Menyentuh Mezbah MahaKudus

Senin, 24 November 2025
Menyentuh Mezbah MahaKudus

Bacaan : Keluaran 29 : 35-37


 

          Saudara, bagian penutup dari perikop penahbisan Harun dan anak-anaknya ini sangat menarik. Kita melihat bagaimana Allah terlebih dahulu mempersiapkan mereka dengan sangat terperinci supaya mereka kudus dan layak melayani sebagai imam, sebelum mereka melayani umat Israel. Kemudian selama tujuh hari ada korban pendamaian yang dipersembahkan di atas mezbah yang dikuduskan, sehingga mezbah itu menjadi mahakudus—dan apa pun yang menyentuh mezbah itu menjadi kudus.

Kata “apa pun” yang dalam bahasa aslinya “yiqdas”, diterjemahkan dengan lebih tepat dalam Alkitab Terjemahan Baru 2. Lalu apa tujuannya ketika sesuatu menjadi kudus saat bersentuhan dengan mezbah? Kita dapat memahaminya demikian: kekudusan yang diterima oleh benda atau apa pun yang menyentuh mezbah, bukan hanya berkaitan dengan statusnya yang menjadi kudus, tetapi agar fungsinya juga dapat dipakai untuk melakukan pekerjaan yang kudus. Bahkan benda yang telah disucikan tidak boleh dipergunakan untuk tujuan lain selain pekerjaan suci. Seluruh perkakas tabernakel dikuduskan supaya dapat dipakai dalam ibadah kudus dengan Allah. Demikian pula prinsip yang Paulus sampaikan dalam 2 Timotius 2:21 Jika seseorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang baik. Seseorang yang telah bersentuhan dengan yang Mahakudus, akan menjadi “perkakas kudus” yang hanya melakukan pekerjaan kudus.

Saudara, ketika kita berdoa menyerahkan keluarga, anak-anak, pekerjaan, studi, pelayanan, dan seluruh aspek hidup kepada Allah—itu bukan hanya berarti kita menyerahkannya untuk dipelihara Allah saja. Tapi kita sedang menyerahkan untuk dikuduskannya bagi tujuan Allah. Segala sesuatu yang diserahkan kepada-Nya dikuduskan juga dalam fungsi dan penggunaannya. Pekerjaan, studi, dan pelayanan kita dipisahkan dari tujuan yang sia-sia, dan dipakai untuk mengerjakan pekerjaan Allah yang kudus. Karena itu, apa pun yang telah bersentuhan dengan Sang Mahakudus tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri. Ia didedikasikan untuk Allah. Apakah Saudara menyadari bahwa hidup Saudara telah bersentuhan dengan Sang Mahakudus? Saudara adalah perkakas Kerajaan Allah—dipakai hanya untuk pekerjaan-pekerjaan kudus yang Allah kehendaki. (TM)

 


Refleksi : apakah saudara menyadari bahwa hidup saudara telah bersentuhan dengan Sang Mahakudus?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup sesuai Kehendak Allah

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah