Bacaan Alkitab : Keluaran 33:7–11
Keluaran 33:7–11 lahir dari konteks yang
gelap. Bangsa Israel baru saja jatuh dalam dosa besar—mereka membentuk anak
lembu emas dan menyamakan Allah yang kudus dengan buatan tangan manusia.
Akibatnya, relasi perjanjian terguncang. Hadirat Allah yang seharusnya diam di
tengah perkemahan kini menjadi masalah, bukan lagi kenyamanan. Alkitab mencatat
bahwa Musa mengambil Kemah Pertemuan
dan mendirikannya di luar perkemahan, jauh dari pusat aktivitas bangsa.
Ini bukan sekadar perubahan lokasi, melainkan tindakan simbolik dan spiritual.
Ketika dosa membuat Allah tidak lagi berdiam di tengah umat secara kolektif,
Musa tidak menunggu pemulihan nasional untuk mencari Tuhan. Ia mengambil
tanggung jawab personal atas relasinya sendiri dengan Tuhan.
Menariknya, Alkitab tidak menggambarkan Musa
sebagai manusia yang kebal terhadap kelelahan rohani. Musa tetap manusia rapuh.
Ia memikul kekecewaan, tekanan kepemimpinan, dan rasa takut akan masa depan
bangsa ini. Namun perbedaannya terletak pada satu hal: Musa tidak membiarkan kerapuhan menghentikannya dari datang kepada Tuhan.
Ia konsisten melakukan apa yang telah menjadi ritme hidupnya—datang ke hadirat
Allah. Relasi Musa dengan Tuhan juga tidak bersifat transaksional. Ia tidak
datang hanya ketika doa-doanya dijawab atau ketika tanda-tanda ilahi terlihat
jelas. Bahkan dalam pasal ini, Tuhan sedang menahan diri-Nya dari berjalan di
tengah umat. Namun Musa tetap datang. Ini menunjukkan bahwa relasi sejati
dengan Tuhan tidak bergantung pada perasaan rohani, hasil doa, atau respons
lingkungan.
Sementara itu, bangsa Israel berdiri di pintu
kemah mereka masing-masing, menyembah dari kejauhan. Mereka menghormati Musa,
mereka kagum pada tiang awan, tetapi mereka tidak dapat masuk. Ada jarak.
Inilah gambaran iman kolektif yang sedang lemah: kagum dari jauh, tetapi enggan
mendekat. Di sinilah Musa berdiri secara kontras—ia masuk, ia mendekat, ia
berbicara. Dan Alkitab mencatat sesuatu yang luar biasa: Tuhan berbicara kepada Musa berhadapan muka,
seperti seorang berbicara kepada temannya. Keintiman ini tidak muncul
dalam satu malam. Ini adalah buah dari perjumpaan yang berulang, dari kebiasaan
mencari Tuhan bahkan ketika keadaan tidak mendukung.
Di sinilah pesan penting bagi kita hari ini.
Dunia modern penuh dengan kebisingan, tuntutan, dan kekeringan rohani yang
sering kali terasa normal. Kita hidup di tengah iman yang kadang bersifat
kolektif—ikut suasana, ikut tren, ikut arus. Namun Keluaran 33:7–11
mengingatkan bahwa iman yang bertahan
selalu dimulai dari ruang pribadi dengan Tuhan. Hubungan pribadi dengan Tuhan bukan tentang
disiplin kosong, melainkan tentang menjaga keintiman agar relasi tidak mati.
Saudara, Ketika iman di sekitar kita melemah, apakah aku ikut
larut atau justru menjaga perjumpaan pribadi? Biarlah kiranya, Seperti Musa, kita dipanggil untuk tetap
datang, tetap mencari, dan tetap tinggal di hadirat Tuhan bahkan ketika doa
terasa sunyi. Karena sering kali, kesetiaan
datang lebih penting daripada sensasi yang kita rasakan saat datang. (FS)

Komentar
Posting Komentar