Keindahan yang Memuliakan Tuhan

Selasa, 16 Desember 2025
Keindahan yang Memuliakan Tuhan
Bacaan Alkitab : Keluaran 31:1–5

Keluaran 31:1–5 menyingkapkan sesuatu yang sering kita abaikan dalam ibadah: keindahan. Tuhan memilih Bezaleel, memenuhi dia dengan Roh Allah, bukan hanya dengan hikmat dan pengertian, tetapi juga ketrampilan artistik— yaitu kemampuan mengolah emas, perak, tembaga, batu permata, dan kayu. Ini adalah deklarasi ilahi bahwa ibadah bukan hanya soal fungsi, melainkan juga keindahan yang mengeksperiskan kemuliaan Sang Pencipta. Manusia, pada naturnya, memang diciptakan untuk menyukai keindahan. Kita tertarik pada simfoni warna, harmoni suara, keseimbangan bentuk, dan keanggunan karya. Itu bukan sekadar preferensi estetika; itu adalah jejak gambar dan rupa Sang Seniman Agung di dalam diri kita.

Kita menyukai keindahan karena kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang maha indah, dan keindahan yang sejati selalu mengarah kembali kepada-Nya. Menariknya, ketika Tuhan membangun pusat ibadah Israel, Ia tidak hanya memerintahkan agar segala sesuatu “berfungsi”, tetapi juga agar semuanya “indah”. Tabernakel harus rapi, simetris, penuh motif, bermaterial terbaik. Ini mengajarkan bahwa ibadah yang benar selalu memadukan fungsi dan keindahan. Bukan hanya benar secara teologis, tetapi juga indah secara estetis. Bukan hanya tepat, tetapi juga menyentuh hati. Karena itu, keindahan bukan bonus dalam ibadah—keindahan adalah bagian dari ibadah. Dan keindahan membutuhkan skill. Bezaleel tidak dipilih secara acak dan tanpa tujuan ; ia dipilih karena dianugrahi kehahlian. Roh Allah tidak hanya mengurapi nabi dan imam, tetapi juga seniman dan pengrajin. Ini menunjukkan bahwa keterampilan adalah bagian dari kesalehan, dan bahwa pelayanan seni dalam ibadah membutuhkan orang-orang yang mengasah kapasitas, bukan yang asal melakukannya.

Sebab itu, kita tidak boleh meremehkan keindahan dalam ibadah. Musik yang rapi, visual yang tertata, dekorasi yang indah, liturgi yang harmonis—semua ini bukan sekadar estetika; ini adalah bentuk hormat kita kepada Allah. Justru ketika kita memandang enteng keindahan, kita sedang memandang enteng salah satu sifat Allah yang Ia nyatakan dalam ciptaan dan dalam ibadah-Nya.

Saudara, apakah kita selama ini memandang keindahan sebagai bagian penting dari ibadah, atau hanya sebagai tambahan yang tidak terlalu penting atau tidak perlu? Biarlah renungan ini mengingatkan kita bahwa Allah memanggil kita bukan hanya untuk hidup benar, tetapi juga untuk menciptakan yang indah. Karena keindahan yang sejati selalu menuntun hati untuk bersujud kepada Dia yang adalah sumber segala keindahan. Amin. (RT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan