Keindahan yang Memuliakan Tuhan
Keindahan yang Memuliakan Tuhan
Bacaan Alkitab : Keluaran 31:1–5
Keluaran 31:1–5 menyingkapkan sesuatu yang sering kita
abaikan dalam ibadah: keindahan. Tuhan memilih Bezaleel, memenuhi dia dengan
Roh Allah, bukan hanya dengan hikmat dan pengertian, tetapi juga ketrampilan
artistik— yaitu kemampuan mengolah emas, perak, tembaga, batu permata, dan
kayu. Ini adalah deklarasi ilahi bahwa ibadah bukan hanya soal fungsi,
melainkan juga keindahan yang mengeksperiskan kemuliaan Sang Pencipta. Manusia,
pada naturnya, memang diciptakan untuk menyukai keindahan. Kita tertarik pada
simfoni warna, harmoni suara, keseimbangan bentuk, dan keanggunan karya. Itu
bukan sekadar preferensi estetika; itu adalah jejak gambar dan rupa Sang
Seniman Agung di dalam diri kita.
Kita menyukai keindahan karena kita diciptakan menurut
gambar dan rupa Allah yang maha indah, dan keindahan yang sejati selalu
mengarah kembali kepada-Nya. Menariknya, ketika Tuhan membangun pusat ibadah
Israel, Ia tidak hanya memerintahkan agar segala sesuatu “berfungsi”, tetapi
juga agar semuanya “indah”. Tabernakel harus rapi, simetris, penuh motif,
bermaterial terbaik. Ini mengajarkan bahwa ibadah yang benar selalu memadukan
fungsi dan keindahan. Bukan hanya benar secara teologis, tetapi juga indah
secara estetis. Bukan hanya tepat, tetapi juga menyentuh hati. Karena itu,
keindahan bukan bonus dalam ibadah—keindahan adalah bagian dari ibadah. Dan
keindahan membutuhkan skill. Bezaleel tidak dipilih secara acak dan tanpa
tujuan ; ia dipilih karena dianugrahi kehahlian. Roh Allah tidak hanya
mengurapi nabi dan imam, tetapi juga seniman dan pengrajin. Ini menunjukkan
bahwa keterampilan adalah bagian dari kesalehan, dan bahwa pelayanan seni dalam
ibadah membutuhkan orang-orang yang mengasah kapasitas, bukan yang asal
melakukannya.
Sebab itu, kita tidak boleh meremehkan keindahan dalam
ibadah. Musik yang rapi, visual yang tertata, dekorasi yang indah, liturgi yang
harmonis—semua ini bukan sekadar estetika; ini adalah bentuk hormat kita kepada
Allah. Justru ketika kita memandang enteng keindahan, kita sedang memandang
enteng salah satu sifat Allah yang Ia nyatakan dalam ciptaan dan dalam
ibadah-Nya.
Saudara, apakah kita selama ini memandang keindahan
sebagai bagian penting dari ibadah, atau hanya sebagai tambahan yang tidak
terlalu penting atau tidak perlu? Biarlah renungan ini mengingatkan kita bahwa
Allah memanggil kita bukan hanya untuk hidup benar, tetapi juga untuk
menciptakan yang indah. Karena keindahan yang sejati selalu menuntun hati untuk
bersujud kepada Dia yang adalah sumber segala keindahan. Amin. (RT)

Komentar
Posting Komentar