Korban yang Mati dan Korban yang Hidup
Korban yang Mati dan Korban yang Hidup
Bacaan Alkitab : Keluaran 29:15–18
Dalam
upacara penahbisan imam di zaman Musa, Tuhan memerintahkan agar seekor domba jantan pertama disembelih dan seluruh tubuhnya dibakar di
atas mezbah. Tidak ada bagian yang disisakan semuanya dipersembahkan bagi
Tuhan, “menjadi bau yang harum di hadapan-Nya.” Domba ini disebut korban bakaran,
lambang penyerahan total kepada Allah. Setelah dosa imam dihapus
melalui korban sebelumnya, kini ia mempersembahkan dirinya sepenuhnya bagi
Tuhan melalui simbol seekor domba yang habis terbakar di mezbah. Kalau kita
lihat korban itu mati,
karena dalam sistem Perjanjian Lama, yang dipersembah-kan kepada Allah adalah
sesuatu yang dikorbankan secara fisik. Domba itu tidak lagi hidup untuk dirinya
sendiri; seluruh keberadaannya menjadi milik Tuhan.
Inilah gambaran
yang sangat kuat tentang penyerahan
diri total: tidak ada bagian yang ditahan, tidak ada
yang disisakan untuk kepentingan sendiri.
Namun, ketika
kita melangkah ke Perjanjian
Baru, Rasul Paulus memperkenalkan bentuk baru
dari korban itu. Ia berkata: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah
aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup,
yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)
Saudara, mari kita perhatikan perbedaan yang indah ini: Di Perjanjian Lama, korbannya mati; di Perjanjian Baru, korbannya hidup. Dulu yang dibakar di atas mezbah adalah hewan; sekarang yang dipersembahkan di atas mezbah rohani adalah hidup kita sendiri. Kristus telah menjadi korban yang sempurna, Ia menyerahkan diri-Nya sepenuhnya bagi Bapa, menjadi korban yang harum bagi Allah (Efesus 5:2). Karena itu, kita yang telah ditebus oleh darah-Nya tidak lagi mempersembahkan hewan, tetapi diri kita sendiri. Kita hidup, tetapi hidup itu bukan lagi untuk diri kita, melainkan bagi Tuhan yang sudah menebus kita. Menjadi “korban yang hidup” artinya setiap bagian hidup kita baik itu waktu, tenaga, pikiran, keputusan, bahkan keinginan kita diletakkan di atas mezbah Allah. Kita tidak dibakar secara fisik, tetapi ego, keinginan, dan kesenangan diri kita harus mati supaya Kristus hidup dalam kita. Seperti domba di zaman Harun yang seluruhnya menjadi milik Tuhan, demikian pula kita dipanggil untuk menjadi milik Allah sepenuhnya, hidup bagi kemuliaan-Nya.
Ketika dunia berkata, “Hidup ini milikku,” orang percaya berkata, “Hidupku adalah bagi Tuhan.” Ketika dunia mengejar kepuasan diri, orang percaya mempersembahkan diri sebagai persembahan yang hidup, kudus, dan berkenan bagi Allah. Di Perjanjian Lama, korban bakaran menandakan penyerahan total melalui kematian. Di Perjanjian Baru, Kristus telah menjadi korban itu bagi kita, dan kini Ia memanggil kita untuk menjadi korban yang hidup yaitu hidup yang setiap harinya menyala di atas mezbah kasih dan ketaatan.
Saudara, jika hidup kita diibaratkan korban bakaran, apakah seluruhnya sudah berada di atas mezbah, atau masih ada bagian yang belum kita serahkan?
Kiranya melalui
firman Tuhan ini kita dibentuk menjadi pribadi yang hidupnya sepenuhnya bagi Allah,
tidak lagi memegang kendali atas diri sendiri, tetapi rela dipersembahkan
sebagai korban yang hidup, kudus, dan berkenan kepada-Nya. Amin. (RT)

Komentar
Posting Komentar