Berdoa bagi Musuh
Berdoa bagi Musuh
Murka Allah yang dinyatakan sebelumnya tidak
dihadapi Musa dengan ketakutan semata, melainkan dengan seruan iman yang
berakar pada pengenalannya akan Allah. Musa tidak berbicara kepada Allah yang
asing, tetapi kepada Allah yang telah ia kenal melalui perjumpaan yang kudus
dan karya yang nyata dalam sejarah Israel. Dalam doanya, Musa menyatakan bahwa
Allah adalah Penebus yang bertindak dalam sejarah. Dialah yang dengan kuasa
besar membawa Israel keluar dari Mesir dan membentuk mereka menjadi suatu
bangsa. Allah yang Musa kenal bukan Allah yang pasif, melainkan Pribadi yang
terlibat aktif, yang membebaskan umat-Nya dan dengan setia menyelesaikan apa
yang telah Ia mulai. Selain itu, Musa juga mengenal Allah sebagai Allah yang
setia pada perjanjian-Nya. Ia mengingatkan janji Allah kepada Abraham, Ishak,
dan Yakub—janji yang diikrarkan dengan sumpah dan tidak pernah dibatalkan.
Dengan demikian, doa Musa tidak didasarkan pada kelayakan bangsa Israel,
melainkan pada karya Allah di masa lalu dan karakter Allah yang setia pada
firman-Nya. Apa yang Allah lakukan dahulu menjadi dasar pengharapan Musa bagi
masa depan umat itu.
Saudara berdasarkan
pemahaman ini, kita dapat membaca ulang doa Musa dengan lebih mendalam. Musa
datang memohon dengan sungguh-sungguh dan penuh hormat kepada TUHAN, Allah yang
ia kenal secara pribadi. Ia berseru, “Ya TUHAN, Engkaulah yang dengan kuasa
besar telah membebaskan umat-Mu dari tanah perbudakan. Jangan biarkan murka-Mu
menyala terhadap mereka, sehingga bangsa-bangsa berkata bahwa Engkau membawa
mereka keluar hanya untuk membinasakan mereka. Berbaliklah dari amarah-Mu,
sebab Engkau adalah Allah yang berbelaskasihan dan setia pada janji-Mu kepada
Abraham, Ishak, dan Israel—hamba-hamba-Mu sendiri.” doa
ini menunjukkan bahwa iman Musa dibangun
atas dasar pengenalan Musa terhadap karakter Allah : Allah yang setia pada
janji dan penuh belas kasihan. Ia bukan Allah yang jauh, melainkan Allah yang
dikenal Musa melalui relasi yang hidup.
Saudara, Musa
berdoa dalam situasi yang sangat sulit. Bangsa Israel bukan hanya memberontak
terhadap Allah dengan menyembah patung, tetapi juga meragukan kepemimpinan
Musa. Mereka tidak mau menantikan Musa turun dari gunung, melainkan memilih
jalan mereka sendiri. Namun, dalam kondisi itu, Musa tidak meninggalkan bangsanya.
Ia justru berdiri di hadapan Allah sebagai pengantara, menunjukkan kasih yang
mendalam bagi bangsa yang telah menyakitinya. Sikap Musa dalam berdoa ini menjadi
pengingat bagi kita bahwa perjumpaan yang dekat dengan Allah yang kudus akan
membentuk hati yang menghormati Allah sekaligus mengasihi sesama, bahkan mereka
yang bersalah dan melukai kita. Musa mengasihi umat Israel dengan memandang
mereka sebagai jiwa-jiwa yang membutuhkan anugerah Allah. Karena itulah ia
bersedia berdoa dan memohon agar anugerah itu tetap dicurahkan. Kiranya melalui
perjumpaan kita dengan Allah yang kudus, kita pun diizinkan untuk dibentuk
menjadi pribadi yang menghormati Allah dalam kekudusan-Nya dan mengasihi
sesama—bahkan musuh—dalam belas kasihan-Nya.
Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara apakah perjumpaan kita dengan Tuhan selama ini sungguh membentuk cara kita memperlakukan orang lain, khususnya mereka yang menyakiti kita? Mari bertumbuh dalam pengenalan akan kasih Allah sehingga semakin mendorong kita untuk menghormati-Nya dan mengasihi semua yang membenci dan menyakiti kita. (TH)

Komentar
Posting Komentar