Mengenal Allah yang Hadir dan Menetap

Kamis, 27 November 2025
Mengenal Allah yang Hadir dan Menetap 
Bacaan Alkitab : Keluaran 29:43-46

Saudara yang terkasih, keluaran 29:43-46 menuliskan bagaimana Allah ingin hadir, dekat, dan tinggal bersama dengan umat-Nya. Tiga kali Allah menegaskan, “Aku akan”; Aku akan bertemu, Aku akan menguduskan, dan Aku akan diam di tengah-tengah mereka. Ini bukan sekedar janji teologis, tetapi pernyataan kasih dari Allah, yang ingin membangun relasi yang intim dengan manusia.  

Saudara, kita tahu bahwa di pasal-pasal sebelumnya menuliskan bagaimana Allah menuntun bangsa Israel keluara dari tanah Mesir dengan berbagai macam mukjizat. Kini Allah yang sama yang membelah laut, yang menyatakan kuasa-Nya di Mesir, yang memimpin melalui tiang awan dan tiang api—Allah itulah yang kini memilih untuk berdiam di tengah-tengah mereka. Artinya, pengalaman masa lalu bukan hanya kenangan; itu adalah dasar untuk memahami bahwa Allah yang dahulu menyertai, kini hadir secara nyata dan bersekutu dengan mereka. Ia bukan Allah yang jauh. Ia adalah Allah yang menempatkan hadirat-Nya di tengah umat, menjadi pusat hidup dan arah perjalanan mereka. Namun ayat ini tidak hanya berbicara kepada Israel tetapi juga bagi kita yang percaya kepada Kristus. Melalui Kristus dan karya Roh Kudus, kehadiran Allah kini tidak lagi terbatas pada kemah suci. Ia tinggal dalam diri setiap orang percaya.

Allah yang saat di Perjanjian Lama bertemu di kemah suci, kini menjadikan hati kita tempat tinggal-Nya. Kita tidak mencari Allah di tempat-tempat tertentu; kita menyadari kehadiran-Nya dalam hidup kita setiap hari—dalam pekerjaan, pergumulan, relasi, dan keputusan. Allah yang dulu hadir dalam sejarah hidup kita—memberi pertolongan, menjawab doa, membuka jalan—adalah Allah yang sama yang kini menyertai kita di dalam diri kita. Untuk itu kita harus mengenal Allah kita lebih dalam lagi. Mengenal Allah dalam konteks ini bukan sekadar mengetahui tentang Dia, tetapi mengalami Dia dengan membangun hubungan yang intim dengan Allah. Relasi intim dengan Allah berarti membuka ruang bagi-Nya untuk membentuk karakter kita, menuntun langkah kita, dan berbicara kepada kita. Kadang kita melupakan hal ini. Kita hidup seolah-olah Allah hanya hadir ketika kita berdoa atau beribadah, padahal Ia berdiam di dalam kita setiap saat. Oleh karena itu, mengenal Allah berarti belajar peka terhadap kehadiran-Nya—bahwa Ia bukan hanya bergerak di masa lalu, tetapi bekerja dalam hati kita hari ini. Saudara, Keluaran 29:46 menutup dengan kalimat, “supaya mereka tahu bahwa Akulah Tuhan…” Tujuannya adalah pengenalan. Allah ingin kita mengenal Dia bukan melalui ritual kosong, tetapi melalui relasi yang hidup. Ketika kita sadar bahwa Allah tinggal dalam diri kita, iman kita menjadi lebih dari sekadar pengetahuan. Bahwa, kehadiran Allah menjadi sumber damai, arah, kekuatan, dan penghiburan.

Saudara, apakah kita masih melihat Allah hanya sebagai penolong masa lalu? Atau kita sungguh menyadari bahwa Ia hadir dalam hidup kita hari ini? Kiranya melalui Firman Tuhan ini kita diingatkan untuk hidup dalam kesadaran bahwa, Tuhan adalah Allah yang dekat, Allah yang hadir, dan Allah yang menetap dalam kehidupan kita. Amin. (RT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup sesuai Kehendak Allah

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah