Allah yang Menyatakan Diri-Nya
Allah yang Menyatakan Diri-Nya
Dalam
Keluaran 34:5–7, Allah tidak hanya bertindak, tetapi menyatakan siapa diri-Nya.
Ia turun dalam awan, berdiri dekat Musa, dan diproklamasikan nama TUHAN. Ini adalah momen teofani—Allah yang
berdaulat berinisiatif mendekat, bukan karena manusia layak, melainkan karena KemurahanNya, sehingga Ia berkenan
menyatakan diri-Nya sendiri. Setelah kegagalan Israel dalam dosa anak lembu
emas, Allah tidak menghilang, tetapi hadir dan berbicara. Pernyataan ini
kemudian menjadi pengakuan iman Israel sepanjang sejarah:“TUHAN, TUHAN, Allah
penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih setia dan kesetiaan…”
Karakter
Allah digambarkan secara utuh dan seimbang. Ia penuh belas kasihan, panjang
sabar, dan setia memelihara perjanjian-Nya. Namun pada saat yang sama, Ia tidak
membebaskan orang bersalah dari hukuman. Nada penghukuman tetap terdengar—Allah
bukan Allah yang menutup mata terhadap dosa. Kekudusan-Nya tidak dikompromikan.
Namun penghukuman itu berdiri dalam bingkai kasih setia (ḥesed)
yang melampaui ribuan keturunan. Dalam perikop ini, kasih karunia tidak
meniadakan keadilan, dan keadilan tidak mematikan kasih.
Menariknya, Allah memproklamasikan firman tentang diri-Nya sendiri. Dalam terang
Perjanjian Lama, hal ini membuka ruang pemahaman tentang Kristofani— yaitu
Kristus yang menyatakan diri di Perjanjian Lama yang juga sering disebut dengan
istilah Firman Allah. Yohanes kelak menegaskan bahwa Kristus yang adalah Firman
itu telah mengambil rupa manusia. Maka gema Kristus sudah terdengar di Sinai:
Allah yang berbicara, Allah yang hadir, dan Allah yang menyatakan hati-Nya
kepada umat-Nya. Di sini juga terlihat jejak Tritunggal—Allah yang menyatakan
diri, Firman yang diproklamasikan, dan Roh yang menaungi dalam awan.
Bagi umat Tuhan, perikop ini menegaskan bahwa relasi dengan Allah dibangun di
atas pengenalan akan karakter-Nya, bukan semata pengalaman rohani atau emosi
sesaat. Ia adalah Allah yang kudus dan menuntut pertanggungjawaban, namun juga
Allah yang setia memelihara perjanjian-Nya dan tidak membatalkan kasih-Nya
meskipun manusia gagal.
Allah yang menyatakan diri-Nya adalah Allah
yang kudus dan tidak berkompromi dengan dosa. Ia adil dalam penghukuman dan
setia pada firman-Nya. Setiap pelanggaran diperhitungkan, setiap dosa
ditanggapi dengan serius, sebab kekudusan-Nya tidak bisa disepelekan. Namun
penghukuman itu bukan lahir dari kemarahan tanpa kasih, melainkan dari karakter
Allah yang benar dan setia. Ia menghukum bukan untuk memusnahkan, tetapi untuk
menyatakan bahwa dosa memang membawa akibat yang nyata. Di dalam kasih
karunia-Nya, Allah tidak berhenti pada penghukuman. Ia sendiri turun menyatakan
jalan pemulihan. Kasih setia-Nya melampaui kegagalan manusia, dan di dalam
Kristus keadilan Allah dipenuhi tanpa meniadakan belas kasihan-Nya. Karena itu,
kita dipanggil bukan untuk lari dari Allah yang menghakimi, melainkan datang
kepada Allah yang mengasihi—bertobat, percaya, dan hidup dalam ketaatan sebagai
respons atas kasih karunia yang menyelamatkan.
Saudara, bagaimana respons saya ketika Allah menegur atau mendisiplin
hidup saya? Allah yang sama yang menghakimi dosa adalah
Allah yang terlebih dahulu menyatakan kasih. Di hadapan-Nya, kita tidak
dipanggil untuk meremehkan kekudusan, melainkan hidup dalam syukur dan ketaatan
sebagai respons atas kasih karunia yang menyelamatkan. (FS)

Komentar
Posting Komentar