Allah yang Menyatakan Diri-Nya

Sabtu, 24 Januari 2026
Allah yang Menyatakan Diri-Nya 
Bacaan Alkitab : Keluaran 34:5–7

Dalam Keluaran 34:5–7, Allah tidak hanya bertindak, tetapi menyatakan siapa diri-Nya. Ia turun dalam awan, berdiri dekat Musa, dan diproklamasikan nama TUHAN. Ini adalah momen teofani—Allah yang berdaulat berinisiatif mendekat, bukan karena manusia layak, melainkan karena KemurahanNya, sehingga Ia berkenan menyatakan diri-Nya sendiri. Setelah kegagalan Israel dalam dosa anak lembu emas, Allah tidak menghilang, tetapi hadir dan berbicara. Pernyataan ini kemudian menjadi pengakuan iman Israel sepanjang sejarah:“TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia dan kesetiaan…”

Karakter Allah digambarkan secara utuh dan seimbang. Ia penuh belas kasihan, panjang sabar, dan setia memelihara perjanjian-Nya. Namun pada saat yang sama, Ia tidak membebaskan orang bersalah dari hukuman. Nada penghukuman tetap terdengar—Allah bukan Allah yang menutup mata terhadap dosa. Kekudusan-Nya tidak dikompromikan. Namun penghukuman itu berdiri dalam bingkai kasih setia (esed) yang melampaui ribuan keturunan. Dalam perikop ini, kasih karunia tidak meniadakan keadilan, dan keadilan tidak mematikan kasih.

Menariknya, Allah memproklamasikan firman tentang diri-Nya sendiri. Dalam terang Perjanjian Lama, hal ini membuka ruang pemahaman tentang Kristofani— yaitu Kristus yang menyatakan diri di Perjanjian Lama yang juga sering disebut dengan istilah Firman Allah. Yohanes kelak menegaskan bahwa Kristus yang adalah Firman itu telah mengambil rupa manusia. Maka gema Kristus sudah terdengar di Sinai: Allah yang berbicara, Allah yang hadir, dan Allah yang menyatakan hati-Nya kepada umat-Nya. Di sini juga terlihat jejak Tritunggal—Allah yang menyatakan diri, Firman yang diproklamasikan, dan Roh yang menaungi dalam awan. Bagi umat Tuhan, perikop ini menegaskan bahwa relasi dengan Allah dibangun di atas pengenalan akan karakter-Nya, bukan semata pengalaman rohani atau emosi sesaat. Ia adalah Allah yang kudus dan menuntut pertanggungjawaban, namun juga Allah yang setia memelihara perjanjian-Nya dan tidak membatalkan kasih-Nya meskipun manusia gagal.


Allah yang menyatakan diri-Nya adalah Allah yang kudus dan tidak berkompromi dengan dosa. Ia adil dalam penghukuman dan setia pada firman-Nya. Setiap pelanggaran diperhitungkan, setiap dosa ditanggapi dengan serius, sebab kekudusan-Nya tidak bisa disepelekan. Namun penghukuman itu bukan lahir dari kemarahan tanpa kasih, melainkan dari karakter Allah yang benar dan setia. Ia menghukum bukan untuk memusnahkan, tetapi untuk menyatakan bahwa dosa memang membawa akibat yang nyata. Di dalam kasih karunia-Nya, Allah tidak berhenti pada penghukuman. Ia sendiri turun menyatakan jalan pemulihan. Kasih setia-Nya melampaui kegagalan manusia, dan di dalam Kristus keadilan Allah dipenuhi tanpa meniadakan belas kasihan-Nya. Karena itu, kita dipanggil bukan untuk lari dari Allah yang menghakimi, melainkan datang kepada Allah yang mengasihi—bertobat, percaya, dan hidup dalam ketaatan sebagai respons atas kasih karunia yang menyelamatkan.


Saudara, bagaimana respons saya ketika Allah menegur atau mendisiplin hidup saya? Allah yang sama yang menghakimi dosa adalah Allah yang terlebih dahulu menyatakan kasih. Di hadapan-Nya, kita tidak dipanggil untuk meremehkan kekudusan, melainkan hidup dalam syukur dan ketaatan sebagai respons atas kasih karunia yang menyelamatkan. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan