Allah Berbicara di Tengah Krisis Perjanjian
Allah Berbicara di Tengah Krisis Perjanjian
Bacaan Alkitab : Keluaran 34 : 10-11
Keluaran 34:10–11
muncul dalam konteks yang sangat genting. Bangsa Israel baru saja melanggar
perjanjian melalui dosa anak lembu emas (Kel. 32). Perjanjian yang baru saja
diikat di Sinai seolah hancur sebelum sempat dijalani. Secara manusiawi, yang
pantas diterima Israel adalah penolakan dan penghukuman total. Namun justru di
tengah kegagalan umat, Allah kembali berbicara dan menyatakan firman-Nya. Ayat
10 dimulai dengan pernyataan ilahi yang tegas: “Sesungguhnya, Aku
mengikat perjanjian.” Ini bukan sekadar pengulangan perjanjian lama,
melainkan penegasan ulang bahwa Allah dengan sadar memilih untuk tetap mengikat perjanjian dengan umat-Nya
yang rapuh. Allah tidak menunggu Israel membuktikan kesetiaan terlebih dahulu.
Ia berbicara sebagai Allah yang berdaulat, yang memegang kendali penuh atas
relasi perjanjian itu.
Lalu dalam ayat 11, Allah memerintahkan Israel untuk berpegang pada apa yang Ia firmankan. Di sini terlihat dua sisi yang tidak terpisahkan: Allah mengikat diri-Nya dalam perjanjian, dan umat dipanggil untuk hidup dalam ketaatan. Perjanjian bukan hanya janji Allah, tetapi relasi yang menuntut respons. Ini menyingkapkan sifat perjanjian Allah yang berbeda dari perjanjian manusia. Allah tidak hanya menjadi saksi perjanjian, tetapi menjadi Penjamin perjanjian itu sendiri. Ia mengikat perjanjian melalui firman-Nya. Dengan demikian, perjanjian ini bukan terutama tentang apa yang Israel sanggup lakukan, tetapi tentang apa yang Allah setia kerjakan. Allah tidak hanya berkata bahwa Ia akan menyertai Israel, tetapi bahwa Ia akan bertindak secara aktif. Ia berjanji menghalau bangsa-bangsa lain dari hadapan Israel dan melakukan pekerjaan-pekerjaan dahsyat. Ini menunjukkan bahwa Allah bukan Allah yang pasif atau jauh, melainkan Allah yang terlibat langsung dalam sejarah umat-Nya. Menariknya, Allah memilih bangsa yang lemah untuk menjadi alat demonstrasi kuasa-Nya. Israel bukan bangsa besar atau kuat, tetapi justru dalam kelemahan merekalah kemuliaan Allah dinyatakan. Dengan cara ini, tidak ada ruang bagi Israel untuk menyombongkan diri. Semua keberhasilan mereka kelak adalah bukti bahwa Tuhanlah yang bekerja, bukan kekuatan mereka sendiri.
Keluaran 34:10–11 menegaskan bahwa Allah adalah Allah yang setia pada perjanjian-Nya. Ia tidak hanya bersedia menyertai, tetapi secara aktif melindungi dan memakai umat yang lemah untuk menyatakan kuasa-Nya. Di tengah kegagalan manusia, Allah tetap bekerja, mengikat diri-Nya, dan membawa rencana-Nya tergenapi.
Saudara, dalam bagian hidup mana kita merasa paling lemah dan
tidak layak, namun justru di sanalah Allah ingin menyatakan kuasa-Nya? Biarlah kiranya firman ini mengundang
kita untuk percaya bahwa hidup kita berada dalam tangan Allah yang setia
memegang perjanjian-Nya. Ketika kita merasa lemah dan tidak mampu, justru di
sanalah Allah ingin menyatakan kuasa-Nya. Tugas kita adalah hidup dalam
ketaatan, sementara Tuhan yang setia akan menggenapi apa yang telah Ia
janjikan. (FS)

Komentar
Posting Komentar