Tanda Penyerahan Total
Tanda Penyerahan Total
Upacara penahbisan imam dalam Keluaran
29 bukan sekadar ritual keagamaan. Setiap tindakan memiliki makna rohani yang
dalam.Saat Musa mengoleskan darah pada telinga, ibu jari tangan, dan ibu jari
kaki Harun serta anak-anaknya, itu bukan hanya lambang penyucian, tetapi juga
penyerahan total hidup seorang imam kepada Tuhan. Mereka tidak lagi hidup untuk
diri sendiri, tetapi sepenuhnya bagi Dia yang telah menebus mereka dengan
darah. Dari peristiwa di atas kita akan
mempelajari tiga hal. Pertama, Telinga yang diolesi darah, Darah di
telinga kanan melambangkan pendengaran yang dikuduskan. Imam harus peka
terhadap suara Tuhan sebelum berbicara kepada umat. Dalam kehidupan rohani,
banyak orang melayani, tetapi jarang mendengar. Mereka sibuk bekerja bagi
Tuhan, tetapi lupa berdiam diri di hadapan-Nya.
Yesus sendiri berkata, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku...” (Yohanes
10:27). Tanpa telinga yang disucikan, kita bisa lebih sering mendengar dunia
daripada Firman Tuhan. Seorang pelayan sejati bukan hanya pandai berbicara,
tapi terlebih dahulu belajar mendengar.
Kedua, Tangan yang diolesi darah, Ibu jari tangan kanan diolesi darah
melambangkan pekerjaan yang dikuduskan. Tangan adalah simbol tindakan, kerja,
dan pelayanan. Imam tidak boleh menggunakan tangannya untuk keuntungan pribadi,
melainkan untuk pekerjaan Tuhan yang suci.
Dalam Perjanjian Baru, Paulus berkata,
“Apa pun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk
Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Tangan yang diolesi darah
berarti tangan yang siap bekerja bukan demi kehormatan diri, tetapi demi
kemuliaan Allah. Dan yang ketiga, Kaki
yang diolesi darah, Ibu jari kaki kanan diolesi darah menandakan arah
hidup dan langkah yang dikuduskan. Pelayan Tuhan harus berhati-hati ke mana ia
melangkah. Tidak semua jalan yang tampak baik adalah jalan Tuhan. Mazmur
119:105 berkata, “Firman-Mu adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
Langkah yang dipimpin Tuhan akan membawa berkat; langkah yang salah dapat
menjerumuskan banyak orang. Kaki yang berdarah adalah kaki yang rela berjalan
dalam penderitaan dan ketaatan kepada Tuhan.
Saudara, Darah di telinga, tangan, dan
kaki menunjukkan bahwa seluruh hidup
imam — pikiran, tindakan, dan langkahnya — harus diserahkan kepada Tuhan.
Demikian pula kita, umat tebusan Kristus, adalah “imamat yang rajani” (1 Petrus
2:9). Hidup kita seharusnya menjadi persembahan yang kudus, berkenan kepada
Allah. Kita harus memiliki telinga
untuk mendengar suara Tuhan, tangan untuk melakukan pekerjaan Tuhan, dan kaki
untuk berjalan dalam jalan Tuhan.
Saudara, apakah pendengaran, tangan, dan kaki kita telah disucikan untuk melakukan pekerjaan Tuhan? Kiranya setiap bagian hidup kita yang telah ditebus oleh darah Kristus, membuat kita hidup bukan lagi untuk diri sendiri, melainkan untuk Dia yang telah menebus kita. Amin. (RT)

Komentar
Posting Komentar