Berhenti untuk Percaya
Berhenti untuk Percaya
Bacaan Alkitab : Keluaran 34:21
Setelah Allah menegaskan kembali
identitas umat-Nya di tengah-tengah bangsa asing, pada Keluaran 34:21 Ia
melanjutkan dengan mengajar bagaimana identitas itu dijalani melalui cara kerja
yang sejati. Allah memerintahkan
umat-Nya untuk bekerja selama enam hari dan berhenti pada hari ketujuh.
Perintah ini diberikan kepada bangsa Israel yang hidup dari hasil tanah, di
mana ke masa membajak dan menuai merupakan
waktu paling krusial. Dalam kondisi seperti itu, berhenti bekerja berarti
mengambil risiko kehilangan hasil. Namun, justru di saat genting itulah Allah
berkata “berhentilah.” Perintah ini bukan sekadar aturan tentang waktu,
melainkan ujian iman. Allah sedang mengajar umat-Nya bahwa hidup tidak ditopang
oleh kerja tanpa henti, melainkan oleh tangan-Nya yang setia memelihara. Dengan
kata lain, Sabat adalah pengakuan iman yang nyata: Allah tetap bekerja ketika
manusia berhenti bekerja.
Alkitab menjelaskan bahwa prinsip sabat
berakar pada kisah penciptaan, ketika Allah berhenti dari pekerjaan-Nya pada
hari ketujuh dan menguduskan hari itu (Kej. 2: 1-3). Dalam konteks Keluaran 34,
penekanan ulang tentang sabat juga bertujuan memulihkan mentalitas kerja bangsa
Israel yang telah lama dibentuk oleh perbudakan di Mesir. Selama menjadi budak,
nilai mereka ditentukan oleh produktivitas tanpa henti. Melalui Sabat, Allah
menegaskan bahwa mereka bukan lagi budak, melainkan umat yang telah ditebus dalam
kebebasan perjanjian. Dengan demikian, Sabat adalah tindakan pembebasan yang
terus menerus – sebuah penolakan terhadap pola hidup perbudakan lama. Berhenti
bekerja pada hari ketujuh bukan tanda kemalasan, melainkan tanda iman dan
kepercayaan kepada Allah yang memelihara kehidupan.
Prinsip ini juga relevan bagi kita saat ini. Hidup sebagai umat Allah menuntut kita untuk mengatur ritme hidup yang berakar pada iman: ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk berelasi dengan keluarga dan sesama, dan ada waktu untuk berhenti sejenak di hadapan Tuhan. Tanpa keberanian untuk berhenti, berkat yang kita terima justru dapat menjauhkan kita dari Allah—ketika kita bekerja terus-menerus, mengabaikan ibadah, dan mulai menganggap pencapaian serta keberhasilan sebagai hasil usaha kita semata. Karena itu, Sabat mengundang kita untuk berhenti dari hal-hal fana, agar kembali memusatkan hidup pada Allah yang kekal. Dari perhentian itulah kita kembali ke dunia dengan iman yang diperbarui, sehingga iman kita semakin teguh dalam menghadapi tantangan serta godaan dunia.
Saudara, mari sejenak kita merenungkan
Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah kita memaknai istirahat
sebagai anugerah iman atau sebagai gangguan produktivitas? Mari temukan area
hidup yang paling sulit untuk kita hentikan lalu berdoalah meminta pertolongan
Roh Kudus untuk dapat “berhenti sejenak” sehingga iman kita semakin
diperbaharui. (TH)

Komentar
Posting Komentar