Tuhan Yang Menata, Kita Yang Menjalani

Sabtu, 22 November 2025
Tuhan Yang Menata, Kita Yang Menjalani
Bacaan Alkitab : Keluaran 29: 31-34


Dalam Keluaran 29, Tuhan sedang mengatur tata cara  penahbisan  Harun dan anak-anaknya sebagai imam. Di ayat 31–34, Allah memerintahkan agar daging dari domba tahbisan diolah di tempat kudus dan dimakan oleh Harun serta anak-anaknya. Sisa dari daging itu tidak boleh keluar dari tempat kudus dan bila ada yang tersisa, harus dibakar. Perintah ini  tampak sederhana karena hanya urusan makanan. Namun, di balik ritual itu tersimpan makna yang dalam tentang rencana Allah yang teratur, berkesinambungan, dan tidak tergantung pada satu pribadi saja. Dari bagian ini menunjukkan bagaimana Allah mengatur sistem ibadah dan pelayanan yang kudus dengan sangat rinci, bukan hanya untuk masa Harun, tetapi juga untuk keturunannya. Allah bukan sekadar memanggil seseorang untuk melayani, melainkan menetapkan pola dan sistem yang akan diteruskan dari generasi ke generasi. Makanan dari korban penahbisan itu menjadi lambang bahwa para imam mengambil bagian dalam persekutuan dengan Allah dan dalam pekerjaan yang Allah percayakan kepada mereka. Namun, dalam ayat ini juga menekankan sesuatu yang penting: semua jabatan dan kehormatan itu bersifat sementara dan simbolis. Tidak ada imam, bahkan Harun sendiri, yang menjadi pusat dari rencana Allah. Semua hanyalah bayangan dari Imam Besar yang sejati yaitu Kristus yang akan datang untuk menjadi pengantara kekal antara Allah dan manusia. Maka, rencana Allah tidak pernah bergantung pada satu sosok manusia, melainkan selalu berpusat pada Pribadi-Nya sendiri.

Kita sering kali terjebak dalam pandangan sempit, merasa bahwa keberhasilan pelayanan, pekerjaan, atau kehidupan rohani bergantung pada kita. Padahal, seperti halnya Harun, kita hanyalah bagian kecil dari sistem besar yang Allah rancang dengan kebijaksanaan yang melampaui waktu. Peran kita bisa berakhir, jabatan kita bisa digantikan, tetapi rancangan Allah akan terus berjalan. Pribadi yang menyusun rencana ini bukan sekadar mengatur tugas-tugas imam; Ia sedang merancang sistem kehidupan yang akan dihidupi oleh generasi demi generasi. Setiap aturan yang diberikan, setiap korban yang dipersembahkan, adalah benang dalam kain besar penyelamatan Allah yang kelak digenapi di dalam Kristus. Maka, ketika kita membaca Keluaran 29:31–34, kita diingatkan bahwa panggilan dan kesempatan melayani Tuhan bukanlah milik kita selamanya, tetapi kesempatan dari Allah untuk satu musim kehidupan. Yang kekal bukanlah nama kita, tetapi rencana-Nya. Yang perlu kita jaga bukanlah posisi, tetapi kesetiaan. Setiap generasi memiliki panggilannya sendiri, dan setiap hati memiliki waktunya untuk taat. Tidak ada pelayanan yang kekal di tangan manusia, tetapi rencana Allah tidak pernah berhenti berjalan. Ia adalah Allah yang menata sistem, memelihara generasi, dan menegakkan maksud-Nya bahkan ketika tokoh-tokoh silih berganti. Tugas kita bukan mempertahankan posisi, melainkan menjaga kemurnian hati dalam menjalankan bagian kita.

Saudara, apakah kita kita sedang berfokus kepada kehormatan jabatan atau pada kesetiaan kepada Sang Pemberi Panggilan? Biarlah kiranya kita taat menjalankan bagian kita, tanpa mengira diri pusat dari segalanya. Sebab rencana Allah tidak akan berhenti sekalipun kita selesai, dan itulah bukti bahwa rencana itu ilahi. (FS)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup sesuai Kehendak Allah

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah