Berdoa bagi Musuh

Kamis, 8 Januari 2025
Berdoa bagi Musuh 
Bacaan Alkitab : Keluaran 32: 11-13

          Murka Allah yang dinyatakan sebelumnya tidak dihadapi Musa dengan ketakutan semata, melainkan dengan seruan iman yang berakar pada pengenalannya akan Allah. Musa tidak berbicara kepada Allah yang asing, tetapi kepada Allah yang telah ia kenal melalui perjumpaan yang kudus dan karya yang nyata dalam sejarah Israel. Dalam doanya, Musa menyatakan bahwa Allah adalah Penebus yang bertindak dalam sejarah. Dialah yang dengan kuasa besar membawa Israel keluar dari Mesir dan membentuk mereka menjadi suatu bangsa. Allah yang Musa kenal bukan Allah yang pasif, melainkan Pribadi yang terlibat aktif, yang membebaskan umat-Nya dan dengan setia menyelesaikan apa yang telah Ia mulai. Selain itu, Musa juga mengenal Allah sebagai Allah yang setia pada perjanjian-Nya. Ia mengingatkan janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub—janji yang diikrarkan dengan sumpah dan tidak pernah dibatalkan. Dengan demikian, doa Musa tidak didasarkan pada kelayakan bangsa Israel, melainkan pada karya Allah di masa lalu dan karakter Allah yang setia pada firman-Nya. Apa yang Allah lakukan dahulu menjadi dasar pengharapan Musa bagi masa depan umat itu.
          Saudara
berdasarkan pemahaman ini, kita dapat membaca ulang doa Musa dengan lebih mendalam. Musa datang memohon dengan sungguh-sungguh dan penuh hormat kepada TUHAN, Allah yang ia kenal secara pribadi. Ia berseru, “Ya TUHAN, Engkaulah yang dengan kuasa besar telah membebaskan umat-Mu dari tanah perbudakan. Jangan biarkan murka-Mu menyala terhadap mereka, sehingga bangsa-bangsa berkata bahwa Engkau membawa mereka keluar hanya untuk membinasakan mereka. Berbaliklah dari amarah-Mu, sebab Engkau adalah Allah yang berbelaskasihan dan setia pada janji-Mu kepada Abraham, Ishak, dan Israel—hamba-hamba-Mu sendiri.” doa  ini menunjukkan bahwa iman Musa dibangun atas dasar pengenalan Musa terhadap karakter Allah : Allah yang setia pada janji dan penuh belas kasihan. Ia bukan Allah yang jauh, melainkan Allah yang dikenal Musa melalui relasi yang hidup.

Saudara, Musa berdoa dalam situasi yang sangat sulit. Bangsa Israel bukan hanya memberontak terhadap Allah dengan menyembah patung, tetapi juga meragukan kepemimpinan Musa. Mereka tidak mau menantikan Musa turun dari gunung, melainkan memilih jalan mereka sendiri. Namun, dalam kondisi itu, Musa tidak meninggalkan bangsanya. Ia justru berdiri di hadapan Allah sebagai pengantara, menunjukkan kasih yang mendalam bagi bangsa yang telah menyakitinya. Sikap Musa dalam berdoa ini menjadi pengingat bagi kita bahwa perjumpaan yang dekat dengan Allah yang kudus akan membentuk hati yang menghormati Allah sekaligus mengasihi sesama, bahkan mereka yang bersalah dan melukai kita. Musa mengasihi umat Israel dengan memandang mereka sebagai jiwa-jiwa yang membutuhkan anugerah Allah. Karena itulah ia bersedia berdoa dan memohon agar anugerah itu tetap dicurahkan. Kiranya melalui perjumpaan kita dengan Allah yang kudus, kita pun diizinkan untuk dibentuk menjadi pribadi yang menghormati Allah dalam kekudusan-Nya dan mengasihi sesama—bahkan musuh—dalam belas kasihan-Nya.

          Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara apakah perjumpaan kita dengan Tuhan selama ini sungguh membentuk cara kita memperlakukan orang lain, khususnya mereka yang menyakiti kita? Mari bertumbuh dalam pengenalan akan kasih Allah sehingga semakin mendorong kita untuk menghormati-Nya dan mengasihi semua yang membenci dan menyakiti kita. (TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan