Doa Yang Naik Seperti Ukupan
Doa Yang Naik Seperti Ukupan
Keluaran 30:1–5 membawa kita melihat sebuah mezbah kecil di dalam Kemah Suci—mezbah ukupan. Meski ukurannya kecil, posisinya berada tepat di depan tabir, sangat dekat dengan hadirat Allah. Di tempat inilah imam membakar dupa kudus setiap hari, dan asapnya naik sebagai lambang doa umat (Mzm. 141:2). Bahkan dalam Wahyu 5:8, ukupan kembali disebut sebagai “doa-doa orang kudus.” Mezbah itu terbuat dari kayu akasia—kayu yang bahkan gurun pun tak mampu menghabiskannya. Kuat, tahan lama, tidak gampang lapuk. Namun yang paling menarik adalah lapisannya: emas murni yang disapukan dari ujung ke ujung, dari bagian atas sampai cincin-cincinnya. Bila cahaya pelita mengenai emas itu, kilauannya seperti hidup, seperti memantulkan kemuliaan Dia yang duduk di atas takhta.
Pada empat
sudut mezbah itu, terdapat tanduk-tanduk kecil, juga dilapisi emas.
Tanduk—simbol perlindungan, tempat orang berlari mencari keselamatan, tanda
kuasa dan otoritas. Setiap kali imam melihatnya, mereka diingatkan bahwa doa
bukanlah tindakan kosong. Doa memiliki otoritas yang Tuhan sendiri tetapkan.
Doa dapat membelah laut Musa—bukan karena suara manusia, tetapi karena kuasa
Allah yang menyertainya. Asap itu adalah sebuah gambaran doa. Itulah mengapa
para penafsir berkata, “Dupa hanyalah simbol, doa-lah yang memiliki makna.” Dan
dalam tradisi kuno, ketika imam menaikkan asap itu, mereka melafalkan Tefilla
Qetoreth—doa yang mengiringi ukupan. Doa itu bukan sekadar kata-kata. Ia adalah
keheningan yang membawa hati manusia ke hadapan Allah. Ia adalah napas iman.
Walaupun
mezbah itu kecil, ia berada paling dekat dengan hadirat Allah. Tidak seperti
mezbah besar di pelataran, yang terlihat oleh semua orang, mezbah ukupan berada
di tempat yang hanya boleh dimasuki oleh imam. Di sisi mezbah, terdapat
cincin-cincin emas dengan kayu pengusung. Mengapa sebuah mezbah doa harus punya
pegangan? Karena Tuhan tahu: kehidupan Israel adalah perjalanan. Mereka harus
berpindah-pindah, dari tenda ke tenda, dari padang gurun yang kering ke padang
yang tak berair. Dalam semua itu, doa tidak boleh ditinggalkan. Di dalam Wahyu
5:8, gambaran ini muncul kembali. Di hadapan takhta Allah di surga, para
tua-tua memegang cawan emas penuh ukupan, dan Alkitab berkata, “itulah doa-doa
orang kudus.” Seolah Tuhan ingin menunjukkan bahwa doa itu berkelanjutan—dari
padang gurun Israel hingga kemuliaan kekal.
Mezbah ukupan mengingatkan kita bahwa doa bukan sekadar aktivitas rohani, tetapi hubungan yang membawa kita mendekat kepada hadirat Allah. Asap ukupan yang naik setiap hari menggambarkan bahwa doa adalah sesuatu yang harus terus hadir dalam hidup kita—kudus, setia, dan selalu diarahkan kepada Tuhan. Sama seperti Israel membawa mezbah itu ke mana pun mereka pergi, demikian pula kita dipanggil untuk membawa kehidupan doa dalam setiap musim hidup. Biarlah kiranya melalui Doa kita, sekecil apa pun, tetap menjadi aroma yang berkenan di hadapan Tuhan.
Saudara,
apakah doa sudah menjadi bagian tetap dalam perjalanan hidup saya atau hanya
sebagai pelengkap hidup saya? Biarlah kiranya melalui Doa kita, sekecil apa pun, tetap
menjadi aroma yang berkenan di hadapan Tuhan.

Komentar
Posting Komentar