Keadilan yang Menuntun pada Kekudusan
Senin, 15 Desember 2025
Keadilan yang Menuntun pada Kekudusan
Bacaan Alkitab : Keluaran 30 : 37-38
Ayat-ayat ini adalah Bagian terakhir dari perikop tentang dupa yang kudus. Ayat-ayat ini menegaskan bahwa campuran rempah-rempah yang digunakan dalam ibadah bersifat sangat kudus. Kekudusan itu bukan berasal dari bahan-bahannya, melainkan karena penggunaannya yang dikhususkan bagi Tuhan. Karena itu campuran tersebut disebut “kudus bagimu,” yakni tidak boleh dipakai untuk tujuan pribadi atau keperluan sehari-hari. Rempah-rempah itu diletakkan di atas mezbah ukupan, lalu dibakar sehingga menghasilkan bau yang harum sebagai simbol penyembahan dan doa yang naik kepada Allah. Keharuman ini tidak boleh dinikmati atau dihirup sembarangan; hanya imam dalam tugas dan Allah sendiri yang berhak menerima persembahan harum itu. Pelanggaran terhadap ketentuan ini dikenai hukuman berat, “ dilenyapkan dari bangsanya.” Pada zaman Israel Kuno, istilah “dilenyapkan” menunjukkan hukuman mati atau pengucilan total, sehingga seseorang tidak lagi dianggap bagian dari umat Allah. Hukuman Ini adalah bentuk perlindungan terhadap kekudusan ibadah dan penyalahgunaan barang-barang yang sudah dikuduskan.
Saudara,
bacaan firman Tuhan ini mengingatkan kita tentang keadilan Allah. Dalam perikop
ini, keadilan Allah tampak dalam penerapan hukum yang sama bagi semua orang,
tanpa memandang status. Baik imam maupun orang biasa dikenai hukuman yang sama apabila
mereka membuat campuran rempah-rempah untuk kepentingan pribadi termasuk jika
para imam menghirup aroma tersebut. Melalui hal ini kita dapat melihat bahwa
ibadah bukanlah suatu rekayasa manusia sehingga kekudusan Allah tidak boleh
dipermainkan. Ketegasan hal ini disertai dengan hukuman yang diberikan kepada
siapa pun yang melanggar ketetapan Allah.
Saudara, keadilan merupakan
hakikat Allah. Ia adalah Allah yang tidak memihak. Ia mengasihi semua orang
sehingga mengaruniakan Putera-Nya untuk menebus dosa semua orang (Yoh. 3: 16).
Artinya, Ia menyediakan jalan menuju kehidupan bersama-Nya kepada semua orang
dengan syarat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Pada saat
yang sama, Ia juga adalah Allah yang menghukum semua orang yang hidup dalam
dosa dan pemberontakan kepada-Nya (Rm. 6: 23). Siapa pun yang tetap hidup dalam
keinginan daging seperti : keserakahan, kemarahan, percabulan, penyembahan
berhala, dll akan mengalami keterpisahan dengan Allah selamanya. Hukuman ini
berlaku untuk semua orang tanpa kecuali seperti jemaat biasa, pelayan Tuhan,
hamba Tuhan, jabatan profesi dalam dunia kerja, dll. Dengan demikian, mari
hormati batas-batas kekudusan-Nya melalui kehidupan yang senantiasa selaras
dengan perintah-perintah-Nya.
Saudara,
mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara,
apakah kita menjaga kehidupan rohani kita tetap murni di hadapan-Nya, ataukah
kita melonggarkan batas-batas kekudusan yang telah Ia tetapkan bagi kita?
Marilah membuka hati di hadapan Tuhan. Biarlah Roh Kudus menolong kita untuk
hidup dalam pertobatan, menjaga kekudusan hidup, serta memberikan diri untuk
dipakai Allah sebagai “bau yang harum” bagi Tuhan. Kiranya kita menjadi umat
yang setia, bukan hanya mengetahui kehendak Allah, tetapi juga melakukannya
dalam kasih, ketaatan, dan hormat kepada-Nya. (TH)

Komentar
Posting Komentar