Menyentuh Mezbah MahaKudus
Menyentuh Mezbah MahaKudus
Bacaan : Keluaran 29 : 35-37
Saudara,
bagian penutup dari perikop penahbisan Harun dan anak-anaknya ini sangat
menarik. Kita melihat bagaimana Allah terlebih dahulu mempersiapkan mereka
dengan sangat terperinci supaya mereka kudus dan layak melayani sebagai imam,
sebelum mereka melayani umat Israel. Kemudian selama tujuh hari ada korban
pendamaian yang dipersembahkan di atas mezbah yang dikuduskan, sehingga mezbah
itu menjadi mahakudus—dan apa pun yang menyentuh mezbah itu menjadi kudus.
Kata “apa pun” yang dalam bahasa aslinya “yiqdas”,
diterjemahkan dengan lebih tepat dalam Alkitab Terjemahan Baru 2. Lalu apa
tujuannya ketika sesuatu menjadi kudus saat bersentuhan dengan mezbah? Kita
dapat memahaminya demikian: kekudusan yang diterima oleh benda atau apa pun
yang menyentuh mezbah, bukan hanya berkaitan dengan statusnya yang menjadi
kudus, tetapi agar fungsinya juga dapat dipakai untuk melakukan pekerjaan yang
kudus. Bahkan benda yang telah disucikan tidak boleh dipergunakan untuk tujuan
lain selain pekerjaan suci. Seluruh perkakas tabernakel dikuduskan supaya dapat
dipakai dalam ibadah kudus dengan Allah. Demikian pula prinsip yang Paulus
sampaikan dalam 2 Timotius 2:21 Jika seseorang menyucikan dirinya dari hal-hal
yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia
dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap
pekerjaan yang baik. Seseorang yang telah bersentuhan dengan yang Mahakudus,
akan menjadi “perkakas kudus” yang hanya melakukan pekerjaan kudus.
Saudara, ketika kita berdoa menyerahkan keluarga,
anak-anak, pekerjaan, studi, pelayanan, dan seluruh aspek hidup kepada
Allah—itu bukan hanya berarti kita menyerahkannya untuk dipelihara Allah saja. Tapi
kita sedang menyerahkan untuk dikuduskannya bagi tujuan Allah. Segala sesuatu
yang diserahkan kepada-Nya dikuduskan juga dalam fungsi dan penggunaannya.
Pekerjaan, studi, dan pelayanan kita dipisahkan dari tujuan yang sia-sia, dan
dipakai untuk mengerjakan pekerjaan Allah yang kudus. Karena itu, apa pun yang
telah bersentuhan dengan Sang Mahakudus tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri.
Ia didedikasikan untuk Allah. Apakah Saudara menyadari
bahwa hidup Saudara telah bersentuhan dengan Sang Mahakudus? Saudara adalah
perkakas Kerajaan Allah—dipakai hanya untuk pekerjaan-pekerjaan kudus yang
Allah kehendaki. (TM)
Refleksi : apakah saudara menyadari bahwa hidup saudara telah
bersentuhan dengan Sang Mahakudus?

Komentar
Posting Komentar