Nama Kita di Hati Sang Imam Besar
Nama Kita di Hati Sang Imam Besar
Harun,
imam besar, yang bersiap memasuki tempat kudus untuk mewakili bangsa di hadapan
Tuhan. Pada bahunya tergantung dua permata krisopras, berkilau di bawah cahaya
matahari padang gurun. Di atas kedua batu itu terukir dua belas nama — nama
anak-anak Israel. Nama mereka sendiri. Ketika umat memandang Harun, mereka
tidak hanya melihat manusia berpakaian megah, tetapi melihat keterwakilan mereka di hadapan Tuhan. Setiap nama diukir,
bukan ditulis sementara. Itu artinya: Mereka tidak dilupakan, Mereka dibawa masuk
ke hadirat Allah, Mereka ditanggung di pundak imam besar, lambang tanggung
jawab dan beban kasih.
Namun
di balik keindahan itu, ada peringatan
halus bagi umat Tuhan. Setiap kali mereka melihat Harun mengenakan
batu-batu bertulis nama itu, mereka diingatkan: bahwa hidup mereka bukan milik
mereka sendiri. Mereka adalah umat pilihan yang telah ditebus dan dikuduskan
untuk hidup bagi Allah. Nama yang terukir di bahu imam besar berarti tanggung
jawab bahwa mereka harus tetap hidup sesuai dengan panggilan kudus mereka.
Jangan sampai nama yang dibawa di hadapan Allah menjadi nama yang mencemarkan
kekudusan Tuhan.
Semua
ini menunjuk pada Yesus Kristus,
Imam Besar Agung kita. Jika Harun hanya membawa nama umat di atas bahunya, maka
Yesus membawa kita di dalam hati-Nya
dan di dalam tubuh-Nya sendiri di kayu salib. Di pundak Harun ada dua
batu di pundak Yesus ada salib. Harun mengingat nama umat Israel tetapi Tuhan
Yesus mengingat nama kita satu per satu, umat tebusan dari segala bangsa.
Kristus
adalah Imam Besar Agung yang tidak
seperti Harun. Ia tidak perlu mempersembahkan korban untuk dosa-Nya sendiri,
karena Ia tidak berdosa. Ia
adalah perwakilan yang sempurna, kudus, dan murni. Ketika Harun mati, seorang
imam baru harus menggantikannya. Ketika Yesus mati, Ia bangkit, dan imamat-Nya
tidak dapat beralih kepada orang lain. Ia hidup selamanya, yang berarti
Ia juga sanggup menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang
kepada Allah, sebab Ia hidup senantiasa
untuk menjadi Pengantara mereka. Inilah puncak dari segala keterwakilan:
Kita tidak lagi hanya dibawa di bahu seorang manusia berdosa. Kita kini aman, tertanam dalam kuasa dan kasih Imam Besar
Ilahi. Ketika kita memandang Kristus, kita melihat lebih dari
sekadar imam, kita melihat perwakilan
kita di hadapan Allah yang kudus. Kita melihat kasih yang mengukir nama
kita, bukan di batu, tapi di tangan
yang tertusuk.
Saudara, Jika Yesus telah membawa kita di hati-Nya, adakah
kita juga menaruh Dia di hati kita setiap hari?
Kiranya Tuhan Yesus yang adalah Imam Besar kita, marilah kita dengan penuh
keberanian menghampiri Takhta Kasih Karunia. Beban Anda, dosa Anda, nama Anda
telah dibawa dan ditopang oleh Bahu yang Sempurna. (FS)

Komentar
Posting Komentar