Mengikat Komitmen, Menjaga Kekudusan

Jumat, 14 November 2025
“Mengikat Komitmen, Menjaga Kekudusan”

Bacaan Alkitab : Keluaran 29:9



Keluaran 29:9 menjelaskan penetapan Harun dan anak-anaknya ke dalam jabatan imam. Ini bukan jabatan biasa, melainkan penetapan oleh Tuhan sendiri, yang dilakukan melalui ritual pengenaan pakaian imam. Dalam ritual penahbisan  itu, Musa mengenakan dua perlengkapan penting kepada para imam yaitu ikat kepala dan ikat pinggang. Dalam budaya Ibrani, mengikat pinggang adalah tindakan mempersiapkan diri untuk bekerja keras, melakukan perjalanan, atau melayani. Itu menunjukkan kesiapan, ketertiban, dan fokus. Ikat pinggang mengajarkan kita untuk mengikatkan komitmen seumur hidup kita kepada Tuhan. Kita dipanggil untuk hidup tertib, fokus, dan selalu siap sedia untuk mengikuti Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita—di rumah, pekerjaan, dan gereja.

Kemudian ada perlengkapan selanjutnya yaitu ikat kepala. Ikat kepala, dengan perhiasan emas yang suci di bagian depan, ini menunjukkan bahwa Harun dikhususkan dan dikuduskan untuk Tuhan. Ini adalah lambang kehormatan dan otoritas yang diberikan Allah. Ikat kepala mengingatkan kita bahwa kita menyandang nama Kristus. Kehormatan ini menuntut kekudusan dalam hidup kita. Panggilan untuk melayani Tuhan adalah hal yang mulia, dan kita harus menjaganya dengan hidup yang mencerminkan kehormatan Kristus. Ikat kepala adalah pengingat bahwa sebagai orang percaya, kita harus menjaga pikiran dan hati kita tetap murni. Kita dipanggil untuk memfokuskan pikiran pada hal-hal yang baik, benar, dan suci, serta menjauhkan diri dari niat buruk dan pikiran yang mencemarkan. Kekudusan ini adalah fondasi dari pelayanan yang efektif dan berkenan kepada Tuhan.

Penahbisan Harun dan anak-anaknya mengingatkan kita bahwa pelayanan bukan hanya tugas para pemimpin agama, tetapi panggilan bagi setiap orang percaya. Kita semua memiliki peran dan tanggung jawab untuk melayani Tuhan dan mengikut Tuhan dengan komitmen teguh. Setiap langkah yang kita ambil harus mencerminkan iman dan pengabdian kita kepada Tuhan. Ini berarti kita harus memastikan bahwa setiap keputusan dan tindakan kita selaras dengan kehendak-Nya. Imam bukan hanya jabatan, tetapi proses pembentukan diri seumur hidup. Seperti Harun harus dipersiapkan dengan hati-hati, demikian pula kita dipersiapkan oleh Tuhan melalui disiplin, pelayanan, dan karakter. Mengikat pinggang berarti mendisiplinkan diri. Memakai ikat kepala berarti menghormati panggilan Tuhan. Keduanya membentuk kita menjadi pribadi yang tidak hanya mampu melayani Tuhan, tetapi juga memantulkan kemuliaan-Nya dalam setiap aspek kehidupan.

Mengikut Tuhan bukan sekadar berjalan di belakang-Nya, tetapi menyesuaikan langkah, arah, dan hati dengan kehendak-Nya. Seperti Harun dan anak-anaknya yang dipersiapkan melalui ikat pinggang dan ikat kepala, kita pun dipanggil untuk siap dan kudus dalam setiap langkah mengikuti Tuhan. Mengikat pinggang berarti siap taat meski jalan terasa berat. Memakai ikat kepala berarti menjaga hati dan pikiran tetap tertuju pada Tuhan, bukan pada dunia. Mengikut Tuhan selalu menuntut kesiapan dan kekudusan. Ia tidak mencari yang sempurna, tapi yang mau dibentuk.  Biarlah kiranya dalam setiap proses, Tuhan menuntun agar hidup kita menjadi cerminan kasih dan kemuliaan-Nya. (FS)

 

Pertanyaan: Dalam proses pembentukan Tuhan, apakah saya rela dibentuk meski itu tidak nyaman?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah

Yesus Disalibkan