Mengikat Komitmen, Menjaga Kekudusan
“Mengikat Komitmen, Menjaga Kekudusan”
Bacaan Alkitab : Keluaran 29:9
Keluaran 29:9 menjelaskan penetapan Harun dan
anak-anaknya ke dalam jabatan imam. Ini bukan jabatan biasa, melainkan penetapan oleh Tuhan sendiri, yang
dilakukan melalui ritual pengenaan pakaian imam. Dalam ritual penahbisan itu, Musa mengenakan dua perlengkapan penting
kepada para imam yaitu ikat kepala dan ikat pinggang. Dalam budaya Ibrani,
mengikat pinggang adalah tindakan mempersiapkan diri untuk bekerja keras,
melakukan perjalanan, atau melayani. Itu menunjukkan kesiapan, ketertiban, dan fokus. Ikat pinggang mengajarkan kita
untuk mengikatkan komitmen seumur hidup
kita kepada Tuhan. Kita dipanggil untuk hidup tertib, fokus, dan selalu siap
sedia untuk mengikuti Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita—di rumah,
pekerjaan, dan gereja.
Kemudian ada perlengkapan selanjutnya yaitu ikat kepala.
Ikat kepala, dengan perhiasan emas yang suci di bagian depan, ini menunjukkan
bahwa Harun dikhususkan dan dikuduskan
untuk Tuhan. Ini adalah lambang kehormatan
dan otoritas yang diberikan Allah. Ikat kepala mengingatkan kita bahwa
kita menyandang nama Kristus. Kehormatan ini menuntut kekudusan dalam hidup kita. Panggilan untuk melayani Tuhan adalah
hal yang mulia, dan kita harus menjaganya dengan hidup yang mencerminkan
kehormatan Kristus. Ikat kepala adalah pengingat bahwa sebagai orang percaya,
kita harus menjaga pikiran dan hati kita tetap murni. Kita dipanggil untuk
memfokuskan pikiran pada hal-hal yang baik, benar, dan suci, serta menjauhkan
diri dari niat buruk dan pikiran yang mencemarkan. Kekudusan ini adalah fondasi
dari pelayanan yang efektif dan berkenan kepada Tuhan.
Penahbisan Harun dan anak-anaknya mengingatkan kita bahwa pelayanan bukan hanya tugas
para pemimpin agama, tetapi panggilan bagi setiap orang percaya. Kita semua
memiliki peran dan tanggung jawab untuk melayani Tuhan dan mengikut Tuhan
dengan komitmen teguh. Setiap langkah yang kita ambil harus mencerminkan iman
dan pengabdian kita kepada Tuhan. Ini berarti kita harus memastikan bahwa
setiap keputusan dan tindakan kita selaras dengan kehendak-Nya. Imam bukan
hanya jabatan, tetapi proses pembentukan diri seumur hidup. Seperti Harun harus
dipersiapkan dengan hati-hati, demikian pula kita dipersiapkan oleh Tuhan
melalui disiplin, pelayanan, dan karakter. Mengikat pinggang berarti mendisiplinkan diri. Memakai ikat kepala
berarti menghormati
panggilan Tuhan. Keduanya membentuk kita menjadi pribadi yang tidak hanya
mampu melayani
Tuhan, tetapi juga memantulkan
kemuliaan-Nya dalam setiap aspek kehidupan.
Mengikut Tuhan bukan sekadar berjalan di belakang-Nya,
tetapi menyesuaikan langkah, arah, dan hati dengan kehendak-Nya. Seperti Harun
dan anak-anaknya yang dipersiapkan melalui ikat pinggang dan ikat kepala, kita
pun dipanggil untuk siap dan kudus dalam setiap langkah mengikuti Tuhan.
Mengikat pinggang berarti siap taat meski jalan terasa berat. Memakai ikat
kepala berarti menjaga hati dan pikiran tetap tertuju pada Tuhan, bukan pada
dunia. Mengikut Tuhan selalu menuntut kesiapan dan kekudusan. Ia tidak mencari
yang sempurna, tapi yang mau dibentuk.
Biarlah kiranya dalam setiap proses, Tuhan menuntun agar hidup kita
menjadi cerminan kasih dan kemuliaan-Nya. (FS)
Pertanyaan: Dalam proses pembentukan Tuhan, apakah saya
rela dibentuk meski itu tidak nyaman?

Komentar
Posting Komentar