Kehadiran Allah yang Kudus

Sabtu, 29 November 2025
Kehadiran Allah yang Kudus 
Bacaan Alkitab : Keluaran 30:6–8

Dalam Keluaran 30:6–8, Tuhan memberikan instruksi tentang letak dan fungsi mezbah ukupan. Perintah ini tampak sederhana, tetapi ketika kita memperhatikan tempat mezbah itu diletakkan di depan tabir tepat di hadapan tempat Allah menyatakan diri. Mezbah itu berada pada titik paling dekat yang dapat dicapai imam sebelum memasuki hadirat Allah yang paling kudus. Ini menunjukkan bahwa pengaturan ini bukan sekadar ritual, tetapi cara Allah mengajar umat mendekati Dia yang kudus. Allah ingin hadir di tengah umat-Nya, tetapi kehadiran-Nya tidak boleh diperlakukan biasa; kekudusan-Nya menuntut kesiapan hati. Tabir di antara ruang kudus dan ruang maha kudus menjadi pengingat bahwa Allah dekat, tetapi tetap berbeda—Ia ingin dijumpai, namun tidak bisa didekati sembarangan. Di depan tabir itulah ukupan dibakar sebagai simbol bahwa doa dan penyembahan harus lahir dari hati yang layak ketika kita mendekat kepada-Nya.

Asap ukupan yang naik setiap pagi dan petang menunjukkan bahwa kekudusan Allah membentuk ritme hidup umat-Nya. Penyembahan bukan dilakukan sesekali, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ukupan itu tidak boleh sembarang jenis; tidak boleh ada campuran “asing,” sebab Allah ingin disembah dengan hati yang murni, bukan dengan formalitas atau devosi yang dibuat-buat. Di sini kita melihat dua sisi hadirat Allah: kedekatan dan hormat. Allah menempatkan mezbah itu sedekat mungkin dengan hadirat-Nya untuk menunjukkan kerinduan-Nya kepada umat, tetapi tabir tetap mengingatkan bahwa manusia harus datang dengan hati yang disucikan. Allah yang kudus bukan Allah yang jauh, tetapi juga bukan Allah yang dapat diperlakukan tanpa rasa gentar.

Ketika kita melihat teks ini dalam terang Perjanjian Baru, kita tahu bahwa tabir itu telah terbelah oleh karya Kristus. Kita memiliki keberanian menghampiri Allah, tetapi keberanian itu tidak menghilangkan rasa hormat kita. Justru karena Kristus membuka jalan, kita semakin menghargai hak istimewa untuk mendekati Allah yang kudus. Kini kehadiran-Nya tidak hanya berada di ruang ibadah, tetapi tinggal dalam hidup kita melalui Roh Kudus. Kekudusan-Nya tetap sama—memanggil kita untuk hidup dengan kesadaran bahwa kita berjalan di hadapan-Nya.  Renungan ini mengingatkan kita bahwa kehadiran Allah yang kudus adalah realitas yang membentuk hidup sehari-hari: doa menjadi lebih sungguh, ibadah lebih tulus, langkah lebih berhati-hati, dan hati lebih terarah. Allah tidak hanya ingin disembah, tetapi disembah dengan hati yang benar. Dalam penyembahan seperti itulah kita semakin memahami kasih-Nya dan kebesaran kekudusan-Nya. Semoga setiap hari kita hidup dalam kesadaran bahwa Allah yang kudus sungguh hadir, memimpin, dan membentuk hidup kita.

Saudara, bagaimana kehadiran Allah yang kudus seharusnya memengaruhi cara kita berbicara, bekerja, menggunakan waktu, dan berelasi? Jika Allah yang kudus benar-benar hadir dalam hidup kita, maka setiap kata, pekerjaan, penggunaan waktu, dan hubungan kita seharusnya menjadi cerminan bahwa kita hidup di hadapan-Nya. Amin. (RT)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup sesuai Kehendak Allah

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah