Salib adalah Jalan Persekutuan
Salib adalah Jalan Persekutuan
Saudara, dalam
bagian berikutnya tentang “penahbisan Harun dan anak-anaknya” Allah memberikan
detail tentang korban penghapus dosa umat-Nya. Ketika korban di persembahkan
maka Harun serta anak-anaknya harus meletakkan tangan mereka di atas kepala
lembu itu lalu dipersembahkan di pintu kemah pertemuan kepada Tuhan. Sedikit
darah dari lembu itu harus diambil untuk dibubuhkan pada tanduk-tanduk mezbah.
Sedangkan, seluruh darah yang tersisa harus dicurahkan pada bagian bawah
mezbah. Untuk lemak-lemak dari korban yang dibakar
di atas mezbah, sedangkan bagian dalam lembu jantan dibakar habis di luar
perkemahan. Dengan demikian, kita diingatkan bahwa ketika manusia berhadapan
dengan Allah, maka akan ada darah yang tercurah. Sehingga, dengan rinci Allah
memberikan aturan berkaitan dengan darah yang tercurah dari korban penghapus
dosa yang dilaksanakan oleh imam besar di bait Allah. Ketika darah tercurah
maka dosa dihapuskan dan setiap umat Allah dapat masuk dalam hadirat-Nya untuk
menaikkan permohonan serta ucapan syukur.
Pada zaman
Perjanjian Baru, segala sistem korban penebus dosa yang dahulu berlaku dalam
Perjanjian Lama telah digenapi sempurna di dalam Yesus Kristus. Dialah Anak
Domba Allah yang memikul dosa seluruh dunia di dalam tubuh-Nya. Ia rela
menanggung hinaan, pukulan dan cambukkan hingga tubuh-Nya hancur dan darah-Nya
tercurah di kayu salib. Darah yang tercurah itu bukan sekedar tanda
penderitaan, melainkan kasih yang menyucikan setiap kita dan membuka jalan
menuju hadirat Allah. Kini, kita tidak lagi memerlukan ritual atau persembahan
seperti di masa lalu, sebab Kristus telah menjadi korban yang sempurna sekali
untuk selama-lamanya. Hal ini mengingatkan kita bahwa kekudusan sejati tidak
lahir dari rutinitas atau upacara, melainkan dari hubungan yang hidup dengan
Allah melalui pengorbanan Kristus.
Saudara, setiap
kali kita datang kepada-Nya, kita diingatkan bahwa pertemuan dengan Allah
selalu melibatkan darah yang tercurah – bukan darah kita, tetapi darah Kristus
yang menggantikan kita. Allah dapat memusnahkan kita tetapi memilih untuk
menanggung hukuman yang seharusnya kita terima, agar kita dapat mendekat dengan
hati yang bersih dan diselimuti kasih karunia-Nya. Oleh karena itu, mari kita
senantiasa menghormati Allah dalam setiap segi kehidupan kita dengan cara hidup
dalam perintah-perintah-Nya, mengingat bahwa semua yang kita miliki adalah
anugerah-Nya semata, sehingga
persekutuan kita dengan Allah terjaga selamanya.
Saudara, mari
sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, sejauh
mana kita benar-benar menyadari harga darah yang telah dicurahkan bagi kita?
Mari sadari dan hormati karya penebusan Kristus di kayu salib, yang telah
membuka jalan persekutuan yang baru antara Allah dan kita. (TH)

Komentar
Posting Komentar