Dupa yang Harum

Rabu, 26 November 2025
Dupa yang Harum 
Bacaan Alkitab : Keluaran 29:41-42


          Dalam  bagian ayat 41-42 dituliskan kehendak Allah berkaitan dengan persembahan kurban bakaran harian yaitu : pertama, kurban bakaran menjadi suatu persembahan yang harum di hadapan Tuhan. Kalimat ini merupakan kalimat kiasan  yang menunjuk pada perkenanan Allah atas persembahan yang dibakar umat-Nya di hadapan-Nya. Kedua, penetapan tujuan awal Allah berkaitan dengan persembahan harian yaitu janji Allah untuk bertemu dengan umat-Nya setiap hari. Dari dua hal di atas kita dapat melihat bahwa kesetiaan umat dalam mempersembahkan kurban bakaran harian seharusnya menjadi “dupa yang harum” bagi Allah sehingga Ia akan senantiasa hadir dan tinggal bersama dengan-Nya.

          Saudara, melalui kelanjutan perikop tentang persembahan pagi dan sore ini kita dapat melihat bahwa inti dari suatu ibadah adalah “dupa yang harum.” Artinya dalam ibadah, persembahan yang harum akan menjadikan Allah berkenan untuk hadir di antara kita. Persembahan bukan hanya berkaitan dengan korban bakaran, sajian, dll tetapi juga seluruh kehidupan kita termasuk sikap hati saat datang beribadah, perilaku yang sesuai dengan Firman Tuhan, kesediaan untuk dibentuk menjadi serupa dengan-Nya dalam setiap aspek kehidupan kita.

Saudara saat ini, mungkin kita sudah menjadikan aktivitas rohani sebagai bagian dalam rutinitas kita dan melupakan “apa yang berkenan kepada Allah?” Sehingga mungkin saja kita datang ke gereja setiap minggu, tidak terlambat saat beribadah, melayani dengan setia tetapi melupakan apa yang menyenangkan bagi Allah. Persembahan bukan hanya korban bakaran saja tetapi seluruh kehidupan kita. Hidup akan menjadi “dupa yang harum” jika seluruh tindakan berasal dari respons hati kita terhadap kasih Allah. Sebab dalam persekutuan dengan Allah, perkenanan Allah dapat kita beroleh jika kita mengasihi-Nya dengan sepenuh hati dan akal budi. Dengan demikian, apa pun yang kita perbuat baik dalam keluarga, pekerjaan, gereja adalah karena kita mengasihi Allah dan bukan sebagai sarana pemuasan diri semata.

Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Kapan terakhir kali kita bertanya kepada Tuhan, “apakah persembahanku menyenangkan hati-Mu? Mari koreksi kembali seluruh keberadaan diri kita di hadapan Tuhan dan mintalah Ia memurnikan hati dan kehidupan kita. Sehingga, kita dapat selalu menyenangkan hati-Nya senantiasa.(TH)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup sesuai Kehendak Allah

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah