Nama Kita di Hati Sang Imam Besar

Jumat, 28 Oktober 2025
Nama Kita di Hati Sang Imam Besar 
Bacaan Alkitab : Keluaran 28: 9-11

Harun, imam besar, yang bersiap memasuki tempat kudus untuk mewakili bangsa di hadapan Tuhan. Pada bahunya tergantung dua permata krisopras, berkilau di bawah cahaya matahari padang gurun. Di atas kedua batu itu terukir dua belas nama — nama anak-anak Israel. Nama mereka sendiri. Ketika umat memandang Harun, mereka tidak hanya melihat manusia berpakaian megah, tetapi melihat keterwakilan mereka di hadapan Tuhan. Setiap nama diukir, bukan ditulis sementara. Itu artinya: Mereka tidak dilupakan, Mereka dibawa masuk ke hadirat Allah, Mereka ditanggung di pundak imam besar, lambang tanggung jawab dan beban kasih.

Namun di balik keindahan itu, ada peringatan halus bagi umat Tuhan. Setiap kali mereka melihat Harun mengenakan batu-batu bertulis nama itu, mereka diingatkan: bahwa hidup mereka bukan milik mereka sendiri. Mereka adalah umat pilihan yang telah ditebus dan dikuduskan untuk hidup bagi Allah. Nama yang terukir di bahu imam besar berarti tanggung jawab bahwa mereka harus tetap hidup sesuai dengan panggilan kudus mereka. Jangan sampai nama yang dibawa di hadapan Allah menjadi nama yang mencemarkan kekudusan Tuhan.

Semua ini menunjuk pada Yesus Kristus, Imam Besar Agung kita. Jika Harun hanya membawa nama umat di atas bahunya, maka Yesus membawa kita di dalam hati-Nya dan di dalam tubuh-Nya sendiri di kayu salib. Di pundak Harun ada dua batu di pundak Yesus ada salib. Harun mengingat nama umat Israel tetapi Tuhan Yesus mengingat nama kita satu per satu, umat tebusan dari segala bangsa.

Kristus adalah Imam Besar Agung yang tidak seperti Harun. Ia tidak perlu mempersembahkan korban untuk dosa-Nya sendiri, karena Ia tidak berdosa. Ia adalah perwakilan yang sempurna, kudus, dan murni. Ketika Harun mati, seorang imam baru harus menggantikannya. Ketika Yesus mati, Ia bangkit, dan imamat-Nya tidak dapat beralih kepada orang lain. Ia hidup selamanya, yang berarti Ia juga sanggup menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah, sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. Inilah puncak dari segala keterwakilan: Kita tidak lagi hanya dibawa di bahu seorang manusia berdosa. Kita kini aman, tertanam dalam kuasa dan kasih Imam Besar Ilahi. Ketika kita memandang Kristus, kita melihat lebih dari sekadar imam, kita melihat perwakilan kita di hadapan Allah yang kudus. Kita melihat kasih yang mengukir nama kita, bukan di batu, tapi di tangan yang tertusuk.

Saudara, Jika Yesus telah membawa kita di hati-Nya, adakah kita juga menaruh Dia di hati kita setiap hari? Kiranya Tuhan Yesus yang adalah Imam Besar kita, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri Takhta Kasih Karunia. Beban Anda, dosa Anda, nama Anda telah dibawa dan ditopang oleh Bahu yang Sempurna. (FS)

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup sesuai Kehendak Allah

Menghormati Allah dalam Penderitaan

Pengalaman Rohani Bersama Allah