Tuhan Yang Menata, Kita Yang Menjalani
Tuhan Yang Menata, Kita Yang Menjalani
Bacaan Alkitab : Keluaran 29: 31-34
Dalam Keluaran 29, Tuhan sedang mengatur tata
cara penahbisan Harun dan anak-anaknya sebagai imam. Di ayat
31–34, Allah memerintahkan agar daging dari domba tahbisan diolah di tempat
kudus dan dimakan oleh Harun serta anak-anaknya. Sisa dari daging itu tidak
boleh keluar dari tempat kudus dan bila ada yang tersisa, harus dibakar.
Perintah ini tampak sederhana
karena hanya urusan makanan. Namun, di balik ritual itu tersimpan makna yang
dalam tentang rencana Allah yang teratur, berkesinambungan, dan tidak tergantung
pada satu pribadi saja. Dari bagian ini menunjukkan bagaimana Allah mengatur
sistem ibadah dan pelayanan yang kudus dengan sangat rinci, bukan hanya untuk
masa Harun, tetapi juga untuk keturunannya. Allah bukan sekadar memanggil
seseorang untuk melayani, melainkan menetapkan pola dan sistem yang akan
diteruskan dari generasi ke generasi. Makanan dari korban penahbisan itu
menjadi lambang bahwa para imam mengambil bagian dalam persekutuan dengan Allah
dan dalam pekerjaan yang Allah percayakan kepada mereka. Namun, dalam ayat ini
juga menekankan sesuatu yang penting: semua jabatan dan kehormatan itu bersifat
sementara dan simbolis. Tidak ada imam, bahkan Harun sendiri, yang menjadi
pusat dari rencana Allah. Semua hanyalah bayangan dari Imam Besar yang sejati
yaitu Kristus yang akan datang untuk menjadi pengantara kekal antara Allah dan
manusia. Maka, rencana Allah tidak pernah bergantung pada satu sosok manusia,
melainkan selalu berpusat pada Pribadi-Nya sendiri.
Kita sering kali terjebak dalam pandangan sempit, merasa bahwa keberhasilan pelayanan, pekerjaan, atau kehidupan rohani bergantung pada kita. Padahal, seperti halnya Harun, kita hanyalah bagian kecil dari sistem besar yang Allah rancang dengan kebijaksanaan yang melampaui waktu. Peran kita bisa berakhir, jabatan kita bisa digantikan, tetapi rancangan Allah akan terus berjalan. Pribadi yang menyusun rencana ini bukan sekadar mengatur tugas-tugas imam; Ia sedang merancang sistem kehidupan yang akan dihidupi oleh generasi demi generasi. Setiap aturan yang diberikan, setiap korban yang dipersembahkan, adalah benang dalam kain besar penyelamatan Allah yang kelak digenapi di dalam Kristus. Maka, ketika kita membaca Keluaran 29:31–34, kita diingatkan bahwa panggilan dan kesempatan melayani Tuhan bukanlah milik kita selamanya, tetapi kesempatan dari Allah untuk satu musim kehidupan. Yang kekal bukanlah nama kita, tetapi rencana-Nya. Yang perlu kita jaga bukanlah posisi, tetapi kesetiaan. Setiap generasi memiliki panggilannya sendiri, dan setiap hati memiliki waktunya untuk taat. Tidak ada pelayanan yang kekal di tangan manusia, tetapi rencana Allah tidak pernah berhenti berjalan. Ia adalah Allah yang menata sistem, memelihara generasi, dan menegakkan maksud-Nya bahkan ketika tokoh-tokoh silih berganti. Tugas kita bukan mempertahankan posisi, melainkan menjaga kemurnian hati dalam menjalankan bagian kita.
Saudara, apakah
kita kita sedang berfokus kepada kehormatan jabatan atau pada kesetiaan kepada
Sang Pemberi Panggilan? Biarlah kiranya
kita taat menjalankan bagian kita, tanpa mengira diri pusat dari segalanya.
Sebab rencana Allah tidak akan berhenti sekalipun kita selesai, dan itulah
bukti bahwa rencana itu ilahi. (FS)

Komentar
Posting Komentar