Pengurapan Tuhan yang Memampukan
Pengurapan Tuhan yang Memampukan
Dalam
Keluaran 30:30–31 dinyatakan bahwa minyak urapan dipakai untuk mengurapi Harun
dan anak-anaknya sebagai imam bagi Israel. Tuhan menetapkan minyak ini sebagai “minyak
urapan yang kudus bagi-Ku di antara kamu turun-temurun.” Minyak urapan
tersebut merupakan minyak khusus yang dibuat sesuai perintah Tuhan dan menjadi
bagian penting dari sistem penyembahan Israel (ay. 22–25). Minyak ini hanya
boleh dibuat oleh imam dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi
(Kel. 30:32–33). Melalui pernyataan Tuhan, “Inilah yang harus menjadi minyak
urapan yang kudus bagi-Ku...” (ay. 31), terlihat dengan jelas bahwa
kekudusan minyak itu bukan berasal dari zat atau formulanya, tetapi dari
penetapan Tuhan. Minyak itu hanyalah benda biasa, tetapi menjadi kudus karena Tuhan
menyatakannya kudus. Oleh sebab itu, apa pun yang disentuh oleh minyak urapan
menjadi kudus bukan karena minyaknya, melainkan karena otoritas Tuhan yang
menetapkannya demikian.
Dalam
pembacaan hari ini, Tuhan menggunakan minyak urapan untuk menguduskan para imam
yang melayani dalam Kemah Suci. Pengurapan menjadi tanda bahwa para imam
dipisahkan secara khusus untuk pekerjaan Tuhan. Tindakan ini juga menegaskan
bahwa Tuhan sendiri yang menyertai, memperlengkapi, dan memberi otoritas kepada
mereka untuk menjalankan tugas pelayanan di hadapan-Nya. Dalam perspektif
teologi biblika, pengurapan Harun dan anak-anaknya merupakan sebuah tipologi,
yaitu pola atau bayangan awal dari pengurapan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru.
Apa yang Tuhan lakukan secara simbolis dalam PL, digenapi secara rohani dalam
PB melalui karya Roh Kudus.
Dalam perjanjian baru, pengurapan bukan lagi sekedar ritual
fisik, tetapi suatu realitas rohani yang terjadi ketika Roh Kudus hadir,
memenuhi dan memperlengkapi seseorang untuk hidup sesuai dengan tujuan Tuhan.
Dalam Kis. 1: 8 dituliskan, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus
turun ke atas kamu,...” Menunjukkan bahwa pengurapan Roh Kudus memampukan
seseorang untuk mengerjakan hal-hal yang melampaui kemampuan manusia seperti :
berkhotbah dengan keberanian, menyembuhkan, berdisiplin rohani, menyembuhkan,
menghidupi panggilan Tuhan, dll.
Dengan demikian, pelayanan kita bukan bergantung pada kemampuan atau keterampilan semata, tetapi terutama pada pengurapan dan penyertaan Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Tuhanlah yang melayakkan kita untuk melayani Dia dan umat-Nya. Karena itu, marilah kita menyadari bahwa setiap pelayanan yang dipercayakan kepada kita merupakan anugerah Tuhan. Kita dapat melayani bukan karena kita layak, tetapi karena Tuhan yang melayakkan dengan cara menguduskan, mengurapi, dan memperlengkapi kita melalui Roh Kudus. Kiranya kita senantiasa melayani dengan kerendahan hati dan kesadaran bahwa semuanya berasal dari-Nya.
Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru
saja kita dengar. Saudara, bagaimana cara kita merespons pengurapan Roh Kudus
yang menyertai dan memperlengkapi kita dalam pelayanan? Mari lakukan yang
terbaik dalam setiap kesempatan untuk melayani-Nya dan sadarilah senantiasa
bahwa semua adalah milik Tuhan dan hanya untuk Tuhan saja. (TH)

Komentar
Posting Komentar