Mengenal Allah yang Hadir dan Menetap
Mengenal Allah yang Hadir dan Menetap
Saudara yang terkasih, keluaran 29:43-46 menuliskan
bagaimana Allah ingin hadir, dekat, dan tinggal bersama dengan umat-Nya. Tiga
kali Allah menegaskan, “Aku akan”; Aku akan bertemu, Aku akan menguduskan, dan
Aku akan diam di tengah-tengah mereka. Ini bukan sekedar janji teologis, tetapi
pernyataan kasih dari Allah, yang ingin membangun relasi yang intim dengan
manusia.
Saudara, kita tahu bahwa di pasal-pasal sebelumnya
menuliskan bagaimana Allah menuntun bangsa Israel keluara dari tanah Mesir
dengan berbagai macam mukjizat. Kini Allah yang sama yang membelah laut, yang
menyatakan kuasa-Nya di Mesir, yang memimpin melalui tiang awan dan tiang
api—Allah itulah yang kini memilih untuk berdiam di tengah-tengah mereka.
Artinya, pengalaman masa lalu bukan hanya kenangan; itu adalah dasar untuk
memahami bahwa Allah yang dahulu menyertai, kini hadir secara nyata dan
bersekutu dengan mereka. Ia bukan Allah yang
jauh. Ia adalah Allah yang menempatkan hadirat-Nya di tengah umat, menjadi
pusat hidup dan arah perjalanan mereka. Namun ayat ini tidak hanya berbicara
kepada Israel tetapi juga bagi kita yang
percaya kepada Kristus. Melalui Kristus dan karya Roh Kudus, kehadiran Allah
kini tidak lagi terbatas pada kemah suci. Ia tinggal dalam diri setiap orang
percaya.
Allah yang saat di Perjanjian Lama bertemu di kemah suci, kini menjadikan hati kita tempat tinggal-Nya. Kita tidak mencari Allah di tempat-tempat tertentu; kita menyadari kehadiran-Nya dalam hidup kita setiap hari—dalam pekerjaan, pergumulan, relasi, dan keputusan. Allah yang dulu hadir dalam sejarah hidup kita—memberi pertolongan, menjawab doa, membuka jalan—adalah Allah yang sama yang kini menyertai kita di dalam diri kita. Untuk itu kita harus mengenal Allah kita lebih dalam lagi. Mengenal Allah dalam konteks ini bukan sekadar mengetahui tentang Dia, tetapi mengalami Dia dengan membangun hubungan yang intim dengan Allah. Relasi intim dengan Allah berarti membuka ruang bagi-Nya untuk membentuk karakter kita, menuntun langkah kita, dan berbicara kepada kita. Kadang kita melupakan hal ini. Kita hidup seolah-olah Allah hanya hadir ketika kita berdoa atau beribadah, padahal Ia berdiam di dalam kita setiap saat. Oleh karena itu, mengenal Allah berarti belajar peka terhadap kehadiran-Nya—bahwa Ia bukan hanya bergerak di masa lalu, tetapi bekerja dalam hati kita hari ini. Saudara, Keluaran 29:46 menutup dengan kalimat, “supaya mereka tahu bahwa Akulah Tuhan…” Tujuannya adalah pengenalan. Allah ingin kita mengenal Dia bukan melalui ritual kosong, tetapi melalui relasi yang hidup. Ketika kita sadar bahwa Allah tinggal dalam diri kita, iman kita menjadi lebih dari sekadar pengetahuan. Bahwa, kehadiran Allah menjadi sumber damai, arah, kekuatan, dan penghiburan.
Saudara, apakah
kita masih melihat Allah hanya sebagai penolong masa lalu? Atau kita sungguh
menyadari bahwa Ia hadir dalam hidup kita hari ini? Kiranya melalui Firman
Tuhan ini kita diingatkan untuk hidup dalam kesadaran bahwa, Tuhan adalah Allah
yang dekat, Allah yang hadir, dan Allah yang menetap dalam kehidupan kita.
Amin. (RT)

Komentar
Posting Komentar