Kehadiran Allah yang Kudus
Kehadiran Allah yang Kudus
Bacaan Alkitab : Keluaran 30:6–8
Dalam
Keluaran 30:6–8, Tuhan memberikan instruksi tentang letak dan fungsi mezbah
ukupan. Perintah ini tampak sederhana, tetapi ketika kita memperhatikan tempat
mezbah itu diletakkan di depan tabir tepat di hadapan tempat Allah menyatakan
diri. Mezbah itu berada pada titik paling dekat yang dapat dicapai imam sebelum
memasuki hadirat Allah yang paling kudus. Ini menunjukkan bahwa pengaturan ini
bukan sekadar ritual, tetapi cara Allah mengajar umat mendekati Dia yang kudus.
Allah ingin hadir di tengah umat-Nya, tetapi kehadiran-Nya tidak boleh
diperlakukan biasa; kekudusan-Nya menuntut kesiapan hati. Tabir di antara ruang
kudus dan ruang maha kudus menjadi pengingat bahwa Allah dekat, tetapi tetap
berbeda—Ia ingin dijumpai, namun tidak bisa didekati sembarangan. Di depan
tabir itulah ukupan dibakar sebagai simbol bahwa doa dan penyembahan harus
lahir dari hati yang layak ketika kita mendekat kepada-Nya.
Asap
ukupan yang naik setiap pagi dan petang menunjukkan bahwa kekudusan Allah
membentuk ritme hidup umat-Nya. Penyembahan bukan dilakukan sesekali, tetapi
menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ukupan itu tidak boleh sembarang
jenis; tidak boleh ada campuran “asing,” sebab Allah ingin disembah dengan hati
yang murni, bukan dengan formalitas atau devosi yang dibuat-buat. Di sini kita
melihat dua sisi hadirat Allah: kedekatan dan hormat. Allah menempatkan mezbah
itu sedekat mungkin dengan hadirat-Nya untuk menunjukkan kerinduan-Nya kepada
umat, tetapi tabir tetap mengingatkan bahwa manusia harus datang dengan hati
yang disucikan. Allah yang kudus bukan Allah yang jauh, tetapi juga bukan Allah
yang dapat diperlakukan tanpa rasa gentar.
Ketika
kita melihat teks ini dalam terang Perjanjian Baru, kita tahu bahwa tabir itu
telah terbelah oleh karya Kristus. Kita memiliki keberanian menghampiri Allah,
tetapi keberanian itu tidak menghilangkan rasa hormat kita. Justru karena
Kristus membuka jalan, kita semakin menghargai hak istimewa untuk mendekati
Allah yang kudus. Kini kehadiran-Nya tidak hanya berada di ruang ibadah, tetapi
tinggal dalam hidup kita melalui Roh Kudus. Kekudusan-Nya tetap sama—memanggil
kita untuk hidup dengan kesadaran bahwa kita berjalan di hadapan-Nya. Renungan ini mengingatkan kita bahwa kehadiran
Allah yang kudus adalah realitas yang membentuk hidup sehari-hari: doa menjadi
lebih sungguh, ibadah lebih tulus, langkah lebih berhati-hati, dan hati lebih
terarah. Allah tidak hanya ingin disembah, tetapi disembah dengan hati yang
benar. Dalam penyembahan seperti itulah kita semakin memahami kasih-Nya dan
kebesaran kekudusan-Nya. Semoga setiap hari kita hidup dalam kesadaran bahwa
Allah yang kudus sungguh hadir, memimpin, dan membentuk hidup kita.
Saudara, bagaimana
kehadiran Allah yang kudus seharusnya memengaruhi cara kita berbicara, bekerja,
menggunakan waktu, dan berelasi? Jika Allah yang kudus benar-benar hadir dalam
hidup kita, maka setiap kata, pekerjaan, penggunaan waktu, dan hubungan kita seharusnya
menjadi cerminan bahwa kita hidup di hadapan-Nya. Amin. (RT)

Komentar
Posting Komentar